PIDATO AMANAT KYAI Η. ABDUL WAHAB HASBULLAH PADA SIDANG PEMBUKAAN MU’TAMAR NAHDLATUL ‘ULAMA KE-XXII DI JAKARTA

0
272

saudara-saudara sekalian yang terhormat.

Pada saat-saat yang berat dewasa ini, negara dan tanah air dan kita adalah sebagai putera puterinya sedang menghadapi bermacam-macam kesulitan dan kesukaran. Dalam hal ini Pemerintah dengan sekuat tenaga tiada hentinya meneruskan usaha dan ikhtiarnya untuk mengatasi segala kesulitan dan kesukaran tersebut. Kita masih berhadapan dengan bermacam kekacauan yang mengganggu keamanan yang hingga sekarang belum dapat dipahamkan, kekacauan yang menyebabkan bertambah besarnya peredaran uang yang mengakibatkan kenaikan harga barang dalam segala lapangan kehidupan kita, atau dengan perkataan lain, telah menurunkan nilai uang kita dan merupakan suatu ancaman kearah inflasi yang sangat menakutkan, Pemerintah telah melakukan tindakan drastis pada tanggal 25 Agustus yang lalu, suatu tindakan yang menimbulkan kegoncangan dalam kalangan ekonomi dan keuangan, tetapi kalau tidak dilakukan tindakan tersebut, kita dapat membayangkan bahwa apa yang kita derita dalam lapangan keuangan tentunya akan lebih berat lagi dari pada yang kita alami sekarang ini. Demikianlah kekacauan-kekacauan yang kita hadapi dewasa ini adalah merupakan hambatan dan penghalang yang sangat besar dalam jalan kita menuju kearah kemajuan dan pembangunan dalam segala lapangan.

Saudara-saudara sekalian yang terhormat.

Adapun manusia -saudara-saudara sekalian- dalam menghadapi kesulitan dan kesukaran, dapat dibagi menjadi dua golongan, (a) golongan yang putus harapan, (b) golongan yang berharapan baik. Termasuk golongan yang pertama, ialah orang yang melihat kepada hari depan dengan dada yang sesak, ia diliputi oleh awan putus asa yang sangat gelap, ia menggambarkan keburukan yang berada dihadapannya, menghawatirkan datangnya bahaya yang mengancam dan karena itu ia selalu takut berbuat sesuatu, dalam pandangannya yang nampak hanya segala keburukan dan kejahatan yang dilakukan oleh manusia dalam masyarakat hidup ini, tiada habisnya ia berkeluh kesah dari pada keadaan dunia ini sekalipun ia tenggelam dalam keni’matan dunia, ia selalu memperingatkan dirinya atas segala keburukan yang telah lewat dan menakut-nakutkan orang akan jatuh dalam bahaya dan membayangkan bencana yang mengancam apabila orang salah perhitungan, ia telah senang dengan pandangan hidupnya dengan mempergunakan kacamata hitam sehingga ia hanya melihat warna yang hitam dalam segala sesuatu yang berada dihadapannya. Allah s.w.t. berfirman: “Mereka mendesak kepadamu untuk mempercepat datangnya keburukan sebelum datangnya kebaikan, padahal telah lampau sebelum mereka bermacam siksaan. Sesungguhnya Tuhanmu adalah pemberi ampun kepada manusia atas kedzaliman yang mereka perbuat dan sesungguhnya Tuhanmu memberikan siksa yang sangat berat”. (6 Ar-Ra’d).

Adapun golongan yang kedua, ialah orang berharapan baik, ia selalu memandang kepada hari depan dengan penuh kepercayaan dan ketenangan hati, ia hidup dalam sinar cahaya yang penuh harapan, ia menunggu datangnya sinar matahari dari belakang awan dan mendung. ia berjalan terus dalam karya hidupnya bersandarkan kepada ketabahan dan ketetapan hati, tidak pernah ia mengeluh dan menyatakan penyesalannya, ia menghias dirinya dengan kesederhanaan, tidak melupakan daratan karena mendapat keni’matan yang melimpah-limpah dan tidak kehilangan pegangan apabila kebahagiaannya menjadi lenyap, la menyerahkan diri kepada Allah s.w.t. tidak gelisah ketika menderita menyerahkan selalu bersyukur kepada Allah swt dalam setiap keni’matan yang dikaruniakan kepadanya. Ia didalam pergaulan hidup dapat memancarkan rasa damai dan kejernihan dimana ia berada. Ia berusaha memberikan hiburan kepada orang lain yang sedang sesak dadanya karena penderitaan hidup, ia selalu berpegangan kepada tali-harapan apabila la nampak memancang. Tiada putusnya ia mempersembahkan puji kepada Allah s.w.t. tentang segala keadaan dunia ini sekalipun ia berada dibawah tekanan hidup yang seberat-beratnya, ia bersedia menghadapi suatu pertanggungan jawab dengan air muka yang jernih sekalipun ia memikul beban yang sangat berat daripadanya.

Demikianlah sifat orang yang berharapan baik dan demikian pula sifat orang yang putus-harapan. Sungguh sangat jauh berbeda antara sifat kedua golongan tersebut. Dan bagi kita yang sedang menghadapi bermacam kesulitan dan kesukaran yang dialami oleh negara dan tanah. air kita dewasa ini, kami lebih mengutamakan supaya kita termasuk dalam golongan yang berharapan baik.

Selanjutnya patutlah bagi setiap orang daripada kita bermohon kepada Allah s.w.t. mengangkat kedua tangan kita dengan membacakan do’a yang telah diterangkan oleh Allah dalam kitab sucinya: “O, Tuhan- ku, berikanlah petunjuk kepadaku untuk menyatakan syukur atas ni’mat yang telah engkau anugerahkan kepada saya dan kepada kedua orangtua saya agar saya dapat menyalankan kebaikan yang sesuai dengan keridloanmu dan berikanlah kemaslahatan kepada saya dalam lingkungan keluarga dan keturunan saya, saya bertaubat kepadaMu, dan saya adalah termasuk golongan orang-orang yang beragama Islam.” (15 Al-Ahqaaf).

Kemudian para Ulama yang mulia dan saudara sekalian yang terhormat, sebagai penutup, kami sampaikan kata-pengunci yang kami harapkan dapat saudara-saudara terima dengan baik.

Adalah sudah semestinya bagi kita para Ulama-Ulama adalah waris, menerima peninggalan dari para Nabi hendaknya kita patut menjadi contoh teladan yang baik bagi umat dan bangsa, selanjutnya kita bersedia menjadi penunjuk jalan menuju kearah jalan yang lurus, jalan kebenaran. Harapan kami kepada Saudara para Ulama, hendaknya saudara dapat menempatkan diri menjadi orang-orang pilihan yang utama, yang sejak semula hidup dalam suasana taat kepada Allah s.w.t. dan berjuang menempuh jalan yang ditentukan oleh Allah s.w.t. bersedia meninggalkan keinginan yang buruk karena patuh kepada Allah, dan menyingkirkan segala syahwat untuk mendapatkan keridho’anNya, selalu bersedia datang mengunjungi masjid pada waktu orang sedang nyenyak tidur dirumah masing-masing, gelap-gulita pada waktu malampun tidak akan menjadi penghalang untuk mengerjakan sembahyang berjam’ah, sedangkan kesukaran dan penderitaan hidup pun tidak juga akan dapat merintangi usaha memberikan petunjuk kepada ummat. Mereka telah meninggalkan segala kesenangan, hiburan, keenakan dan kebahagiaan yang dapat menjadi penggoda, hanya karena Allah semata-mata.

Karena itulah Allah memberikan penggantinya, kesenangan dan keenaka dalam melakukan beribadat kepada Allah s.w.t. dan hiburan dan kebahagiaan dalam bermunajat kepadaNya. Dalam menempuh jalan yang telah ditentukan oleh Allah tidak ada musuh yang bagaimanapun juga dapat menghalang dan merintang, tidak ada halangan yang besar yang tidak dapat diatasi dan tidak pula ada bahaya yang tidak mungkin dilintasi. Allah s.w.t. berfirman: “dan pasti Allah akan memberikan bantuan kepada orang yang membela agama Nya, sesungguhnya Allah adalah Maha Kuasa dan Maha Menang. Mereka adalah orang-orang yang apabila kami berikan kepada mereka tempat menetap diatas bumi ini, me reka mengeryakan sembahyang, dan mereka mengeluarkan zakat, me reka memerintahkan berbuat kebaikan dan mencegah berbuat keburukan. dan kepada Allah kembalilah segala urusan”. (40-41 Al-Hajj).

Sebagai penutup marilah kita bersama-sama berdo’a kepada Allah s.w.t. “O, Tuhan kami, berikanlah kepada kami daripadaMu rahmat dan siapkanlah untuk kami daripada urusan kami jalan yang benar”. (10 Al-Kahf), „O, Tuhan kami, janganlah Engkau sesatkan hati kami sesudah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan berikan kepada kami dari padaMu rahmat; sesungguhnya Engkau adalah sangat banyak memberi”. (8 Ali Imron). “O, Tuhan kami, berikanlah ampun kepada kami dan kepada saudara-saudara kami yang telah mendahului dami dengan beriman dan yanganlah Engkau jadikan dalam hati ka- mi iri-hati (dengki) terhadap kepada orang yang beriman, ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau adalah Pengasih dan Penyayang“. (10 Al- Hasyr). “O, Tuhan kami, kepadaMu kami menyerahkan diri, kepada Mu kami kembali dan kepadaMu pula kami mendapatkan tempat kembali”. (4 Al-Mumtahanah).

Para Ulama yang kami mulyakan dan saudara-saudara sekalian yang terhormat.

Dengan kata pendahuluan ini kami nyatakan Mu’tamar Nahdlatul Ulama yang ke-22 kami buka!!

Sekian.

Wassalamu alaikum warohmatullohi wabarokaatuh.

Ahirnya karena waktu sudah habis, maka pembahasan tentang Tata Tertib Muktamar yang seharusnya dilakukan malam ini terpaksa ditangguhkan sampai besok hari. Dan tepat pukul 24.00 malam sidang ditutup dengan pembacaan do’a oleh Kyai H. Ridhwan dari Surabaya.

Gambar 3: Halaman awal Pidato KH Abdul Wahab Hasbullah

Referensi:

Buku Hibah Prof. Dr. H. Moh. Koesnoe., S.H. Buku Kenang-Kenangan Mu’tamar ke-XXII Partai Nahdlatul Ulama’ 13-18 Desember 1959 di Jakarta. Koleksi Perpustakaan Pesantren Luhur Malang

Penulis: M. Aufa H