Mahasantri Mendapat Beasiswa S2 di Luar Negeri? Siapa Takut!!

0
60

[Malang, 07 Agustus 2023] Lia Wilda Izzati, gadis kelahiran Brebes, 10 Oktober 2000 ini adalah gadis yang luar biasa. Sepak terjang pendidikan dan organisasi yang ditempuhnya membawa Kak Lia menjadi pribadi dengan mental tangguh, sabar, dan memiliki kontrol emosional yang baik. Kak lia adalah satu dari sekian banyak mahasiswa yang diterima untuk melanjutkan S2 di Dongseo University, Korea Selatan. Banyak hal yang ia alami mulai dari kegagalan, tangis, tawa, hingga mencapai sebuah keberhasilan. Namun, disini jelas bahwa peran sebagai mahasantri (mahasiswa dan santri) tidak membuat seseorang tidak mungkin untuk sukses di kemudian hari. Bagaimana kisah, motivasi, kesulitan, serta tips dan trik untuk menjadi seperti beliau?.

“Hum Rijalun, Nahnu Rijalun (Mereka laki-laki, Kita juga laki-laki)”

Rijal dalam hal ini bukanlah terkait dengan gender melainkan pencapaian yang bisa diraih. “Jika mereka bisa, mengapa kita tidak?” sebuah semboyan yang menjadi dasar motivasi gadis asal Desa Kalijurang, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah ini. Kita harus memiliki role model dalam kehidupan kita. Katakanlah kita memiliki tujuan untuk bisa kuliah ke luar negeri, kita bisa melihat Maudy Ayunda yang bisa diterima di kampus luar negeri impiannya. Jangan lihat latar belakangnya, tapi lihatlah proses dan tujuannya. Berpikirlah bahwa “Start boleh berbeda, tapi tujuan kita satu”. Pola berpikir seperti ini akan menjadikan kita sebagai pribadi yang percaya diri untuk terus maju, tidak merasa terbatasi oleh latar pribadi masing-masing ataupun insecure dengan privillage orang lain. Proses boleh beda, tapi tujuan harus tetap sama yakni mengejar cita-cita setinggi mungkin.

“Harus bisa dan mau berkorban”

Oke teman, menjadi mahasiswa dan santri sangatlah tidak mudah. Kita dituntut untuk bisa menjadi Wonder Woman dan Super Hero, bisa mengatur waktu untuk kewajiban pesantren dan kuliah. Misalkan dalam 24 jam kita punya waktu ngaji, kuliah, tidur, dan main, Kak Lia memilih untuk mengurangi waktu mainnya supaya ngaji dan kuliah tetap terlaksana sebagaimana mestinya. Percayalah bahwa semua kerja keras kita akan terbalaskan nantinya. Ibarat kata, ngaji dan kuliah adalah batu besar, sedangkan bermain-main adalah batu kecil. Jika kita penuhi gelas dengan batu-batu kecil terlebih dahulu sampai penuh, maka tidak ada ruang untuk menempatkan batu besar. Akan tetapi jika kita penuhi gelas dengan batu besar terlebih dahulu, masih ada kemungkinan ruang untuk menempatkan batu kecil ke dalamnya. Oleh karena itu, utamakan tugas pokok yang diamanahkan orangtua kepada kita terlebih dahulu, maka tanpa kita sadari kebahagiaan itu akan ada dengan sendirinya tanpa harus menghabiskan banyak waktu untuk bermain-main belaka.

Ada beberapa kesulitan yang pernah Kak Lia alami selama menjadi mahasantri dan mengejar impiannya. Diantaranya adalah managemen waktu, lelah karena banyaknya aktivitas, sering terlambat mengumpulkan tugas, dan pengerjaan tugas yang kurang sempurna. Namun, dengan berkah dan niat yang baik, semua masalah itu bukan lagi menjadi masalah. Pernah suatu ketika ketika ada kegiatan pesantren, ia terlambat mengumpulkan tugas. Tapi ia malah dipuji dosen karena hasil pengerjaannya yang bagus. “Benar-benar berkah luhur” batin Kak Lia ketika itu.

Pernah Burnout gak si kak?

Burnout pasti pernah, siapa juga yang gak pernah?. Hal yang Kak Lia lakukan ketika burn out adalah tidur, pola istirahat yang paling ampuh. Terkadang main dan sharing dengan teman-teman ataupun menyendiri di tempat yang nyaman seperti cafe ataupun masjid. Tapi, dari berbagai cara mengatasi burnout di atas, cara paling ampuh adalah dengan mengadu kepada Allah dan mengumpulkan segala keluh kesah di atas sajadah. Rasanya benar-benar lega dan puas. Seketika masalah langsung terasa seperti terangkat dari beban pikiran.

“Mumpung masih ada kesempatan, Lanjut terus cari pengalaman”

Kuliah di luar negeri adalah pengalaman seumur hidup untuk belajar. Mumpung masih muda dan ada kesempatan, kenapa nggak?. Pengalaman seperti ini akan berguna untuk pengembangan diri, meningkatkan kompetensi, interaksi budaya, dan juga menunjang karir. Di samping itu, jurusan yang Kak Lia inginkan masih sedikit di Indonesia dan perlu ada penggalian lebih dalam, sehingga kalau ingin lebih memperkaya ilmu ya harus survive ke Luar Negeri. Sekaligus menantang diri juga untuk keluar dari zona nyaman.

Bahasa Inggrisnya harus bagus ya kak?

Percaya gak percaya, Kak Lia pernah mengikuti test TOEFL sampai 3 kali karena nilai TOEFLE belum memenuhi standar penerimaan beasiswa di Eropa. Kesibukannya menjadi ketua putri majelis santri Pesantren Luhur Malang Periode 2021-2022 dan juga bekerja, sedikit banyak menyita waktu kak lia untuk belajar dengan maksimal. Ketika itu Kak lia gak berpikir “Udahlah nyerah aja, kayaknya udah gak bisa kuliah di luar negeri.” Tapi ia malah memiliki mindset bahwa mungkin ini bukan jalannya, coba cari jalan lain. Kyai Suwandi pernah dawuh dengan mengambil pelajaran dari ayat Al-Qur’an “Inna Ma’al ‘Usri Yusro” artinya, sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan. “Al’Usri” adalah ism ma’rifat, artinya dia hanya satu dan khusus. Sementara “Yusro” ia adalah ism nakiroh yang bermakna umum sehingga kemudahan itu banyak jalannya. Akhirnya kak lia mencari beasiswa lain yang tidak ada syarat test TOEFL. Sehingga GKS (Global Korean Scholarship) menjadi pilihan Kak Lia untuk mencari jalan dan celah menjadi mahasiswa di kampus luar negeri. Apakah langsung berhasil?. Jelas tidak semudah itu kawan.

Kak Lia sempat gagal di jalur kedutaan. Sampai di titik ini Kak Lia hampir pasrah dan tidak ingin mencoba jalur lainnya. Namun ia berpikir “Lebih baik menyesal karena gagal, daripada menyesal karena tidak pernah mencoba sama sekali.” Alhamdulillah percobaan kedua dengan jalur Universitas bisa lolos dan akhirnya Kak Lia mendapatkan beasiswa kuliah S2 di Korea Selatan. Meskipun tidak sesuai dengan harapan awal bisa berkuliah di Eropa, tapi setidaknya tujuan untuk kuliah di Luar Negeri bisa tercapai.

Bagi tips dan trik dong kak!

Mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri tidak semudah membalik telapak tangan. Kak Lia kasih beberapa tips and trick untuk bisa mendapat beasiswa kuliah di luar negeri. Yaitu:

  1. Ridlo dan do’a orangtua
  2. Memiliki niat dan keinginan yang kuat
  3. Cari informasi beasiswa sebanyak mungkin (termasuk persyaratannya), jangan males update informasi, dan jangan malu untuk bertanya ataupun sharing dengan awardee sebelumnya
  4. Bisa menyiapkan profil yang bagus sejak dini. Prestasi akademik maupun non akademik, pengalaman organisasi dan pengalaman kerja/magang tentunya akan menunjang essay yang akan kita buat nantinya.
  5. Perbanyak do’a dan usaha.

Kenapa gak boyong aja? Bukannya nanti persiapan beasiswa bisa lebih matang dan fokus.

Kalau hati udah cinta mati sama pesantren, ninggalin buat kepentingan duniawi itu rasanya berat banget. Menjadi Ahlul Ma’had merupakan iming-iming yang paling menggiurkan untuk Kak Lia tetap bertahan di Pesantren. Ahlul Ma’had adalah tabungan akhirat yang belum tentu ada kesempatan untuk kedua kalinya. Niatnya semoga berkah Ahlul Ma’had juga sampai kepada orang tua di mana selama Kak Lia hidup, ia belum merasa cukup untuk bekhidmah kepada orang tua. Meskipun mengalami banyak ketakutan, tapi kak lia tetap berharap pada ridlo dan berkah bu nyai, keluarga ndalem, juga dewan kyai. Di Pesantren luhur, kita tidak hanya punya dasar teori agama, melainkan juga bisa belajar bagaimana caranya terjun ke masyarakat. Inilah yang membuat kak Lia merasa hidup. Ada keseimbangan antara teori dan praktek. Kedisiplinan, keaktifan, dan berpikir kritis adalah kunci penting untuk mengambil hikmah dan manfaat dalam pengembaraan mencari ilmu.

“Bermimpilah setinggi-tingginya dan berusaha untuk meraih mimpi itu”

Pesan dari Kak Lia untuk kita dan pembaca bahwa bermimpilah setinggi-tingginya dan berusahalah meraihnya. Jangan pernah menyerah, berhenti sejenak boleh, tapi menyerah jangan. Terhambat dengan rintangan di tengah jalan itu wajar, kita bisa cari jalan lain dengan tujuan yang sama. Jangan pernah berprasangka negatif kepada Allah, karena “Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-hamba-Nya”. Pahami bahwa Law of Attraction itu benar adanya, apa yang ada di pikiran kita, itulah yang akan tertarik kedalam kehidupan kita.

Menjadi keluarga besar Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang adalah keseimbangan ukhrowi dan duniawi. Banyak alumni dan Ahlul Ma’had Luhur yang bisa sukses dan menjadi inspirasi. Mereka membuktikan bahwa mondok bukanlah penghambat segalanya. Kegiatan pondok itu penting, terutama ngaji, jama’ah, istighotsah, dan halaqah. Karena serangkaian kegiatan itu adalah bentuk rasa ta’dzim kita kepada Abah. Jika niatnya benar lillahi ta’ala, semua perkara akan lancar. Kak Lia titip pesan terimakasih untuk keluarga ndalem, orang tua, keluarga, dan sahabat yang setia kasih do’a dan dukungan hingga Kak Lia bisa sampai pada titik ini. Semoga kebaikan kalian akan menjadi berkah dan  manfaat di kemudian hari. (far)