Assalamu’alaikum wr.wb.

Halooo pecinta sastra,, 

Pernah tidak kalian berpikir bahwa kisah hidup kalian jenuh-jenuh saja begitu,  tanpa ada hal baru yang dapat dilakukan untuk mengisi kegabutan yang sangat super itu. hehehe gabut adalah hal manusiawi yang sangat umum terjadi ya, tapi jangan sampai gabut kita jadi menambah beban keluarga tanpa melakukan apa-apa. apa solusinya?. belajar. 

eh jenuh kak, harus belajar mulu, gak disekolah gak di rumah juga begitu aja.

oke oke, author ngerti perasaan kalian karena author juga masih muda hehe okeh?

so, disini author mau kasih suntikan penghilang jenuh tapi bukan paracetamol, juga bukan selang infus. jadi author mau kasih kalian sebuah cerpen dengan tema santri yang dijamin akan menjadi mood boster buat teman-teman semua.

yuk cekidot, langsung baca aja hehehe…

selamat membaca 

Merah Putih dan Hujan

oleh: Halimatus Sa’diyah (Santriwati Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang)

Pantulan bayangan tubuh Nasir menemani langkah kakinya menuju masjiid di depan ma’hadnya. Ia melirik sejenak pergelangan tangan kanannya yang dibalut arloji berwarna hitam. Pukul sepuluh lewat dua menit, baru jam sekian tapi rasanya seperti terbakar di siang bolong—pikir Nasir. Begitu ia menanggalkan dua terompah andalannya dan hendak berjalan ke dalam masjid, tiba-tiba langkahnya terhenti. Terlihat dua orang yang sangat tidak asing baginya sedang duduk berselonjor di sudut serambi. Keduanya sibuk mengibaskan kopiahnya ke arah wajah masing-masing yang merah padam seperti udang rebus.

“Panas banget, sih, Tar!” pekik salah satu di antaranya. “Mbuh! Ora paham!” jawab si Jawa dengan segera.

Nasir menggeleng pelan melihat kelakuan dua sahabatnya itu. Ia sama sekali tidak heran dengan kehebohan keduanya, Sodrun yang hobi mengeluh dan Mustar si Jawa yang ceplas-ceplos. Langkah Nasir terayun ke arah keduanya— bukan, lebih tepatnya ke arah pintu yang ada di belakang mereka.

“Minggir.” Ujar Nasir sambil berisyarat dengan tangan kanannya. Mustar mendongakkan wajahnya sehingga nampak wajah Nasir di kedua matanya.

“Dari mana? Mau kemana? Dapat piket adzan? Bukannya sekarang piketnya Mas Adhim? Memang Mas Adhim kemana? Lho, sekarang jam berapa sih, kok Nasir sudah siap-siap adzan?” Sodrun bertanya tanpa jeda sambil sedikit memberi jalan pada Nasir untuk membuka pintu masjid.

“Oh, yo iki sing bikin panas, Nasir datang kesini bawa hawa-hawa neraka!” timpal Mustar seenaknya.

“Jangan berisik.” Nasir hanya menjawab ketus.

 

Begitu dibuka pintu masjid, hawa sejuk kipas angin masjid merebak keluar. Nasir terkejut karena seingatnya Mas Adhim sudah mematikannya begitu pengajian bersama Kyai pagi ini usai. Kembali ia lanjutkan langkahnya menuju bagian dalam masjid. Kedua bola matanya sedang menjelajahi seisi masjid barang

 

kali nampak sajadahnya yang tertinggal selepas salat jamaah subuh pagi ini. Sayangnya matanya tidak menangkap benda itu. Nasir melangkah keluar dan duduk bergabung bersama Mustar dan Sodrun.

“Kalian ngapain di sini?” tanya Nasir, lalu memandang wajah kedua sahabatnya bergantian.

“Habis dari lapangan, Sir. Bisa-bisanya Mustar lupa kalau hari ini kami piket bendera. Gawat kan, jam segini baru naik.” Jawab Sodrun. Di pesantren mereka, ada sebuah kebiasaan yaitu mengibarkan bendera merah putih tiap pagi di lapangan. Itu merupakan perintah yang maknanya tidak dipahami oleh banyak santri di sana.

“Terus kenapa kalian ngos-ngosan sampai jelek begini?” Nasir menimpali. Mendengar itu, tangan Sodrun sudah melayang di udara hendak menampar Nasir namun lebih dulu ditangkis olehnya sambil meringis.

“Kalau mau ngomong itu ngaca, Sodrun sendiri lupa, lho. Makane keplayu-playu, soalnya takut keburu Ustadz Amin tahu, bisa modar aku kena takziran lagi.” Mustar melirik tajam ke Sodrun hanya melengos tidak membalas perkataan Mustar.

“Eh, Sir, Sir. Menurutmu kenapa sih, kok kita dikasih piket mengibarkan bendera sama Ustadz Amin? Padahal ya, aku malas sekali kalau harus urusan sama lapangan.” Raut wajah Sodrun seperti anak kecil yang ingin tahu segalanya.

Nasir terdiam. Dahinya mulai berkerut dan kedua tangannya menelungkup ke depan wajahnya. Ia memutar kembali memorinya. Teringat beberapa waktu lalu Ustadz Amin sempat bercerita kepadanya tentang perjuangan pahlawan pada masa lampau untuk merebut kemerdekaan Indonesia.

“Kalau tidak salah, Ustadz Amin pernah bercerita kalau dulu itu kemerdekaan Indonesia ini didapat bukan hanya karena perjuangan kaum militer, tapi juga termasuk warga sipil dan santri.” Jelas Nasir sembari mengingat-ingat kelanjutan cerita yang diberikan Ustadz Amin.

 

“Lho, santri? Ngapain?” Tanya Sodrun lagi.

 

Yo melu perang, Drun. Benar begitu, kan, Sir?” Kini Mustar menambahi.

 

Nasir mengangguk pelan. Tiba-tiba ia teringat bahwa kakeknya dulu merupakan salah satu dari kalangan santri yang diceritakan gugur oleh banyak orang termasuk ayah ibunya. Ayahnya pernah bercerita bahwa kakeknya dahulu diajak menggempur pasukan penjajah ketika beliau sedang asyik mengisi pengajian. Tanpa ba-bi-bu, beliau bersama seluruh santri yang ada dalam majelis ilmu itu berangkat bersama warga sipil. Namun kakeknya gugur di tangan penjajah saat itu juga, saat neneknya sedang mengandung ayah Nasir.

“Kalau menurut Ustadz Amin alasan kita mengadakan rutinan seperti itu, ya, untuk menghargai jasa para pahlawan. Kalian tahu sendiri, lho, Ustadz Amin orangnya nasionalis sekali.” Lanjut Nasir sambil melepas kopiahnya, kini mulai ikut mengibaskannya karena hawa yang panas.

Sodrun dan Mustar mengangguk-angguk pelan, berusaha memahami jawaban Nasir. Mata Sodrun menerawang ke arah langit luas. Mulai mendung.

“Mungkin karena mau hujan, kali, ya, jadi hawanya mendadak panas sekali. Kata ibuku, sih, begitu.” Mustar turut memandang langit, diikuti Nasir. Awan mendung itu kian mendekat, bunyi air hujan yang jatuh di atap besi teras masjid juga kian terdengar. Sepersekian detik kemudian terdengar suara langkah kaki mengenakan terompah sedikit terburu-buru.

“Hei! Kalian ini bagaimana kok cuek saja? Ini sudah gerimis, saya keliling ma’had mencari kalian yang katanya piket bendera hari ini. Ternyata malah enak- enakan di sini!” Suara Ustadz Amin yang menggelegar membuyarkan lamunan ketiga sahabat itu.

“Astaghfirullahaladzim! Saya kaget, Ustadz.” Ujar Sodrun terengah-engah karena kaget. Mustar, Sodrun, dan Nasir sontak berdiri kemudian menunduk.

“Lho, ayo! Cepat turunkan benderanya, keburu hujan deras! Kalian mau kena takziran?” Gertak Ustadz Amin karena ketiga sahabat itu malah terdiam di

 

tempat. Dengan segera, mereka bertiga mengambil terompah dan berlari ke lapangan menerobos gerimis yang kian deras untuk menurunkan bendera merah putih yang belum genap sejam dikibarkan. Kini mereka paham, perjuangan para pahlawan terdahulu untuk merebut kemerdekaan Indonesia lebih berat daripada sekedar menerobos hujan untuk menurunkan bendera merah putih. Harusnya sebagai santri tidak ada rasa keberatan yang muncul di dalam benaknya.

End

gimana? bagus gak?

bagus lah ya masak nggak hehe,

mau karya lain yang lebih oke? jangan lupa pantengin website pesantren luhur ya hehe

sekian, salam sayang pecinta sastra dari author..

wassalamu’alaikum wr.wb.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here