
MALANG – Idul Fitri bagi para Santri bukan semata-mata merayakan kemenangan setelah sebulan menahan lapar dan dahaga. Terlebih lagi, hari raya menjadi momen sakral untuk merawat ‘sanad’ batin dengan sang Pendidik.
Sudah menjadi warisan turun-temurun bagi Keluarga besar Pesantren Luhur Malang menggelar silaturahmi akbar ke ndalem para Dewan Kyai dan Asatidz. Pada Idul Fitri 1447 H, Majelis Santri kembali melangsungkan Safari Syawal pada Sabtu-Ahad (4-5 April). Agenda diawali dengan sowan kepada keluarga ndalem Pesantren Luhur, lalu dilanjutkan dengan rihlah ke seluruh kediaman Dewan Kyai dan Asatidz hingga petang hari.
Perjalanan silaturahmi ini melewati rute yang cukup panjang, melintasi berbagai wilayah di Malang Raya, mulai dari yang terdekat, Merjosari, hingga yang terjauh, Turen, Kabupaten Malang.
Jarak puluhan kilometer dan hingar-bingar kemacetan jalan raya tidak menghalangi semangat takzim 19 perwakilan santri untuk ngalap barokah dan menjemput doa dan ridha dari sang murobbi. Justru Senyum dan canda tawa menghiasi raut wajah para santri di sepanjang perjalanan, terutama saat setibanya di ndalem Dewan Kyai/Asatidz yang disambut dengan senyuman yang menyejukkan hati.
Silaturahmi dibuka dengan mushofahah secara bergantian dengan Dewan Kyai/Asatidz yang beberapa di antaranya didampingi oleh garwo beliau, diikuti dengan duduk melingkar dalam suasana yang ayem. Ditemani hidangan kue lebaran, beliau menyambut hangat kehadiran santri dengan sapaan, terkadang diselipi gelak tawa untuk menghangatkan obrolan dan menghalau kecanggungan.
Bagian yang ‘ndaging’-yang menjadikan Safari Syawal tidak sebatas tamasya, melainkan juga sarana pengokohan niat dan semangat menuntut ilmu-yakni sesi wejangan spritual penuh makna. Dewan Kyai tentang pentingnya menjaga keistiqomahan ngaji hingga mampu mengamalkannya secara kafah.
“Api semangat Ramadhan yang sudah mati-matian dikobarkan, jangan dipadamkan begitu saja. Karena bagi penuntut ilmu, ibadah adalah nuzhatun lil qoshidin-sebuah tamasya yang harus dinikmati, bukan beban yang memberatkan,” dawuh Kyai Suwandi.
Nasihat ini seolah menjadi cambuk tajam bahwa yang melelahkan belum tentu merugikan, justru bagian dari perjalanan yang indah. “Capek itu pasti, mengaggap ngaji sebagai beban itu boleh-boleh saja, tapi beban yang menyenangkan. Fisik boleh lelah, tapi hati kita sesungguhnya bertamasya dan tenang saat kita menuntut ilmu,” lanjut beliau.
Begitu banyak bekal berharga yang dibawa pulang oleh para santri kala itu. Sesi silaturahmi ditutup dengan doa yang dipimpin langsung oleh Kyai/Ustadz, menciptakan momen syahdu sebelum para santri berpamitan untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.
Koordinasi yang apik dan jadwal yang terukur memastikan silaturahmi selama dua hari tersebut dapat berjalan lancar. Macet dan hujan lebat bukanlah sebuah beban yang memberatkan. Sebab momen sowan ini seakan menjadi wujud nyata dari pesan yang telah disampaikan Kyai, dikutip dalam Latho’iful Isyaroh karangan Imam Al-Qusyairi:
“Al-ibadatu nuzhatun lil-qoshidin wa mustarwahun lil-muridin”.
“Ibadah adalah tempat tamasya bagi orang-orang yang menuju Allah, dan tempat istirahat bagi para pencari Tuhan’. Safari Syawal ini merupakan tamasya spiritual yang komplit, karena di dalamnya para santri beribadah sekaligus menuntut ilmu dari sang Guru.
Penulis: Mahil Salwa Nada






