Mbah Gimbal Wafat, Indonesia Kehilangan Salah Satu Tokoh Lingkungan Inspiratifnya

0
55

[Malang, 21 September 2022] Indonesia kini tengah berduka atas meninggalnya Mbah Eko Tugas Kusno Setio atau akrab disapa dengan Mbah Gimbal karena rambutnya yang identik dengan model Gimbal ala Bob Marley. Beliau merupakan seorang tokoh penggagas konsep permakultur di dunia pertanian. Inisiatif konsep permakultur ini dikenalkan dan dilakukan menggunakan prinsip bercocok tanam ramah lingkungan demi menjaga keseimbangan alam. Adapun dalam penerapannya, konsep permakultur ini tidak menggunakan bahan kimia seperti pupuk maupun obat obatan.

Mbah Gimbal mengatakan bahwa penerapan konsep permakultur ini bertujuan untuk melestarikan budaya nenek moyang. Beliau juga mengatakan bahwa penerapan model pertanian dan perkebunan modern yang dikembangkan di era ini sudah tidak memakai kaedah konservasi, sehingga mengakibatkan tatanan alam pun rusak. Sebelumnya beliau pernah melakukan perdagangan senjata ilegal.

Pada tahun 2001, Mbah Gimbal memilih hidupnya untuk berhijrah. Ia melakukan perjalanan spiritual untuk menemui tokoh agama dan berziarah pada tokoh agama maupun wali. Selama perjalanan spiritualnya beliau juga sering bersilaturrahim ke Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang pada tahun 2003. Beliau juga kenal dan akrab betul dengan Pesantren Luhur Malang.

Setelah melakukan perjalanan spiritualnya, Mbah Gimbal memutuskan untuk berpindah ke Kabupaten Sorong, Papua Barat. Di tempat baru, beliau mendirikan suatu komunitas sosial yang diberi nama KOMPIPA (Komunitas Peduli Papua) yang bertujuan untuk merubah social culture masyarakat yang kurang memperhatikan pendidikan dan kebiasaan mabuk. Adapun kegiatan yang dilakukan pada KOMPIPA yaitu mengajari anak anak Papua belajar menulis, membaca, dan berhitung. Selain itu juga membuka donasi bagi siapa saja yang ingin menyumbangkan berupa materiil maupun non materiil bagi anak anak Papua.

Di tanah Papua ini lah beliau menggagas konsep Permakultur dan menularkan ilmunya kepada masyarakat sekitar. Beliau pun sukses menerapkan konsep permakultur tersebut sehingga hasil tanamannya pun tersebar hampir setengah hektar di Jalan Makam Kelurahan Klaru Distrik Mariat, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Hingga pada akhirnya tepat pada tanggal 21 September 2022 beliau telah tutup usia dengan meninggalkan hal baik yang telah beliau tebarkan. Semoga kita semua selalu berada pada jalan yang lurus, Aamiin…

“Saya kenal betul sosok beliau, beliau adalah orang hebat dan keren. Pernah singgah ke Giri Kedaton di Gresik, Jawa Timur, dan tahun 1998 hingga 2004 menjalin silaturahmi dengan pesantren Luhur sampai beliau memutuskan berjuang ke tanah Papua. Semoga Allah SWT mengampuni segala kekhilafan beliau dan diterima amal beliau” Kenang Gus Danial Farafish.(Nly)