Prof. Dr. Kyai H. Achmad Mudlor, SH. (1937-2013 M)

1
3133

Abah Mudlor, begitulah para santri akrab menyapa sosok guru spiritual dan intelektual mereka dalam mengarungi samudra ilmu. Beliau yang bernama lengkap Prof Dr. Kyai H. Achmad Mudlor, SH. putra dari pasangan H. Muchdlor dan Hj. Nasiyah yang merupakan salah satu keluarga yang berpengaruh, di Desa  Kauman, Babat, Lamongan.

Dari pasangan suami istri tersebut lahir sepuluh putra dengan ragam keinginan dan prestasi yang memberi sumbangsih positif, baik bagi keluarga maupun masyarakat. Putra pertamanya H. Khozin, anak sulung yang berprofesi seperti ayahnya (pedagang bahan-bahan tekstil). Putra ketiganya adalah H. Hasan, lalu Anas yang pernah kuliah di IAIN Sunan Ampel Malang (sekarang UIN Maliki Malang) dan menjadi mahasiswa Abah Mudlor. Pasangan suami istri tersebut juga melahirkan sosok pejuang bangsa, yakni H. Faqih yang mengantongi profesi sebagai tentara, di zaman Agresi Militer Blanda dua. Abah Mudlor sendiri merupakan anak keenam yang memiliki magnet ilmu dengan daya tarik terkuat diantara sepuluh saudaranya. Sedangkan, satu-satunya putri bungsu keluarga H. Muchdlor adalah Amanah, anak dari sepuluh bersaudara. yang memiliki bakat masak Yang khas diwarisi dari ibunya. Hingga saat ini, si bungsu inilah yang menempati kediaman orang tuanya sepeninggal mereka.

Perjuangan keluaga ini beragam sekali wujudnya, mulai dari mendirikan madrasah At-Tahdzibiyah dan Madrasah Bintang Sembilan, mendirikan koperasi, memimpin jama’ah tahlil, manaqib, dan juga kematian. Ghirroh berjuang tersebut mulai tertanam pada salah satu putra mereka, Abah Mudlor. Beliau salah seorang aplikator Fighting Spirit yang amat konsisten dengan tujuan utamanya (Uluwwul Himmah) dalam rangka berjuang  li i’lai kalimatillah. Energi hidup dengan fokus orientasi  memberi manfaat pada orang lain, bukan semata terperangkap ego mengembangkan kemakmuran pribadi inilah yang tertancap dalam sanubari Abah Mudlor. Untuk mencapai cita-cita agungnya, Abah Mudlor memiliki satu semboyan yang ‘didengungkan dengan ungkapan Hum Rijaalun Nahnu Rijaalun (mereka lelaki kita juga lelaki).

Abah Mudlor memiliki satu semboyan yang ‘didengungkan dengan ungkapan Hum Rijaalun Nahnu Rijaalun (mereka lelaki kita juga lelaki)

Motto hidup bernafaskan perjuangan menyelimuti diri sang inspirator yang senantiasa semangat meningkatkan kualitas keilmuannya ini. Ungkapan yang mewakili batin beliau “Jangan takut mati karena belum makan dan minum tapi takutlah mati karena tidak berjuang” Sudah menjadi hukum alam bahwa manifestasi kecintaan manusia untuk berjuang demi manusia lain akan mencetuskan kepribadian’yang mulia sebab itu melambangkan keeintaanya pada Tuhannya sehingga lahirlah cinta itu pada sekeliat manusia. Begitu juga yang dialami oleh Abah Mudlor, karena kegigihannya dalam berjuang inilah beliau menjadi salah seorang yang dianggap mampu menjadi penasehat spiritual dan intelektual muslim terkemuka.

Hal tersebut membuat Abah Mudlor merasa cocok dengan salah satu bait dalam kitab Ta’liimul Mutaallim yang cukup mewarnai keseharian Abah Mudlor semasa hidupnya “Likulli yaumin ziyadatan minal ilmi washbah fi buhuuril fawaidi, (tiap hari bertambah ilmu dan bergelimang dalam lautan yang berfaedah). Motto tersebut disempumakan dengan bait Talimul Muta’allim yang lain, “Bijiddin Laa Bijiddin Kullu Majdin Fahal Jaddun Bilaa Jiddin Bimujdi”. (segala sesuatu bisa dicapai dengan semangat, kemampuan dan juga kearifan Tuhan). Semboyan yang sangat aplikatif diterapkan disetiap Iini kehidupan, sebab terdapat dua hal yang saling bersinergi antara ikhtiar sekaligus doa sebagai manifestasi harapan akan kemurahan Tuhan pengabul cita. Tak heran jika, buku menjadi teman setia Abah Mudlor, sebuah pembekuan realita  dalam bentuk tulisan jika diurai akan memancing imaginasi aktif pembaca dalam mengkonstruksi kejadian berdasar sudut Pandang serta pengalaman masing-masing.

Memasuki usia Sembilan tahun, tepatnya ketika duduk di kelas III MI, Abah Mudlor tertarik untuk melakukan perjalanan spiritual di pesantren Sawahan, Babat. Selama tiga tahun, sejak tahun 1948 sampai 1951, Abah Mudlor mengabdi pada Kyai Mudloffar. Meski disibukkan dengan kepentingan intelektual, beliau tidak menafikkan bakat seni yang dimiliki. Hampir semasa penambahan namanya yang semasa kecil bernama Ahmad sekarang menjadi Achmad Mudlor, beliau menginisiasi terbentuknya orkes sederhana Bunga Tanjung bersama kelima personel lainnya. Dalam setiap pementasan, Abah Mudlor dinobatkan sebagai pemegang kendali yakni MC dan juga memegang arkodion. Aktivitas ini beliau lakukan semenjak dinyatakan lulus dari MI At-Tandzibiyah tepat tanggal 1 Januari 1950.

Setelah tamat MI At-Tandzibiyah, Abah Mudlor melanjutkan sekolah di SGAI Bojonegoro selama tiga tahun dan satu tahun setelahnya. berada di bawah naungan sekolah Muhammadiyah untuk pengabdian. Disaat sekolah inilah, Abah Mudlor sekaligus menuntut ilmu di Pesantren Kendal, Dander, Bojonegoro di bawah asuhan Kyai Abu Dzar. Setelah belajar pada Kyai Abu Dzar, beliau melanjutkan perjalanan spiritualnya ke Pesantren Langitan, Widang, Tuban. Pada tahun 1954, Abah Mudlor termotivasi melanjutkan sekolah di SMA C Semarang Jurusan Ekonomi Sosial, sebab darah dagang yang dimilikinya. Beliau belajar disekolah ini selama dua tahun, semasa sekolah beliau tinggal di kediaman Kyai NU Semarang, Kyai Kholiq yang masih berhubungan kerabat jauh dengan Abah Mudlor, tepatnya tinggal di masjid dekat kediammanya. Hingga pada tahun 1955, Abah Mudlor selesai belajar di Semarang dan kembali intens di pesantrennya semula, Langitan.

H. Muchdlor, ayah Abah Mudlor, meminta kesediaan pengasuh secara personal agar putranya diberi kesempatan menjadi ustadz di Madrasah Ibtidaiyah Langitan. Melalui negosiasi itu, Abah Mudlor diberi wewenang untuk mengampu kelas 4, 5, dan 6 MI Falahiyah Langitan.

Hal positif lain yang dilakukan abah Mudlor di Langitan adalah berinisiatif mendirikan forum halaqoh. Adapun isi daripadanya adalah multi disiplin ilmu yang cakupannya antara lain tasawuf filsafat, pembahasan hukum hingga ekonomi, serta kimia dan beragam disiplin ilmu lain. Dengan demikian, pembendaharaan ilmu yang diperoleh semakin banyak dan terbentuk sikap ilmiah pada diri santri.

Setelah membaca riwayat filsuf Imam Al-Hakim At-Tirmidzi, Abah Mudlor tergelitik untuk terus memperbanyak guru. Abah Mudlor memiliki cara tercepat untuk mendapatkan ilmu. Di Pesantren asuhan Kyai H. Ali Maksum, awalnya beliau mendekati kyai-kyai kecil. Setelah akrab, para kyai diminta membacakan kitab untuknya dengan imbalan bisyaroh sekadarnya. Hampir empat kitab selasai dipelajari dalam waktu satu minggu. Selain itu, Abah Mudlor juga mempelajari bermacam hizib di Pesantren yang diasuh oleh Syiekh Muhammad Idris, Cirebo.

Saat berada di Pesantren Langitan, Abah Mudlor bertemu dengan Sayyid Muhammad Al-Jufri. Setelah Abah Mudlor pergi meminta bantuan pembangunan pesantren ke Semen Gresik bersama Sayyin Muhammad Al-Jufri, Sayyid Muhammad Al-Jufri memberikan pilihan tiga tempat untuk berjuang, yaitu Semarang, Jogjakarta, atau Malang. Kejadian inilah titik tolak perjuangan Abah Mudlor di Malang.

Saat akan pergi ke Malang, Abah Mudlor diberikan selembar surat oleh ayahnya, H. Muchdlor, yang ditujukan kepada Kyai H. Abdur Rahim. Beliau adalah Ro’is Am Syuriyah NU Kodya Malang. Kemudian Abah Mudlor dikenalkan dengan Rektor UNNU yaitu Prof. Dr. Moch. Koesnoe dan diangkat sebagai wakil staf Tata Usaha (TU). Begitu banyak pengalaman yang dilalui Abah Mudlor diwaktu muda, bermula dari kegigihan Abah Mudlor saat menjadi asisten Prof. Dr. Moch. Koesnoe sekaligus sebagai wakil staf Tata Usaha IAIN sebab berhasil lolos tahap propedous saat endapat kesempatan menempuh ujian pendidikan doktoral (dengan tahap Propedous, Candidat, Bakaloriat Doktoral I dan Doktoral II) tanpa harus mengikuti sistem perkuliahan. Prof. Dr. Moch. Koesnoe kembali menawari beliau mengikuti ujian tingkat lanjut yang diadakan APAI (Akademi Pendidikan Agama Islam), ujian kandidat dengan spesifikasi ujian yang sama yaitu filsafat umum. Abah Mudlor pun kembali lulus ujian kandidat pada tahun 1962.

Gambar: Ke-NU-an Kyai H. Achmad Mudlor langsung rekomendasi Kyai H. Wahab Hasbullah

Bersamaan dengan kelulusannya, Abah Mudlor diamanahi dua tanggung jawab sekaligus yang sangat prestisius. Beliau dipilih sebagai Bi’tsatul Hajj oleh Departemen Agama Pusat serta ditunjuk untuk mengembang misi misionaris Islam di Gunung Agung Pulau Dewata Bali. Diwaktu menjalankan tugas sebagai Bi’tsatul Hajj, beliau mendapat amanah tambahan dari Ketua Fakultas Tarbiyah Wa Ta’lim UNNU Malang untuk observasi di Perpustakaan Al-Jai’atul Islamiyah di Madinah yang lokasinya seluas Kampus UIN Malang, tujuannya adalah mengetahui secara kasat mata kondisi lapang perpusataak tersebut. Tak heran jika pada 1963 Abah Mudlor dinyatakan lulus ujian Bakaliorat dari Fakultas Tarbiyah Wa Ta’lim UNNU Malang. Pada tahun 1966 Abah Mudlor kembali dipercaya mengemban amanah P3H (Panitia Perbaikan Perjalanan Haji) ke Tanah Haram sebab dinilai cukup responsibel.

Semenjak dinyatakan lulus, Abah Mudlor diamanahi menjadi utusan rektor untuk mendatangi kegiatan tertentu saat rektor berhalangan hadir serta menjadi asisten dosen Sholeh Waqi’ dalam mengampu mata kuliah balaghoh. Tiga tahun setelah lulus ujian, Abah Mudlor kembali mendapat tawaran dari Prof. Dr. Moch. Koesnoe untuk mengikuti ujian selanjutnya. Akhirnya, ujian doktoral I dan II berlangsung selama beliau menjadi asisten dosen di IAIN.

Kapabilitas Intelektual Abah Mudlor yang telah teruji ini menggelitik rektor IAIN Surabaya (Abdul Jabar) untuk menobatkan beliau sebagai guru besar filsafat pendidikan IAIN. Untuk mencapai gelar tersebut, harus menempuh ujian penyetaraan setaraf doktor dengan mengajukan satu judul disertasi. Pada tahun kurang dari sama dengan 2000, tidak perlu perkuliahan untuk menyabet gelar doktor, cukup menulis karya ilmiah setaraf dotor seperti yang dilakukan Abah Mudlor. Kedatangan Prof. Dr. Moch Koesno memberikan titik terang, rektor UNNU ini menyarankan dua judul untuk disertasi Abah Mudlor “Riset Ronggowarsito adalah Pemimpin Thariqat di Tanah Jawa”, sedangkan judul kedua “Analisis Transendental Tentang Eksistensi Jin Menurut Al-Qur’an dan Pengaruhnya Terhadap SDM.” Setelah berbincang-bincang lama dengan Prof. Koesnoe, akhirnya Abah Mudlor mengambil tema kedua untuk disertasinya dengan alasan tema kedua hanya memakai studi literatur, sedangkan jika memilih judul pertama haru melakukan research lapangan.

Dalam tempo yang cukup singkat, proposal telah selesai dibuat, setelah mendapat acc dari pihak kampus maka diajukan ke IAIN Surabaya sebagai Universitas yang ada di ibu kota provinsi. Tahap selanjutnya, beliau pergi ke Jakarta menemui tim guru besar Departemen Agama, AIMS. Proposal ditujukan pada tim penyeleksi karya ilmiah. Setelah membaca judul proposal, pihak AIMS menolak judul tersebut dengan alasan justifikatif. Menurut mereka, analisis transendental tidak memiliki metode penelitian. Dibalik semua itu, ada alasan yang paling fundamental, yakni konflik aliran. Anggota AIMS yang didominasi faham hanafiah hampir semuanya mengetahui bahwa Abah Mudlor merupakan tokoh berpengaruh di IAIN pada masanya. Dengan menyetujui proposal itu, sama halnya dengan menopang popularitas Abah Mudlor sebagai tokoh NU.

Abah Mudlor kembali ke Malang dengan rasa kecewa, begitupula Prof. Dr. Moch. Koesnoe. Akhirnya Prof. Koesnoe menghubungi salah satu temannya di Univeritas Leiden Belandan – Presiden Hardvard International University, Harris Robert. Cabang universitas ini dibuka di Jakarta dan Singapura. Akhirnya Prof. Koesnoe meminta agar Universitas Hardvard bersedia menguji disertasi yang diajukan Abah Mudlor. Prof. Koesnoe menegaskan bahwa bukan esensi jin yang diteliti melainkan relasi keberadaan jin dan pengaruhnya terhadap sumberdaya manusia, akhirnya merekapun menyetujuinya.

Pembahasan yang radikal, sistematis, dan logis dipaparkan Abah Mudlor dengan gaya tulisan yang gamblang. Beliau tidak lagi mengharap AIMS untuk menguji disertasinya. Didepan Punggawa Harvard International University, Abah Mudlor memaparkan disertasinya dengan gaya tutur yang confidence dan dinyatakan lulus dengan gelar Doktor pada 10 Desember 2000. Sertifikat kelulusan tercatat dilayangkan dari San Fransisco, California, United Stade of Amerika.

Abah Mudlor memaparkan disertasinya dengan gaya tutur yang confidence dan dinyatakan lulus dengan gelar Doktor pada 10 Desember 2000. Sertifikat kelulusan tercatat dilayangkan dari San Fransisco, California, United Stade of Amerika.

Begitupula dengan gelar profesor, pada tahun kurang dari sama dengan 2000, untuk mendapat gelar profesor tidak perlu mengikuti ujian secara tertulis, namun cukup mengarang pidato ilmiah yang diorasikan didepan penguji. Abah Mudlor mengarang pidato pengukuhan berjudul “Orientasi Berpikir dalam Ilmu Pengetahuan”. Isi pidato yang memberikan sumbangsih terhadap wilayah intelektual itu dipaparkan didepan dewan penguji di Taman Mini Indonesia Indah. Bersamaan dengan adanya Abah Mudlor telah dikukuhkan sebagai guru besar filsafat di American Institude of Management Studies.

Darah perjuangan yang mengalir  dalam, diri Abah Mudlor ini terus mengalir hingga akhir hayatnya. Salah satu amanah besar yang beliau emban sejak diterbitkannya SK Mendiknas No. 146/0/0/2000 yang terbit.pada tanggal 10 Agustus 2000 berisi tentang peresmian Universitas Islam Lamongan yang sudah kali ketiga berada dibawah tumpuk kepemimpinan Prof.Dr. Kyai H. Achmad Mudlor, SH. Semenjak menjabat sebagai rektor hingga akhir usia beliau, UNISLA mengalami perkembangan pesat dibawah kepemimpinan beliau. Melejitnya UNISLA yang telah masukperiode ketiga sepanjang kepengurusan rektor yang sama ini tak Luput dari keistiqomahan beliau  dalam berjuang  yang tak henti-hentinya melakukan kebaikan tanpa tendensi apa-apa, apalagi keuntungan finansial sebagai alasan perjuangan.

Prof. Dr. Kyai H. Achmad Mudlor S. adalah seorang pejuang bersama Prof. Dr. Moch. Khoesnoe beliau mendirikan IAIN Sunan Ampel Malang atau yang sekarang lebih dikenal dengan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Oleh usul menteri  agama, berdirinya IAIN Sunan Ampel Malang ini di pelopori UNNU (sekarang UNISMA) dan Pesantren Luhur. Sehingga dalam pembangunan dan perkembangan IAIN Sunan Ampel Malang ini melibatkan UNNU dan Pesantren Luhur.

Prof. Dr. Kyai H. Achmad Mudlor S. adalah seorang pejuang bersama Prof. Dr. Moch. Khoesnoe beliau mendirikan IAIN Sunan Ampel Malang atau yang sekarang lebih dikenal dengan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

UNNU telah berdiri kurang lebih tiga tahun sebelum IAIN Sunan Ampel Malang, di dalamnya terdiri dari tiga konsentrasi yaitu Akademik Pendidikan Agama Islam (APAI), Hukum, Ekonomi dan sosial kemasyarakatan. Sehingga dari tiga konsentrasi jurusan di UNNU yang mata kuliahnya relevan dengan IAIN adalah Akademik Pendidikan  Agama Islam (APAI). Agar sinkron APAI diubah menjadi FTT (Fakultas Tarbiyah wa Ta’lim)

Selain mempelopori berdirinya IAIN Sunan Ampel Malang, Pesantren Luhur bersama UNSURI membuat Fakultas Hukum yang kemudian berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) UNSURI Malang.

Abah Mudlor selain sebagai pelopor pendirinya IAIN Sunan Ampel Malang, juga mahir sebagai penyampai ilmu di ruang kelas dengan tutur lisan. Jika ditelisik dari sisi produktivitas yang tercantum  dalam salah satu sumber beliau juga pernah menjadi pemasok utama artikel berbau intelektual-spiritual di majalah IAIN pada tahun 1993,1996.

Abah Mudlor menjadi inisiator tim research Yang menyumbangkan  tenaga, dan pikirannya untuk menemukan artefak-artefak sejarah Sunan Giri yang masih terpendam, jika tidak adanya tim research mungkin saja akan hilang sesuai dengan dinamika zaman.

Awalnya Pesantren Luhur berada di daerah Claket, hingga. akhirnya Abah Mudlor memilih Jalan Sumbersari sebagai lokasi Pesantren Luhur hingga saat ini. Seiring berjalannya waktu, pembangunan pesantren dapat disaksikan sampai saat ini. Semasa hidupnya, Abah Mudlor seringkali mendistribusikan uang pribadinya untuk kepentingan pesantren. Sempat salah satu putra bungsu beliau berminat menempati rumah yang sengaja dibeli untuk memperlebar area peantren, beliau tidak begitu saja mengiyakan. Putra beliau diijinkan untuk menempati bagian- bawah yang sempit, sedangkan bagian atas dipakai untuk pelebaran kamar santri putri.

Untuk menginisiai kemampuan spiritual dan intelektualitas santrinya, Abah Mudlor mengajarkan dan membiasakan berwirid, selain itu untuk mengoptimalkan. intelektualitasnya dengan halaqoh. Halaqoh bertujuan untuk berbagi ilmu juga merupakan strategi belajar dengan cara bandongan yang diterapkan di pesantren-pesantren.

Abah Mudlor memiliki dua tanggal lahir,tertera pada Majalah Kaki Langit 09 Agustus 1937, namun pada banyak arsip administratif menunjukkan bahwa tanggal lahir beliau adalah 08 September 1939. Setelah ditelusuri tanggal lahir beliau yang sebenamya adalah 09 Agustus 1937. Perubahan tanggal lahir itu setelah beliau diangkat menjadi bi’tsatul hajj pada tahun 1963. Prof. Dr. Moch. Koesnoe memerintahkan beliau untuk mengubah tahun kelahiran menjadi 1939. Lalu Abah Mudlor mengurus akta kelahiran, dalam akta itu ditulis tanggal lahir 1939 dan itu berkelanjutan sampai menjadi pegawai negeri. Beliau menggubah tanggal lahir itu karna pada saat bi’tsatul hajj  terdiri dari tiga golongan, yaitu tua, dewasa, dan muda. Pada pengangkatan bi’tsatul hajj beliau berumur 26 tahun, sedangkan jika memakai tahun lahir yang diusulkan Prof Dr. Moch. Koesnoe beliau lebih muda dua tahun.

Riwayat pendidikan beliau dimulai dari:

  • Lulus Sekolah Rakyat Islam Babat 1 Januari 1950
  • Lulus SGAI 4 tahun pada tanggal 9 Mei 1954
  • Lulus PGA Atas Muhammadiyah Bojonegoro 1 Juni 1956
  • Lulus Propadiuse APAI (Akademi Pendidikan Agama Islam) Malang tahun 1961
  • Lulus Kandidat APAI Malang tahun 1962
  • Lulus Bakelariat FTT Malang tahun 1963
  • Lulus Ujian Doktoral I dan II Fakultas Tarbiyah Sunan Ampel Malang tahun 1966
  • Lulus Fakultas Hukum Unsuri Jurusan Keperdataan dengan SK Ma’arif Jakarta tahun 1988
  • Lulus Ujian Doktor dengan Desertasi yang berjudul “Analisis Transendentel Tentang Jin Menurut Al-Quran dan Pengaruhnya Terhadap SDM” dimuka tim penguji AIMS Jakarta tahun 2000
  • Dikukuhkan sebagai Guru Besar Filsafat Ilmu dengan Pidato Ilmiah Berjudul “Orientasi Sistem Berpikir dalam Ilmu Pengetahuan” pada tanggal 25 Juni 2001 di AIMS Jakarta.

Abah Mudlor juga pernah mengenyam pendidikan nonformal atau tambahan yakni:

  • Pesantren Sawahan Babat dari tahun 1948-1951
  • Pesantren Kendal Bojonegoro tahun 1951-1956
  • Pesantren Langitan Babat tahun 1956-1960
  • Berguru kepada banyak Kyai di beberapa daerah.

Dalam dunia pekerjaan, beliau pernah menjabat sebagai:

  • Kepala Sekolah PGAP Babat (1954-1957 )
  • Kepala Sekolah PGA NU Lamongan (1954-1960)
  • Wakil Kepala Sekolah Tsanawiyah Pondok Pesantren Langitan (1957-1960)
  • diangkat menjadi Kepala Tata Usaha IAIN Sunan Ampel Malang (1961)
  • Diangkat menjadi Asisten Mahasiswa FAKTAR IAIN (1962)
  • diangkat menjadi Majelis Pimpinan Haji, Wakil Amirul-Haj, Departemen Agama RI (1963)
  • Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang (sekarang UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, tahun 1963)
  • Ditugaskan observasi perpustakaan ke Al-Jami’ah Al-Madinah (1963)
  • Diangkat menjadi PPPH (Panitia Perbaikan Perjalanan Haji) oleh Departemen Agama RI (1966)
  • Ketua Lembaga Riset Islam Malang (1970)
  • Ketua Pengasuh Pesantren Luhur Malang (1970)
  • Diangkat menjadi Hakim Pengadilan Agama Malang (1975 – 1981)
  • Dekan Fakultas Tarbiyah UNSURI Lamongan (1978)
  • Kepala Rumah Sakit ’45, Babat Lamongan (1980)
  • Rektor Universitas Islam Lamongan (UNISLA) (1997)
  • Pengasuh Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang (1970) (Jl. Sumbersari No.88 Malang)
  • Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan Pangkat IV/d (Pembina Ulama Madya/Guru Besar)(2004)

Peran Abah Mudlor dalam dunia pendidikan bukan hanya sekedar menjadi pekerjaan, namun juga sebagai bentuk pengabdian. Diantara jejak pengabdian Abah Mudlor di dunia pendidikan adalah:

  • ikut mendirikan IAIN Sunan Ampel Malang (sekarang UIN Maulana Malik Ibrahim Malang) mendampingi Prof. Dr. H. Moh. Khoesnoe, SH. (1961)
  • Pendiri Rumah Yatim Mabarrot, Mergosono Malang (1975 M)
  • Pendiri Sekolah Ilmu Hukum Pesantren Luhur (sekarang STIH Sunan Giri, Malang) (1977)
  • Pendiri Fakultas Tarbiyah Universitas Sunan Giri Lamongan (1978)
  • Pendiri Rumah Sakit ’45, Babat Lamongan (1980).
  • Pendiri STAI Kranji Gresik (1987)
  • Pendiri STAI Mojosari Mojokerto (1966)
  • Pendiri Universitas Islam Lamongan (1996 M)
  • Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Kampus STAIN Malang (2000).

Beberapa karya tulis Prof. Dr. Kyai H. Achmad Mudlor, S. H. yang telah dan belum terpublikasi:

  1. Sejarah Dakwah Walisongo dan Sunan Giri, Percetakan Alwi, Surabaya, 1974
  2. Kitab Kasyfud Dujjah  (Khulasah Fi Ilmi Ar Ruudl), Biro Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang, Malang, 1989
  3. Studi Tentang Pengembangan Dan Pembinaan Agama Islam Dan Pendidikannya Di Daerah Perbatasan Lintas ASEAN Kalimantan Barat, Biro Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang, 1993
  4. Prinsip-prinsip Dasar Memahami Al-Quran, Biro Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang, Malang, 1994
  5. Perbedaan Pendapat dalam Madzhab, Penerbit Sarjana Indonesia, Surabaya, 1994
  6. Logika Berpikir dalam Ilmu Mantiq, Penerbit Sarjana Indonesia, Surabaya, 1995
  7. Kamus Filsafat Umum, Penerbit Rajawali Press, Malang, 1995
  8. Linguistik Bahasa Arab, Biro Penulisan Karya Ilmiah IAIN Malang, Malang, 1995
  9. Filsafat Keberadaan Sang Pencipta, Biro Penulisan Karya Ilmiah IAIN Malang, Malang, 1995
  10. Filsafat Tujuan Pendidikan Islam, Biro Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang, Malang, 1995
  11. Analisis Transendental Tentang Eksistensi Jin Menurut Al-Qur’an dan Pengaruhnya Terhadap SDM, Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Malang, Malang, 1996
  12. Sistem Berfikir dalam Ilmu Pengetahuan, Penerbit Sarjana Indonesia, Surabaya, 1996
  13. Nahwu Shorof Praktis (Jilid I, II, dan III), Penerbit Sarjana Indonesia, Surabaya, 1996
  14. Filsafat Pendidikan Islam, Biro Penulisan Karya Ilmiah IAIN Malang, Malang, 1996
  15. Pengetahuan Metode Qur’any, Biro Penulisan Karya Ilmiah IAIN Malang, Malang, 1996
  16. Kunci Pengendalian Diri dalam Ilmu Tasawuf, Biro Penulisan Karya Ilmiah IAIN Malang, Malang, 1996
  17. Tathbiqu Balaghah, Biro Penulisan Karya Ilmiah IAIN Malang, Malang, 1996
  18. Tauladan yang Baik bagi Muballigh dan Pendidik, Biro Penulisan Karya Ilmiah IAIN Malang, Malang, 1997
  19. Ilmu Pengetahuan Badi’ (Sastra Arab), Biro Penulisan Karya Ilmiah IAIN Malang, Malang, 1997
  20. Tema: “Memacu Meningkatkan Kualitas Sarjana untuk Membina Kualitas Sumberdaya Manusia”, Edisi Khusus Majalah IAIN Malang tahun 1993
  21. Tema: “Dialektika dalam Konsep Islam”, dalam Majalah Ilmiah Tarbiyah edisi ke-34, tahun 1994
  22. Tema: “Peranan Potensi Kreativitas Mental dalam Meningkatkan Argumentasi Berfikir Rasional”, dalam Majalah Ilmiah Tarbiyah edisi ke-36 tahun XIII Juni 1995
  23. Tema: “Pemikiran Radikal Filsafah Ghozali”, dalam Majalah Ilmiah Tarbiyah, edisi ke-39 tahun XIII September 1995
  24. Tema: “Islam dan Etos Kerja”, dalam Majalah Ilmiah Tarbiyah edisi ke-40 tahun XIII Desember 1995
  25. Tema: “Iman dan Taqwa dalam Perspektif Filsafat”, dalam Majalah Ilmiah edisi ke-41 tahun XIII Maret 1996
  26. Tema: “Integrasi Tiga Komponen Kepribadian Muslim”, dalam Buletin Al Huda edisi No. 23 tahun November 1997

Prof. Dr. Kyai H. Achmad Mudlor, S. H. juga memiliki buah karya berupa “Sholawat Irfan” yang banyak dipopulerkan sebagai lagu Qosidah hingga sekarang.

Sholawat Irfan Ciptaan Abah Mudlor yang ditulis tangan pada tahun 1998

Alamat Abah Mudlor berada di Jalan Raya Sumbersari Nomor 88, Malang (Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang) dan Jalan Raya Kauman, Babat, Lamongan. Istri beliau bernama Nur Cahya (Ibu Nyai Utin Nur Hidayati) yang dikaruniai 3 orang anak, yakni Neng Daris Mazia, Neng Davis Mirfada dan Gus Mohammad Danial Farafish. Ada beberapa motto dari Abah Mudlor yang sering menjadi motivasi bagi para santri-santrinya, antara lain: Hum Rijaalun Nahnu Rijaalun (mereka laki-laki kita juga laki-laki), Likulli yaumin ziyadatan minal ‘ilmi washbah fi buhuuril fawaidi (tiap hari bertambah ilmu dan bergemilang dalam lautan yang berfaedah), Bijiddin Laa Bijiddin Kullu Majdin Fahal Jaddun Bilaa Jiddin Bimujdi (segala sesuatu bias dicapai dengan semangat, kemampuan dan juga kearifan Tuhan), Jangan Takut Mati Karena Belum Makan dan Minum, tapi Takutlah Mati Karena Tidak Berjuang. Semboyan-semboyan tersebut sangat aplikatif diterapkan disetiap lini kehidupan, sebab terdapat dua hal yang saling bersinergi antara ikhtiar sekaligus doa sebagai manifestasi harapan akan kemurahan Tuhan pengabul cita.

                                                                      

Gambar: Prof Dr. Kyai H. Achmad Mudlor, SH dan Ibu Nyai Utin Nur Hidayati bersama putra-putrinya

*Biografi lebih lengkap bisa dibaca dalam buku “Mujtahid, Mujaddid, Mujahid; Percikan Perjalanan Spiritualitas dan Intelektualitas Prof. Dr. KH. Achmad Mudlor, SH.” dan Badan Arsip Lembaga Tinggi Pesantren Luhur, Malang.

1 COMMENT

  1. subhanAlloh wal hamdulillah
    sangat senang dan bangga bisa mengenal mbah kyai ahmad mudlor – ternyata tdk jauh dari tempat tinggal saya – meski hanya dari profil beliau
    tak diragukan keilmuan beliau, sarat dengan pendidikan agama Islam dari berbagai guru.
    peninggalan sarana pendidikan bagi generasi baru tidak sedikit dan sangat membantu
    perjuangan panjang akhirnya membuahkan hasil, terutama perjuangan bagi NU
    sebagai generasi penerus kita harus bisa minimal mempertahankan misi visi beliau,
    ekstrimnya adalah harapannya bisa mencerdaskan generasi muda NU yang militan,
    agar tak goyah oleh hempasan geombang lain yang tidak sesuai dengan
    Ahlus Sunnah wal Jam’ah Annahdliyah, ini harus dijaga ketat, harus tertancap permanen
    dalam hati generasi muda NU
    .
    salam takzim kagem sedoyonipun keluargi ndalem ugi poro santrinipun
    ngapunten, kalimat sae namung saking Alloh SWT, menawi kawontenan salah meniko saking kulo pribadi
    wassalam
    (tiang embongan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here