PIDATO KYAI H. IDHAM CHALID, KETUA UMUM P.B. NAHDLATUL ‘ULAMA PADA PERINGATAAN ULANG TAHUN PARTAI N.U. KE 34

0
805

Dalam segi politik dalam Negeri, NAHDLATUL ULAMA lalu mencoba dalam batas-batas yang mungkin menyesuaikan dirinya dengan waktu dan peristiwa dan tidak pernah tampil-baik pun aktif maupun reaktif dengan sesuatu yang absolut dan mutlak-mutlakan. Atas dasar itulah maka orang tidak usah heran mengapa NAHDLATUL ULAMA dua tahun yang lalu dapat mengizinkan Anggotanya duduk dalam Kabinet Karya yang dibentuk secara extra-parlementair, dalam keadaan darurat, padahal NAHDLATUL ULAMA dikenal sebagai Partai penjunjung Parlementarisme yang sehat, sebagaimana yang jelas termaktub dalam Tafsir Azasi-nya dan dilihat dari langkah dan tindak-tanduknya selama ini. Tetapi NAHDLATUL ULAMA cukup mengerti, dalam keadaan apa dan situasi bagaimana dia berada, dan setiap tindakan harus dihitung manfa’at dan madlarat-nya, serta pertimbangan keselamatan Negara dari jurang kehancuran.

Dalam keadaan yang serba darurat ini, maka disamping segenap kerelaan dan kesabaran yang paling prinsipil bagi NAHDLATUL ULAMA dalam menilai sesuatu Kabinet, ialah bahwa: dalam keadaan apapun harus tetap bertanggung jawab kepada Parlemen (yang macam apa pun kata orang) adalah suatu badan yang paling representatif di Negara kita dewasa ini. Atas dasar itulah pula maka ketika persoalan golongan fungsional dicetuskan dalam masyarakat kita, maka NAHDLATUL ‘ULAMA menghadapinya dengan penuh pengertian atas niat yang baik dan juga penuh kewaspadaan dalam menjaga prinsipnya. yaitu: menjaga keselamatan Parlemen dan Parlementarisme yang sehat.

Umpamanya dalam menghadapi persoalan memasukkan golongan funksionil dalam Dewan Perwakilan Rakyat, dalam rangka pelaksanaan demokrasi-terpimpin, maka NAHDLATUL ‘ULAMA dalam menghadapinya dan menyetujuinya itu berlandaskan pada:

Pertama: Undang Dasar Sementara,

Kedua : Persetujuan D.P.R.,

Ketiga : Wewenang Presiden yang diberikan oleh U.U.D.S..

Keempat : Ke-Partaian yang sehat. yang menjadi saluran utama dari demokrasi yang sehat (demokrasi-terpimpin).

Misalnya lagi dalam menyetujui Demokrasi-Terpimpin”, pada umumnya haruslah ditekankan pada perkataan DEMOKRASI”-nya, oleh karena menjadi anutan dikalangan NAHDLATUL ‘ULAMA berdasarkan keyakinan Islam yang menjadi dasar-pokok utama dari Partai ini, bahwa suatu demokrasi yang tidak terpimpin akan bisa menimbulkan anarkisme, sebaliknya sesuatu yang terpimpin tanpa demokrasi mengantarkan kepada Diktatorisme. Baik anarkisme maupun diktatorisme kita tolak secara prinsipil.

Didalam menghadapi perkembangan dalam masyarakat, NAHDALTUL-‘ULAMA selalu berusaha memberikan pernilaian secara obyektief, umpamanya persoalan Party-wezen dan golongan fungsionil.

Secara obyektif haruslah diakui, bahwa antara party-wezen dan golongan fungsionil, baik historis maupun realitis telah terjalin satu dengan lainnya. Maka tidaklah obyektif dan realitis apabila kita ingin memisahkan antara keduanya dengan suatu tembok yang seolah-olah antara satu dengan lainnya ada pertentangan yang tajam, atau seolah-olah antara satu dengan lainnya mempunyai kepentingan yang saling bertentangan

Partai – partai dan golongan fungsionil adalah dwi Tunggal yang tidak bisa dipisahkan,apalagi kita ingin suatu party-wezen yang sehat dan golongan fungsionil yang georganiseerd dan produktif  untuk Negara dan Bangsa.

Contoh-contoh dari sini dapat kita lihat di Negara-negara lain, baik yang masuk Blok Barat, apalagi yang masuk Blok Timur, dimana antara partai-partai dan golongan fungsionil merupakan suatu ancaman dan jalinan yang erat isi mengisi antara yang satu dengan lainya. Hingga merupakan potensi besar untuk membangun negara.

Kita kerap kali merasa menyesal, bahwa orang kerap kali subyektif party-wezen, Adanya beberapa verschiynsel kejelekan-kejelakan dari orang yang kebetulan tergabung dalam suatu Partai, dijadikan alasan untuk menilai bahwa party-wezen itu jelek. Ini sungguh tidak obyektif. Sebagaimana tidak obyektif kalau orang menilai golongan fungsionil hanya dari kejelekan yang dibuat oleh beberapa orang yang tergabung dalam suatu golongan fungsionil. Memang sangatlah disesalkan, bahwa oleh karena baik Partai-Partai maupun golongan fungsionil terdiri juga dari manusia-manusia yang tidak lepas dari kebaikan-kebaikan, maka tidak sunyi selalu ada saja kemungkinan ditumpangi oleh proviteurs yang mementingkan diri sendiri yang hanya menunggangi atau menjual nama golongan, untuk memuaskan nafsu ammarah bis suu’! Sekali lag kita harus obyektif dalam memandang sesuatu, apabila kita ingin Negara kita ini benar menuju masyarakat yang adil, makmur, sentosa dan diridhoi oleh Allah s.w.t.

NAHDLATUL ‘ULAMA menyambut dengan sangat gembira atas hasrat P.J.M. Presiden dalam cita-cita beliau yang baik (yaitu menyederhanakan Partai-Partai). Oleh karena NAHDLATUL ‘ULAMA pun tidak menyetujui adanya multi-party-wezen. Memang haruslah di akui bahwa multi-party-wezen banyak menghambat dan memperlambat pembangunan dan stabilisasi Negara disegala lapangan. Tetapi sangatlah disayangkan, bahwa cita-cita yang baik dari Presiden ini yang sebenarnya tidak menyetujui multi-party-wezen, lalu disalahgunakan oleh sebagian orang untuk mencaki-maki party-wezen seluruhnya dengan menutup mata atas kebaikan-kebaikan yang ada, dari party-wezen yang redelijk, dan menutup mata atas jumlah massa yang begitu besar yang berdiri dibelakang party-party yang riil, umpamanya empat Partai besar yang dalam pemilihan umum yang lalu dan pemilihn umum baru-baru ini saja masih mendapat dukungan lebih kurang 30 juta pemilih diseluruh Indonesia.

Para tamu yang kami muliakan,

Para hadirin dan hadirat yang kami hormati.

Sesuai dengan waktunya, dimana banyak orang berbicara tentang soal perekonomian dan pembangunan, maka dalam kesempatan ini saya hanya dapat menyatakan, bahwa NAHDLATUL ‘ULAMA tidak menghendaki suatu masyarakat yang kapitalistis seperti dinegara-negara Blok Barat, dan juga tidak menyetujui suatu masyarakat yang sosialistis sebagai dinegara-negara Soviet Uni dan Blok Timur pada umumnya. Kedua-duanya menurut pandangan kami tidak sesuai dengan kepribadian dan keyakinan yang dianut oleh sebagian besar rakyat Indaonesia yang memeluk Agama Islam.

Adat-istiadat dan kepribadian rakyat kita berbeda dengan rakyat di Amerika dan Soviet Rusia, Rakyat Indonesia yang lebih kurang lima abad menjadi penganut Islam yang setia, telah mempunyai suatu kepribadian sendiri, berkat ajaran Islam yang dianutnya, ajaran Islam yang sesuai dengan tempat dan masa, mempunyai suatu karakter yang spesifik yaitu: Dalam segala persoalannya mengutamakan musyawarah dan segala usahanya mengutamakan gotong-royong. Demikian itu dilapangan Agama, demikian itu dilapangan politik, dan demikian pula dilapangan sosial-ekonomi. Hak milik pribadi selalu dihormati dengan jaminan Agama yang telah menjadi adat-istiadat, asal saja tidak digunakan untuk memeras dan menindas orang lain. Hak milik bersama untuk kesejahteraan bersama, diusahakan pula bersama-sama dengan jalan gotong-royong, mu’awanah dan sebagainya. Oleh karena itulah maka NAHDLATUL ‘ULAMA dalam politik-ekonominya menyetujui agar perusahaan-perusahaan vital dikuasai sebahagian besar oleh Pemerintah dengan tidak usah menutup pintu kemungkinannya pengusaha-pengusaha nasional untuk ikut serta dalamnya, dalam prosentase yang tertentu. Dan terhadap pengusaha-pengusaha nasional (private enterprise) diberikan bimbingan dan didikan, agar mereka menyadari bahwa setiap milik yang diberikan ALLAH SWT. kepadanya dengan rakhmat dan karunia Nya, mempunyai effek-sosial, juga untuk kebahagiaan masyarakat sekelilingnya, disamping kebahagiaan diri dan keluarganya.

Atas dasar-dasar pokok inilah maka NAHDLATUL ‘ULAMA bertolak dan memulai langkahnya dalam menyumbangkan khidmahnya untuk mencapai cita-cita masyarakat yang adil dan makmur, yang diridloi oleh ALLAH SWT., sesuai dengan firman-Nya:

وَابْتَغِ فِيمَا أَتَاكَ اللهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاحْسِنُ كَمَا أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبِغ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إنَّ اللهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ    القصص ٧٧

 Indonesianya:

“Dan tuntutlah olehmu kebahagiaan akhirat dengan bekal yang telah dikeruniakan ALLAH kepadamu, dan jangan-lah kamu lupakan peranan duniawiamu. Sesudah itu, berbuat-baiklah kamu sebagaimana ALLAH telah berbuat baik kepa-amu. Dan janganlah kamu berbuat bencana (menyusahkan orang banyak) karena ALLAH tidak suka kepada orang-orang yang berbuat bencana“. Al-Qashash 77.

Sampailah pidato saya pada bagian yang terakhir, dengan harapan do’a serta restu pangetu para tamu dan para hadirin sekalian, semoga dalam menghadapi tahun-tahun yang sedang dan yang akan kita lalui. kami para pengemudi dan warga NÄHDLATUL ULAMA senantiasa diberkahi kekuatan lahir-batin, ditunjuki ALLAH jalan yang benar, supaya dengan demikian menjadilah Partai NAHDLATUL ‘ULAMA sesuatu yang mendatangkan kegembiraan, kebajikan dan kemaslahatan untuk segenap masyarakat, Bangsa dan Negara. Ya ALLAH, ampunilah dosa-dosa kita sebagaimana ALLAH mengampuni mereka para perintis dan pelopor NAHDLATUL ‘ULAMA yang telah mendahului kita dengan maghfirah dan rahmatnya, berilah kita petunjuk sebagaimana ALLAH telah memberikan mereka petunjuk dan pertolongan-Nya, serta berikanlah kita janji apa yang ALLAH telah menjanjikan kepada para Rasul-Rasul Utusan-ALLAH dan janganlah hendaknya ALLAH menjadikan kita hina dina pada hari ini dan hari kelak. Bahwasanya ALLAH tidaklah menyalahi janji-Nya.

 Amin!!!!

Wassalamu ‘alaikum war.wab.

Jakarta,

21 Rajab 1378/30 Januari 1959

Penulis : M. Aufa