AMANAT HADRATUSY SYEIKH KYAI H. HASYIM ASY’ARI UNTUK KAUM MUSLIMIN

0
808

 

Situasi umat islam di Indonesia pada hari ini terus menerus mengarah pada perpecahan yang mengkhawatirkan. Hal ini bukan merupakan fenomena yang baru-baru saja, namun sejarah mencatat gejolak-gejolak perpecahan internal kaum muslimin memang sudah dari dulu terjadi.

Dengan pesatnya arus informasi dan media sosial yang sudah merambah kepada seluruh lapisan, membuat percikan-percikan perpecahan kian terlihat setiap harinya. Singgung-menyinggung, sindir-menyindir, bahkan saling menyalahkan satu sama lain sudah menjadi pemandangan sehari-hari di sosial media. Ada yang merasa paling ahlissunnah, ada yang mengatai golongan muslimin lainya sebagai ahli khurafat, ahli bid’ah, bahkan yang mencap yang lainya sebagai golongan muslim sesat. Ada yang menyindir halus, ada yang mengecap terang-terangan. Sampai kapan semuanya akan terus seperti ini? Sampai kapan kita semua sebagai kaum muslimin terus merasa golongan kitalah yang paling benar dan yang lain salah lagi menyesatkan?

Bukankah cukuplah bagi kita untuk berusaha bersikap bijaksana dengan terus belajar dan muhasabah diri. Tidak cepat mencap golongan yang lain salah, tidak merasa golongan kita yang paling benar. Karena bisa jadi kita melihat sesuatu diluar diri kita salah dikarenakan sedikitnya yang  kita tahu. Ini mengingatkan kita pada hadis Nabi SAW: “Hikmah (kebijaksanaan) itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja kamu menemukannya, maka ambillah” hadis riwayat At-Tirmidzi.

Seharusnya kita justru berlomba-lomba dalam kebaikan, saling nasihat-menasihati dalam kebenaran, serta saling mencari kebijaksanaan. Ketika kita memandang sesuatu perbedaan dengan kebijaksanaan maka yakinlah hasilnya akan tetap didalam orbit kebaikan. Apalagi perbedaan-perbedaan yang dikecam-kecam hanya sebatas perbedaan di dalam ranah ijtihad. Bukankah islam sendiri yang mengajari kita untuk menghargai pendapat selama pendapat itu baik? Bukankah islam mengajarkan kepada kita untuk tetap menyayangi saudara-saudara kita meskipun tidak bersepakat dalam beberapa hal? Bukankah islam mengajarkan untuk tidak memutus silaturahim hanya karena perbedaan pandangan dan keyakinan akan suatu perkara? Bahkan kepada yang jelas-jelas memiliki keyakinan yang berseberangan (kafir) saja kita diajarkan untuk tetap berbuat baik, apalagi kepada sesama muslim meskipun berbeda pandangan pemikiran.

Di dalam artikel kali ini izinkan penulis menuliskan kembali salinan pidato amanat dari Hadratus Syeikh Kyai H Hasyim Asy’ari yang mana memiliki pesan yang sangat relevan dengan kondisi kaum muslimin saat ini. Barangkali bisa menjadi hikmah yang selama ini kita cari bersama.

Salinan Amanat Hadratus Syeikh Kyai H Hasyim Asy’ari untuk Kaum Muslimin :

Dengan nama Allah yang Maha murah lagi Maha pengasih.

AMANAT:

Hadratusy-Syeikh. K.H. Hasyim Asy‘ari (alm.)

 UNTUK KAUM MUSLIMIN

Dari pada Al-fakir Muhammad Hasyim Asy’ari (semoga Allah memberi maghfirah kepadanya dan kepada kedua ayah dan bundanya serta segenap kaum Muslimin Amin).

Kepada saudara kami yang terhormat penduduk pulau jawa dan daerah sekitarnya alim ulama dan awamnya.

Assalamu’alaikum wr.wb.

Kemudian dari pada itu saya sudah mendengar bahwa diantara kaum Muslimin sekarang terjadi api fitnahan dan pertengkaran. Menurut pikiranku sebabnya itu ialah karena mereka sudah meninggalkan Kitab Allah dan Sunnah Rasulnya S.A.W. Telah berfirman Allah, bahwa orang mukmin itu bersaudara antara satu sama lain. Maka oleh karena itu perbaikilah diantara saudara-saudaramu itu”. Sekarang mereka menganggap saudaranya sebagai musuh dan oleh karena itu mereka itu tidak memperbaiki bahkan merusakkan persatuan. Maka sabda Nabi S.A.W.: “Janganlah kamu dengki mendengki dan benci membenci, rusak-merusakkan dan janganlah kamu singgung menyinggung dan hendaklah kamu semua menjadi hamba Allah yang bersaudara”. Tetapi yang terjadi diantara kamu sekarang ini ialah dengki berdengki dan benci membenci, rusak-merusakkan, singgung-menyinggung dan menjadi musuh satu sama lain.

Wahai para alim ulama yang fanatik kepada mazhab atau kepada suatu pendapat agama saja. Tinggalkanlah fanatikmu itu di dalam masalah-masalah furu’ agama, yang ada dua perbedaan paham ulama di dalamnya yang satu paham berkata bahwa tiap orang jang berijtihad itu benar dan ada yang berkata bahwa yang berijtihad itu jika benar dapat pahala satu, jika salah juga dapat pahala, karena ijtihadnya. Tinggalkanlah fanatik itu dan tinggalkanlah hawa nafsu yang menjatuhkan kita, dan pertahankanlah agama Islam itu bersama-sama. Dan bersungguh-sungguhlah di dalam membela serangan-serangan terhadap kesucian Al-Qur’an dan Ketuhanan. Dan terhadap orang-orang yang mengaku berilmu tetapi sebenarnya kosong dan salah karena mempunyai keyakinan yang merusak, maka berijtihad di dalam menentang orang-orang yang semacam ini wajib hukumnya. Alangkah baiknya kalau kamu pergunakan diri kamu untuk jihad semacam ini. Wahai manusia. Ketahuilah bahwa diantara kamu sekarang terdapat golongan atheistisch atau kafir yang berkeliaran di tanah air kita. Maka siapakah diantara kamu yang bersedia diri bertukar fikiran dan menentang atau memberi petunjuk kepada mereka itu, sehingga mereka dapat menerima kebenaran Islam. Inilah wahai ulama-ulama sebaiknya dalam hal menghadapi mereka itulah kamu harus fanatik.

Adapun kefanatikanmu terhadap soal-soal furu’ agama dari usahamu memaksakan orang Islam untuk berpegang kepada suatu mazhab saja atau suatu pendapat saja, maka hal yang demikian ini bukanlah perbuatan yang diterima oleh Allah dan Rasulnya dari padamu. Dan tidaklah membawa kamu kepada perbuatan itu melainkan karena sifat fanatik juga dan sifat dengki mendengki serta singgung-menyinggung adanya. Jika sekiranya Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad (Hambali), Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli (R.A.) hidup kembali sekarang ini (melihat perbuatanmu itu) niscaya sungguh mereka semuanya akan sangat tidak menyetujui, bahkan akan menyalahkan akan sikap dan perbuatanmu, yang seolah-olah kamu ingkar dan tidak mengakui adanya kemerdekaan berijtihad. Serta berlainan pendapat yang ada dikalangan para ulama itu. Dalam pada itu bukan kamu tidak melihat banyak orang-orang yang meninggalkan shalat, yang menurut pendapat Imam Syafi’i dan Imam Malik serta Imam Ahmad, bahwa orang yang meninggalkan shalat itu dihukum pancung, sedang kamu tidak berikhtiar mencegah hal yang seperti itu, bahkan ada diantara kamu yang melihat tetangganya tidak bershalat, tidak menegor dan tetap bersikap diam saja. Maka mengapakah kamu mengingkari adanya kemerdekaan berijtihad diantara para fuqaha dan kamu diam saja menghadapi hal-hal yang sudah disepakati oleh alim ulama itu seperti perbuatan zina, riba, khamar dll. Mengapa kamu tidak bersemangat dalam membela kehormatan agama Allah seperti kamu membela pendapat Imam Syafi’i dan Ibn Hajar? sehingga dengan kelakuanmu itu menimbulkan dan menyebabkan perpecahan dan permusuhan diantara kamu sehingga kamu dapat dipengaruhi oleh golongan lain yang tidak berpengetahuan, lalu jatuhlah kehormatanmu dalam mata orang awam, yang lalu mencerca dan merendahkan derajatmu karena perbuatan-perbuatan kamu sendiri. Wahai para Ulama! jika kamu melihat ada orang lain yang mempunyai sesuatu pendapat dan beramal dengan mendasarkan kepada salah satu fatwa dari Imam empat atau mazhab, maka janganlah kamu serang dan ajaklah bertukar fikiran dengan baik. Jikalau mereka tidak suka mengikuti pendirian dan pendapatmu, janganlah mereka itu dianggap musuh, karena kalau demikian, maka hal yang demikian itu sama dengan keadaan orang yang membangun sebuah istana, tetapi menghancurkan seluruh kota tempat istana itu. Maka oleh karena itu yang demikian itu janganlah kamu jadikan sebab dan alasan untuk berpecah-belah dan bercerai berai serta bermusuh-musuhan antara kaum Muslimin sendiri. Yang demikian itu adalah dosa besar yang menghancurkan dan merobohkan ummat serta menutup pintu segala kebaikan dan kemajuan. Inilah sebabnya maka Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kita berbantah-bantahan dengan Firman yang maksudnya: “janganlah kamu bertengkar-tengkaran, karena yang demikian itu akan memecah-belahkan kamu dan menghilangkan semangat kekuatanmu”.

Para kaum Muslimin!

Sungguh di dalam kejadian-kejadian itu adalah contoh dan cermin yang dapat memberikan faedah bagi orang yang berakal, lebih banyak dari pada faedah-faedah yang dapat diperoleh dari pada pidato-pidato dan nasehat-nasehat pemimpin-pemimpin. Apakah belum masa-nya kita mengambil ibarat dan teladan dari kejadian-kejadian di sekeliling kita pada tiap detik? Tidakkah kita sadar dari pada kemabukan dan kelalaian kita? Dan tidakkah kita mengerti bahwa kebahagiaan dan kemajuan kita itu tergantung sekali kepada persatuan kita dan tolong-menolong serta ke-ikhlasan dan kesucian hati kita? Apakah kita akan tetap di dalam perpecahan dan permusuhan, meskipun agama kita satu yaitu Islam, mazhab kita satu yaitu Syafi’i dan negeri kita satu yaitu jawa, dan kita semua dari ahlussunnah wal jama’ah? Demi Tuhan adalah yang demikian itu sungguh kerugian yang besar sekali.

Wahai para kaum Muslimin!

Takutlah kepada Allah dan kembalilah kepada Kitab Tuhan-mu Al-Qur’an dan kerjakanlah sunnah Nabimu, dan bertolong-tolonganlah kamu dalam kebaikan dan kebaktian, janganlah bantu-membantu dalam mengerjakan kemungkaran dan kesalahan, dan contohlah kepada nenek moyangmu yang shaleh-shaleh, agar supaya kamu ber-oleh bahagian sebagaimana mereka itu berbahagia. Dan takutlah kepada Allah, berbuat baiklah diantara kamu dan bertolong-tolongan didalam kebaikan dan janganlah bertolong-tolongan dalam kejelekan dan berbuat kemungkaran, agar supaya Tuhan meliputi kamu semua dengan rahmatnya dan janganlah menjadi seperti orang yang berkata kami mendengar akan tetapi mereka itu tidak memperhatikan”.

Wassalam,

Muhammad Hasyim Asy’ari

Tebuireng. Jombang.

Sumber :

Dokumen Koleksi Perpustakaan Pesantren Luhur Malang, Tahun 1956

Penulis : M. Aufa