Cerpen Santri:Mondok Opo Kuliah ?

1
66

Assalamu’alaikum Wr.wb.

Halo sahabat sastra, ketemu lagi sama admin Pesantren Luhur yang kece dan penuh semangat ini ya hehe.. gimana weekend kalian? seru? perlu hal baru?. hmm ada moodboster yang bikin kamu Moody banget lhoh,, apa hayo…. yak kami persembahkan cerpen karya santri Luhur yang bisa membangkitkan memantapkan pilihan kamu untuk mondok atau kuliah.. yuk chek langsung baca.


Mondok atau Kuliah


Jogyakarta, 1979.  Krapyak yang  selalu indah  pernak – perniknya  dengan berebut kelas bandongan dipinggir jalan kala sore hari. Teman – teman kerap memanggilku Irsa. Iyap, Irsa seorang gadis desa yang kumal dari kota Istimewa yang selalu menuntun sepeda onthel tua milik bapak ke sawah.

Semua ini  berawal ketika aku duduk di bangku Aliyah. Bimbang, cemas, bingung dan takut terus menyelimutiku ketika pengumuman kelulusan siang itu. bagaimana tidak?, dilema antara lanjut mondok, lanjut kuliah, ataukah menerima beasiswa dari dinas pendidikan Jogyakarta untuk ikatan dinas membuatku kalut.  Emak dan Bapak mengharapkanku untuk lanjut kuliah dan berhenti untuk mondok. Padahal tak terlintas sedikit pun untuk melangkah jauh pergi dari Komplek R1, Krapyak ini. Tapi entahlah, takdir berkata lain. Tak ada kelas bandongan dan tak akan pernah ada lagi singitan di titik nol kilometer Jogyakarta ini.

Aku pun memutuskan untuk melanjutkan studiku karena bagiku tak ada yang lebih penting dari ridho kedua orangtuaku. Aku mencoba mengikuti berbagai seleksi masuk perguruan tinggi mulai dari SNMPTN, SBMPTN, SPAN-PTKIN, dan UM-PTKIN. Namun, rezeki belum berpihak padaku. Serangkaian tes yang aku ikuti tak ada satupun yang tercantumnama ku didalamnya. Sedih, hancur, dan frustasi pastinya. Tapi aku sadar bahwa memang semua salahku yang terlalu tinggi menggantungkan mimpi. Entah kenapa aku sangat terobsesi pada Universitas Gadjah Mada. Hasratku  untuk menjadi bagian darinya begitu menggebu seakan tak menyadarkan diriku bahwa aku hanyalah seorang gadis desa yang bersekolah di sekolah non-formal juga swasta.

Hingga suatu hari terlintas untuk mendaftar ujian SIMAK UI. Dalam hatiku berkata “ Gak po po dicobak dikek ae ! bek menowo enek rejeki ne”. Aku masih ingat dengan jelas tragedi ketinggalan kereta ketika hendak berangkat ujian ke Jakarta. Menangis di lobi dan melihat dengan jelas kereta yang mulai berangkat. Astagfirullah, apa lagi ini Ya Allah. Akhirnya aku membeli tiket Go Show menuju stasiun pasar senin kembali. Melihat jakarta dengan segala hiruk pikuknya membuatku lelah dan semakin memperlihatkanku akan ketidak kekalan dunia.

Pada tanggal 31 Juli 1979, Hasil SIMAK UI pun diumumkan. Alhamdulillah, senang keheranan dan tak menyangka namaku terselip dibarisan jas Kuning itu. syukur rasa ku melihat Emak dan Bapakku tersenyum bahagia. Alhamdulillah

Hari pun berlalu, serangkaian tes seleksi asrama aku lalui. Kini aku harus menapaki kampus penyandang nama Indonesia itu. Semua tiket dan segala kebutuhan sudah aku persiapkan. Tapi entah kenapa H-1 keberangkatan, Emak berubah pikiran dan memintaku untuk membatalkan rencanaku untuk kuliah di UI. Kata Emak “Nduk, ndek  jogya ae ya ?.. ojo adoh – adoh”. Rasaku bercampur aduk, bingung, ingin teriak tapi tak bisa. Seharian aku menangis di dalam kamar, apa yang aku perjuangkan kini harus aku lepaskan. Hal yang diinginkan oleh banyak orang namun tidak untuk orantuaku. “ya sudah, tak apalah. Bismillah barakah he wongtuwo” kata ku.Kini kampus UI pun hanya menjadi sebuah kenangan manis yang akan selalu terkenang.

Akhirnya aku mendaftar seleksi di UII (Universitas Islam Indonesia) dan diterima  di jurusan Ekonomi Syariah. Selama masa kuliah aku tinggal di pondok Pesantren Komplek Ulil Albab (KUA) Yogyakarta yang tak jauh dari kampusku. Di pesantren ini, santri hanya diperbolehkan menggunakan Handphone pada jam–jam  tertentu. Tersiksa ?.Anak kuliah tapi pengunaan Hp dibatasi? terus gimana belajar dan komunikasi nya. “Wis tho, iso – iso !.” dalam  batinku. Awalnya sangat sulit bagiku, aku sering telat mengumpulkan tugas dan sulit ketika dihubungi oleh teman–temanku. Teman–temanku kerap meminta ku untuk boyong atau keluar dari pondok. Tapi jujur, aku tak bisa. Bagiku selain masjid tempat teristimewa bagiku adalah pesantren.

Hari pun berlalu aku mencoba menjalani semuanya dengan ikhlas dan berdamai dengan waktu. Hingga suatu hari Allah begitu baik, hingga memberiku kesempatan Student Exchange ke China untuk mewakili Kampus tercintaku. Aku sadar bahwa selain mahasiswa,  aku juga seorang santri. Setelah berbincang dengan Emak dan Bapak, mereka merestuiku untuk exchange ke China. Kini tinggal restu dari bu nyai dan romo kyai  yang belum aku kantongi.

Hari kamis legi malam jumat pahing, aku memberanikan diri sowan meminta restu Bu Nyai dan Romo Kyai. Namun kali ini beliau belum mengizinkanku. “ Ning Irsa, wis ndek kene wae yo. Diluk engkas sampean yo wisuda pas ketepaan haul abah  ! eman ning ” sahut Bu Nyai. Seketika itu pula, air mataku menetes, dan aku hanya bisa menunduk, menahan tangis sambil berkata “Inggeh Bu Nyai”.

Ada perang, antara batin dan perasaanku. Ditambah pihak kampus yang terus mendesak dan memintaku untuk segera menyelesaikan administrasi keberangkatan. Memang ini bukanlah waktu yang tepat, bukan berarti jika waktu juga bersalah. Setiap malam aku menangis. Ada rasa ragu, bimbang, dan tak percaya. Hingga tanpa sengaja aku membuka Al–Qur’an surah Al–Baqarah ayat 216 yang artinya

 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Ayat inilah yang menyadarkanku dan berhasil mengalahkan keegoisan ku. Astagfirullah..  Akupun segera membatalkan tiket dan segala persiapanku untuk 2 bulan student  exchange di China. Namun semua terlambat, visa telah rampung dan semua pemberkasan telah usai. Pihak Dekanat tetap memaksaku untuk berangkat ke China sedangkan di sisi lain, Bu Nyai & Romo Kyai belum mengizinkan ku pergi. “ Mohon maaf  Bu,  apakah exchange ini boleh jika digantikan oleh orang lain ? ”. Tanya ku dengan penuh rasa takut. “ Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu Irsa, Apa alasanmu ingin membatalkan nya ?” Jawab Bu Cleo, dengan nada tinggi. Aku tak berani berucap apapun, terutama alasan ku kenapa aku ingin membatalkan pertukaran pelajar ini.

Akhirnya dengan berat hati aku kembali menemui Bu Nyai dan Romo Kyai dengan harapan beliau berubah pikiran untuk mengizinkanku. Namun, sayang sekali ketika itu beliau tidak berada di pesantren.  Lalu ku titipkan semua berkasku kepada salah satu santri yang merupakan abdi ndalem.

Keesokan harinya, aku kaget. Tiba–tiba ada pemberitahuan bahwa Bu Nyai memintaku untuk datang menemui beliau. Tubuhku mulai lemas, berkeringat dingin. Aku takut jika Bu Nyai marah melihat surat dan berkas–berkasku kemarin. Akupun menemui beliau, tertunduk dengan penuh  rasa takut dan cemas. Bu Nyai pun berkata “ Nduk, Irsa ?.” Aku langsung menangis dan bersimpu di kaki beliau. Bu Nyai pun merengkuh pundakku dan memintaku berdiri. “ Lapo nduk sampean ? ora po po, sampean ora salah.” tutur bu nyai. “Ngapunten, Bu Nyai. Irsa dereng saget dados santri engkang ta’dhim. Ngapunten” sahut ku. “Ora nduk, Bu Nyai ngutus rene. Mergo Bu Nyai salah ndelok tanggalan. Sampean berangkat bulan desember kan nduk ?.. tak kiro oktober. Barengan karo haul abah. Pangestu Bu Nyai ya nduk Irsa. Budal lo. Bu Nyai kalian Romo Ikhlas.” Tutur Bu nyai. Percayalah, barakah pondok itu nyata.

Karya: Mupi Anisah

Santriwati Pesantren Luhur Malang