Musafir Spiritual Asal Lamongan

13
55
Prof. Dr. Kyai H. Achmad Mudlor, S.H.

Pra Pesantren – Kebiasaan menjadi santri kelana tercermin dalam pribadi abah Mudlor. Memasuki usia sembilan tahun, beliau sudah tertarik untuk melakukan perjalanan spiritual ke pesantren Sawahan Babat dibawah asuhan Kyai Mudlofar sejak 1948M hingga 1951M. Sumbangsih terbesar pesantren adalah melakukan balancing terhadap ilmu umum dari pendidikan formal. Setamat MI At-Tahdzibiyah, beliau melanjutkan pendidikan ke SGAI Bojonegoro selama tiga tahun dan satu tahun pengabdian di sekolah Muhammadiyah. Tak disangka tak dinyana, beliau setiap hari berangkat pagi-pagi buta.

Letak sekolah yang lumayan jauh menyebabkan beliau harus rela naik kereta api setiap hari setelah shalat shubuh dan sarapan. Hingga para guru dan satpam sekolah hafal dengan tradisi keterlambatan beliau. Namun hal itu seakan tertutupi oleh predikat juara kelas yang selalu diperolehnya. Karena lelah, beliau mulai nyantri kepada kyai Abu Dzar di pesantren Kendal pada 1951M-1952M. Disinilah beliau mulai tertarik dengan orkes sederhana Bunga Tanjung. Saat-saat di pesantren, kekuatan dan “hukum barakah” sangat terasa dan secara gamblang mulai nampak dalam kehidupan Abah Mudlor.

Awal cerita pada tahun 1957, beliau mulai mengajar kelas 4, 5, dan 6 MI Falahiyah Langitan mata pelajaran ilmu sejarah, bahasa indonesia, dan tarikh durusul islamiyah. Kemudian pada tahun yang sama beliau diajak untuk bekerja sama mendirikan Madrasah Tsanawiyah di Lamongan. Seiring dengan semakin instensnya komunikasi antara Abah Mudlor dengan kyai Marzuki, membuat keduanya semakin cocok satu sama lain sehingga Abah Mudlor diangkat menjadi asisten ceramah beliau.”Jangan khawatir, hukum barakah tidak bisa diterka dengan logika manusia” dhawuh Kyai Marzuki ketika Abah mengungkapkan kekhawatirannya karena banyak off dari ngaji. Dan akhirnya terbukti, Abah menjadi penceramah handal yang namanya mulai dikenal oleh mustami’ mulai wilayah Tuban hingga Babat, Lamogan.

Mendirikan Forum Halaqah – Dari tasawuf hingga filsafat, dari kimia hingga biologi, dibahas dalam halaqah santri disela pengajian kitab salaf. Penggalian ilmu ini menggunakan metode disputatio (metode tanya jawab dari Socrates, filsuf Yunani kuno) membuat halaqah semakin hidup. Dengan Argumentum ad Judicia, tidak sekedar omong kosong tanpa bukti, perbendaharaan ilmu tidak hanya berpijak pada logika buta. Melainkan melalui bukti-bukti ilmiah.

Mengikuti Jejak Imam M. Hakim At-tirmidzi – Nemplok sana sini untuk mencari ilmu menjadi rutinitas Abah Muhdlor selama hidup beliau. Hal ini beliau lakukan karena terinspirasi dari Imam M. Hakim At-tirmidzi yang mempunyai ratusan guru dengan salah satunya adalah nabi Khidzir. Meneladani hal ini beliau pergi ke Pesantren As-Salam Yogyakarta setiap liburan cawu madrasah menggunakan sepeda ban “kompan”. Disini beliau mendekati kyai-kyai kecil untuk membacakan kitab kepada beliau dengan imbalan Bisyarah seadanya. Hingga hanya dalam kurun waktu seminggu, beliau bisa melahap hampir empat kitab seperti Fathu Al-umar, Qomi’ At-thughyan, Fathu  Al-Qorib dsb. Tidak hanya belajar kitab, beliau juga belajar “ndukun”.

Mbah Suro Tegal Gubuk Cirebon (nama asli Syeikh Muhammad Idris), pengasuh pesantren di Cirebon mengajari abah Muhdlor hal-hal magis dengan frekuensi seminggu atau dua minggu sekali. Disana beliau mempelajari beberapa hizib seperti Hizib Nashor,Hizib al-A‘aadzim, Hizb Al-Bann, Hizib an-Nahri, Hizib Dauri Al-A’laa dan hizib-hizib lainnya. Setiap kali datang, mbah Suro selalu bertanya sejauh mana pemahaman tentang materi sebelumnya. kemudian dibahas hingga abah Muhdlor benar-benar paham.

Jalan-jalan dengan Ndoro – Agaknya kisah Nabi Musa bersama Nabi Khidir terulang dalam kisah abah Muhdlor dengan Sayyid Muhammad Al-Jufri dari makam Bonang. Beliau dikabarkan sebagai seorang wali yang memberikan ijazah Dalail pada abah Muhdlor. Bermula dari dibangunkannya beliau oleh sayyid dengan cara yang cukup tidak mengenakkan, beliau dipanggil kyai ke ndalem. Saat itu kyai meminta abah Muhdlor untuk menemani ndoro (panggilan untuk sayyid Muhamad Al-Jufri) menuju PT. Semen Gresik untuk meminta bantuan semen bagi pembangunan pesantren. Beberapa hal kurang lazim selama perjalanan itupun terjadi.

Ketidak laziman tersebut bermula ketika meminta tanda tangan pejabat daerah yang tidak sesuai prosedur tanpa adanya debat, protes, maupun gerutuan. Kemudian selepas menyeberangi sungai Bengawan Solo untuk menuju Babat, orang-orang ‘alim bahkan habib mencium tangan sayyid seakan bersua dengan kyainya. Berlanjut ketika singgah menunaikan sholat Isya’, sayyid mengencingi “kobokan” kaki di depan masjid. Ketika melihat bahwa kolam itu suci, maka abah menegur sayyid. Namun beliau hanya diam, sehingga abah meminta pengurus masjid untuk mengurasnya. Hal tidak masuk akal lain juga terjadi sesampainya di kediaman prof. Ibrahim (Direktur PT. Semen gresik).

Awalnya, Prof. Ibrahim sedang pergi ke Jakarta, sehingga abah dan ndoro memilih kembali ke pesantren dengan rasa kecewa. Namun belum terlalu jauh, sayyid meminta untuk kembali. Abah Muhdlor pun menegurnya hingga ndoro berkata “iya, nurut saja, ayo kita balik ke Semen Gresik sekarang”. Setelah kembali ternyata prof. Ibrahim ada dikediamannya, tidak jadi ke Jakarta karena undangannya ketinggalan. Sepulangnya dari sana dengan hati gembira karena mendapat respon positif, mereka melewati langgar (penyebutan orang Jawa untuk mushola) di ujung perempatan jalan Sentolang dan sayyid berkata bahwa langgar itu akan menjadi masjid besar. Hal itu terbukti kemudian ketika abah melewatinya pada tahun 1963M. “Le, dalam rentang tiga tahun terakhir, segeralah keluar dari langitan, kamu bisa memilih Semarang, Yogyakarta, atau Malang kalau kamu ndak mau rugi” ucap ndoro waktu itu, sehingga abah memilih Malang sebagai tempat berjuang yang karyanya tetap ada sampai saat ini.

Narsis dalam NU – Dalang ulung dibalik kesuksesan abah Muhdlor adalah ayah beliau. Melalui percakapan beliau dengan Kyai Marzuki, abah menjadi mengetahui bahwa ayah beliau menitipkan uang kepada pengasuh sebagai honor putranya. Ayahnya yang cinta mati pada NU berpesan agar abah Muhdlor menyampaikan ceramah agitatif menentang PKI dan Masyumi. Beliau pun secara sadar dan tanpa paksaan menerima NU sebagai ladang untuk berjuang. NU sendiri tak lepas dengan yang namanya Thoriqot mu’tabarah. Salah satunya adalah thoriqot Syatariyah oleh Abdullah Syattar.

Perkembangan Thoriqot Syatariyah tidak lepas dari peran abah. Beliau pernah dinobatkan menjadi penasihat pimpinan pusat Thoriqot Mu’tabaroh Indonesia peridoe 2004-2009. Selain itu, beliau juga pernah menjadi penasihat Thariqat Syatariyah Provinsi Jawa Timur dan sekretaris Thariqah Mu’tabarah Provinsi Jawa Timur. Abah Mudlor berargumen bahwa thariqat tidak selalu dilakukan dalam majlis dzikir seperti yang banyak terjadi, melainkan dengan menjaga nilai-nilai sufistis sekaligus secara terus menerus ikhtiar untuk mencoba melalui ‘aqobah-‘aqobah yang tertuang dalam kitab Minhajul abidin.

Zuhud – “Setelah kehilangan seratus juta kemarin, bagaimana perasaan abah ?”  sebuah peristiwa yang unik ketika abah secara langsung meletakkan uang seratus juta secara sembarangan hanya demi menghormati tamu, dan tidak diketahui keberadaanya setelahnya. Beliau tidak pernah mempermasalahkan harta pribadi untuk umat. Seperti halnya dengan  tanah beliau yang terdapat di depan Masjid Sabilillah Lamongan dijual kepada FAI UNISLA dengan harga 25 juta padahal bisa laku 100 juta. Kemudian menghibahkan satu-satunya rumah beliau di Senggrong Bulu Lawang untuk dijadikan masjid. Banyak harta pribadi beliau yang digunakan untuk pembanguan UNSURI, Klinik rawat Inap 45, dan madrasah, serta untuk kepentingan umat lainnya. Sungguh semangat triple-co (co-ownership, co-responsibility, co-determination) mendarah daging dalam diri beliau.  Lahul fatihah.

13 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here