Menasihati Allah

1
123

Nasihat merupakan sebuah hal lazim yang sering terdengar di telinga manusia. Banyak ayat Al-qur’an dan Hadits yang memberikan nasihat kepada manusia mengenai berbagai hal. Misalnya adalah nasihat Luqman kepada anaknya. Lazimnya, nasihat ditujukan kepada manusia sebagai makhluk yang banyak memiliki kesalahan dan mudah lupa. Namun bagaimana tentang redaksi yang berbunyi menasihati Allah?. Rasulullah saw pernah bersabda dalam riwayat Tamim Ad Dari RA:

“sesungguhnya hakikat agama itu adalah nasihat, sesungguhnya agama itu adalah nasihat, sesungguhnya agama itu adalah nasihat.” Para sahabat bertanya, “kepada siapa, wahai Rasulullah?” sabda beliau, “kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan para pemimpin umat islam, serta seluruh umat islam.”

Hadis diatas sudah sangat viral dan biasanya dikaitkan ketika kita memberi petuah, arahan baik, atau nasihat kepada orang lain. Lalu bagaimana jika melanjutkan bagian tengah hadits tersebut?. Yakni pada redaksi hadits ketika para sahabat bertanya kepada Nabi SAW. kepada siapa, dan nabi menjawab kepada Allah dan seterusnya. Apakah kita mampu menasihati Allah padahal kita hamba dan Dia adalah Tuhan? Bagaimana kita menasihati para Rasul sedangkan mereka adalah manusia pilihan Tuhan dan para kekasihnya? Apakah kita bisa menasihati Al Qur’an sedangkan ia adalah sumber petuah dalam hidup kita? Baru untuk kedua yang terakhir lebih mudah akal kita untuk menerkanya.Dalam upaya memahami hadits tersebut, maka yang perlu kita pahami adalah mengetahui arti nasihat dari segi bahasa.

Leterlek terjemah saja tidaklah cukup untuk memahami hadits pada tema ini. Disinilah pentingnya kita belajar bahasa Arab. Yaitu untuk meminimalisir kesalahan dalam memahami suatu teks Hadits maupun Al-Qur’an. Adapun makna nasihat menurut bahasa adalah memurnikan (ikhlas) seperti orang-orang Arab mengatakan, “nashohtu al’asla” (aku memurnikan madu) maksudnya adalah “kholashtuhu min syam’ihi” (aku membersihkannya dari lilinnya). Sehingga Abu Sulaiman Al-Busti menjelaskan “Nasihat adalah kalimat yang mengungkapkan sekumpulan keinginan baik kepada orang yang dinasihati.” Jadi bisa diambil kasimpulan bahwa nasihat adalah memurnikan dan menginginkan kebaikan kepada objek yang dinasihati. Dengan pengertian ini lebih memudahkan kita dalam menjabarkan objek-objek yang dinasihati dalam hadits diatas, tanpa takut suu’ul adab dengan yang dinasihati.

Maka nasihat kepada Allah ta’ala maksudnya adalah berikrar dan mengimani secara benar bahwa tiada Tuhan selain Allah. Mengesakan Allah, mensifatinya dengan sifat-sifat kesempurnaan, dan mensucikan-Nya dari sifat-sifat yang tak layak bagi-Nya. Senang melakukan hal-hal yang menjadi sebab ridha dan rahmat-Nya, serta menjauhi segala sesuatu yang menyebabkan Allah murka. Sekecil apapun ibadah atau maksiat itu jangan diremehkan karena ada tiga hal yang tersembunyi diantara tiga hal, Allah menyembunyikan ridha-Nya diantara amal-amal kebaikan, Allah menyembunyikan murka-Nya diantara perbuatan-perbuatan maksiat, dan Allah menyembunyikan wali-Nya diantara para hamba-Nya.

Nasihat kepada kitab-Nya, maksudnya adalah percaya pada kitab-Nya, tidak sekedar membaca, namun juga mau mengamalkan kandungannya. Dibaca dengan baik dan khusyuk, dalam keadaan suci, pakaian yang sopan, dan tempat yang baik. Memuliakan kitab-Nya tidak diletakkan sembarangan, berusaha memahami maknanya, tentu dengan berguru dengan ulama, tidak semena-mena menerka-nerka kandungan isinya dengan pemikirannya sendiri, menjauhkan penafsiran-penafsiran yang melewati batas, dan menghindarkan dari usaha-usaha orang yang mau menyelewengkannya.

Nasihat kepada Rasul-Nya, ialah mempercayai kenabiannya, berusaha semaksimal mungkin menaati perintah-perintahnya, dan menjauhi larangan-larangannya. Menyenangi apa yang mereka senangi, menolong, dan melindunginya baik saat hidup maupun setelah wafat. Menghidupkan sunnah-sunnahnya, mencarinya, memeliharanya dan menyebarkan-Nya. Rasulullah saw. bersabda

Barangsiapa berpegang teguh dengan sunnahku ketika rusaknya umatku maka ia akan mendapatkan pahala seratus orang syahid”

Kemudian meneladani dan mengamalkan akhlak para Rasul karena mereka adalah sebaik-baiknya orang yang bertata krama dan bertingkah laku.

Nasihat-nasihat kepada para pemimpin umat Islam, maksudnya adalah menaati mereka dalam kebenaran, menolong mereka dalam kebenaran, memerintahkan atau menyarankan mereka untuk melakukan kebenaran, mengingatkan mereka ketika alpa dengan cara yang paling baik, menjaga rahasia-rahasia umat yang mereka tangani, tidak berusaha menyerang mereka, dan tidak memprovokasi orang-orang untuk menjatuhkan mereka karena nabi juga pernah menjelaskan bahwa tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.

Nasihat-nasihat kepada seluruh umat islam, artinya memberikan pengarahan mereka menuju kebaikan, dan mashlahat, menolong dalam urusan agama dan dunia, baik dengan harta, perbuatan, maupun ucapan. Mengingatkan di kala lupa, mengajari mereka yang masih bodoh dalam berbagai urusan, menolong kepada mereka yang membutuhkan, menutupi aib-aib mereka, mencegah bahaya yang akan menimpa mereka, baik dari diri sendiri maupun orang lain al muslimu man salimal muslimuna min lisanihi wa yadihi dan berusaha memberikan manfaat kepada mereka “khoirunnas anfa’uhum linnas”.

Dan akhirnya menasihati Allah bukan sesuatu yang mungkin, namun sebuah keharusan. Wallahu a’lam

Disadur dari kitab Nurul Mubin fi Mahabbati sayyidil Mursalin karya Hadratusyyaikh hasyim Asy’ari

Penulis: Ustadz Abdul Kholiq (Rektor Madratsah At-Tahdzibiyah Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang tahun 2017)