Pesantren sebagai Salah Satu Media Mendewasakan Santri

1
56

“Pesantren ini milik umat, bukan milik saya, siapa saja bisa memimpin pesantren ini”.

Hal lain yang sering beliau tuturkan adalah ungkapan ini. Pernyataan tersebut kerap dilempar kepada para santri yang sedang mengikuti pengajian kitab maupun halaqah subuh. Sebagai proses pengkonkritan ungkapan diatas, banyak trik-trik cerdas yang beliau pakai agar para santri mapan dari segi spiritual, intelektual, sekaligus aktualisasinya di masyarakat. Terkait hal spiritual, Abah Mudlor meminta para santri membiasakan diri menjadi imam sholat dan beliau sendiri menjadi ma’mum. Tiap hari Jum’at, Abah Mudlor meminta bilal, khotib, sekaligus imam sholat jum’at bergilir dari para santri. Khotib dan imam umumnya ditunjuk santri senior yang fasih bacaannya sekaligus luas pengetahuan agamanya. Untuk acara rutin mingguan, diadakan maulid diba‘ dan barzanji yang diadakan secara berseling tiap minggu malam. Acara ini diikuti santri putra dan putri, santri putri berada di aula sedangkan putra berada di masjid. Pembacaan dilakukan bergilir putra-putri dengan diiringi rebana. Ada pula kegiatan tahlil serta pembacaan manaqib Syaikh Abdu al-Qadir Jailani. Untuk putri, pembacaan manaqib serta tahlil berlangsung bergilir dua minggu sekali setiap malam Jum’at. Semua petugas berasal dari santri putri yang digilir tiap kali acara. Dua Jum’at kosong di sela-selanya diisi bacaan tahlil santri putra. Setiap Jum’at Legi diadakan khotmil Qur’an selain tiap harinya diadakan tadarus.

“Biar pesantrennya ga seperti kuburan”. Itulah tanggapan pengasuh seputar tadarus yang diadakan tiap hari.

Agar tidak hanya mahir berwirid, Abah Mudlor menginisiasi halaqah sebagai penyeimbang spiritualitas para santri. Beliau memanfaatkan momen halaqah sebagai upaya mengoptimalkan intelektualitas santri. Baik dalam hal menulis yang terlihat melalui paper halaqah maupun kecerdasan tutur lisan yang tampak melalui cara menyampaikan paper di tengah-tengah audiens yang juga santriwan-santriwati Pesantren Luhur Malang. Di atas podium, para santri harus lihai mengontrol adrenalin dengan sebaik-baik persiapan. Mutlak kemampuan berkomunikasi diperlukan oleh seorang pemimpin. Komunikasi itu bisa dalam bentuk tulis maupun lisan. Disela-selanya, ada satu hal penting yang harus diperhatikan yaitu gesture serta penguasaan audiens. Seperti beberapa interupsi yang sering disampaikan Abah Mudlor, “halaqah itu penting!”, kalau bicara itu ditanya, kira-kira pendengar mengerti atau tidak. Kalau bicara juga disetel dulu suaranya, apakah suara saya “ngik-ngik” atau tidak. Paper kok tidak ada referensinya, bikin paper lima lembar kok bicaranya cuma tiga menit. Ini kok sama antara penceramah pertama dan kedua, pasti ini nyontek”. Belum lagi seabrek interupsi saat ceramah berlangsung disebabkan isi ceramah tidak sinkron.

Masukan yang seringkali terdengar sebagai kritik pedas di telinga penceramah sejatinya adalah obat yang bisa menghalangi seseorang untuk tidak gagal dalam menjadi pribadi mandiri dan muncul sebagai sosok pemimpin. Menjadi pribadi yang berada di barisan terdepan setidaknya detail-detail yang terlihat. pengikutnya harus tampak sempurna. Bagaimana bisa seorang pemimpin gagap bertutur sulit menuangkan ide dalam tulisan, pemalu dan sedikit-sedikit nervous menghadapi orang. Itu adalah hal terpenting yang secara tidak langsung terbahasakan dengan cara yang dipakai Abah Mudlor.

Seseorang tidak bisa dikata ‘alim kecuali tampak pengaruh ilmunya kepada kaumnya. Aspek lain yang harus dioptimalkan yaitu pengaktualisasian ilmu yang dimiliki si empunya dalam masyarakat. Para santri tidak hanya “dicekoki” pengetahuan terus-menerus lalu mengendapkannya dalam otak atau sekedar menerapkannya secara pribadi dalam kegiatan sehari-hari. Hal yang juga krusial adalah meleburkan diri secara langsung dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Misal, mengirim delegasi mengampu pengajian di TPQ sekitar pesantren, meminta santri mengikuti khotmil Qur’an sekaligus jama’ah tahlil di penduduk setempat, takziyah, walimatul khitan, walimatul ‘ursy, dan banyak lagi acara hajatan lain. Ini yang kemudian tidak membuat para santri unggul di kandang sendiri. Barokah ilmunya juga dirasakan penduduk sekitar dan harapannya akan diketahui dan dikenal dengan baik oleh komunitas yang lebih besar.

editor: Tim Multimedia

Sumber: buku Mujtahid Mujaddid Mujahid karya Lia Sholicha, S. S