Abah Mudlor : Kesan Selayang Pandang

0
1137

Boden Powell Vs Ulah Natherland – Gerakan kepanduan  Indonesia patut bangga karena digandrungi oleh seorang Drs. H. Ahmad Mudlor, SH. Beliau piawai dalam kepemimpinan dan bakat-bakat kepramukaan sehingga dipercaya sebagai ketua regu dan anggota merangkap pelatih di Kwarcab Lamongan (ketika masih SGAR/SMP). Saat-saat yang paling hebat adalah ketika beliau lolos ujian Boden Powell pada taraf Internasional dan berhasil mengantongi tiket ke Negeri Jiran. Namun De mens wikt, God besdhikt – Manusia berusaha, tuhanlah yang menentukan.

Kabar gembira bagi abah harus kandas begitu saja karena pada tahun itu, Belanda melancarkan agresi militernya pada Indonesia. Ketika itu, beliau sudah biasa mengantarkan granat antara desa satu dan desa lainnya dan menyamarkannya dengan dedaunan. Sering juga beliau mengungsi ke berbagai tempat berbeda untuk menghindari Belanda yang tak berperi kemanusiaan. Kenangan-kenangan tersebut masih mengena dalam benak beliau. Bahkan dalam suatu kesempatan, beliau pernah mencontohkan yel-yel regu dalam bahasa Indonesia, Jawa, dan Arab saat masih muda dulu.

Lulus dengan Predikat Summa Cumlaude – Saat terpenting bagi siswa adalah lulus dengan nilai yang baik. Setelah agresi Belanda, abah dan kawan se-angkatan melakukan ujian di pesantren Lamongan. Ujian yang paling ditakuti adalah menghafal 600 bait alfiyah didepan ratusan mustami’. Banyak yang gagal dalam ujian tersebut karena ujian yang bersifat mental-intelektual ini membuat kepanikan tersendiri pada diri murid. Lain halnya dengan abah. Beliau mampu menghafal hingga 700 bait alfiyah, alias melebihi standar. Selain giat menghafal beliau juga memiliki kematangan mental dan keberanian besar. “Jangan berkata saya adalah anaknya fulan bin fulan, tapi katakanlah “Ha huwa ana” (inilah saya), Ali bin Abi Thalib.

Sekilas Rekam Pendidikan – Empat tahun SGAI terbayar dengan sempurna ketika abah Mudlor hanya menempuh SMA-C selama 2 tahun. Akselerasi “Loss” tanpa batas dialami beliau ketika berada di Malang. Secara berjenjang, beliau berhasil menempuh ujian doktoral-propedous, Candidat, Bakaloriat, Doktoral I dan Doktoral II tanpa harus mengikuti kelas formal. Tentu hal ini berkaitan dengan kedekatan beliau dengan Prof. Dr. Moch Koesnoe. Rektor UNNU tersebut berniat untuk mempertahankan abah agar tetap di Malang karena mereka memiliki ideografi yang sama serta etos kerja abah yang gesit dan amanah. Sehingga hal yang seharusnya tercapai setelah bertahun-tahun, bagi abah Mudlor hanya cukup beberapa bulan saja.

Gelar akademik abah bukan sekedar omong kosong. Ketika hendak ujian, abah meminjam buku catatan  mahasiswa selama 3 hari untuk dicatat kembali dan dipelajari. Trik belajar beliau adalah menghafal dan menguasai buku wajib untuk masing-masing mata kuliah dengan selektif memilih materi inti. Prestie selalu beliau dapatkan setiap lulus ujian. Lulus Propedous beliau diangkat menjadi asisten mahasiswa. Lulus ujian Kandidat ditunjuk menjadi Bi’tsatul hajj dan mengemban misi misionaris Islam di Gunung Agung, Bali. Pada tahun yang sama, Prof. Dr. Moh. Koesnoe mendapatkan dua tiket haji sehingga beliau turut mengajak abah Muhdlor untuk bersua dengan Baitullah.

Lulus Bakaloriat, abah diangkat menjadi asisten dari dua dosen sekaligus, salah satunya spesifikasi ilmu Balaghah. Beliau juga ditunjuk menjadi utusan rektor dalam kegiatan tertentu jika Prof. Koesnoe berhalangan. Ujian Doktoral II beliau membuat tulisan ilmiah berjudul “Filsafat Tujuan Umum Nasional di Negara Republik Indonesia”. Abah memang orang yang sudah banyak makan garam seputar agama. Tidak sulit bagi abah untuk memahami pemikiran filsuf islam mulai dari asumsi dasar, paradigma, dogma, sekaligus doktrin serta aplikasinya dalam kehidupan. Kehidupan pesantren banyak berperan andil dalam keluasan pengetahuan beliau. Salah satu kontribusi beliau adalah menjadi ketua Lembaga Riset Islam Pesantren Luhur Malang yang melakukan penelitian dan pemugaran Sunan Giri. Menghasilkan buku berjudul “Sejarah Perkembangan dan Dakwah Islamiyah Sunan Giri”. Sungguh sebuah potret nyata perjuangan.

Disertasi Unik – Kapabilitas Intelektual Abah Mudlor yang telah teruji menggelitik rektor IAIN Surabaya (Abdul Jabar) untuk menobatkan beliau sebagai guru besar filsafat pendidikan IAIN. Untuk mencapai gelar tersebut, harus menempuh ujian penyetaraan setaraf doktor dengan mengajukan satu judul disertasi. Prof. Dr. Moch Koesnoe menyarankan dua judul untuk disertasi Abah Mudlor “Riset Ronggowarsito adalah Pemimpin Thariqat di Tanah Jawa”, dan judul kedua “Analisis Transendental Tentang Eksistensi Jin Menurut Al-Qur’an dan Pengaruhnya Terhadap SDM.” Setelah berbincang-bincang lama dengan Prof. Koesnoe, akhirnya Abah Mudlor mengambil tema kedua untuk disertasinya dengan alasan tema kedua hanya memakai studi literatur, sedangkan jika memilih judul pertama haru melakukan research lapangan.

Singkatnya, setelah mendapat acc dari IAIN Surabaya, beliau pergi ke Jakarta menemui tim guru besar Departemen Agama, AIMS. Namun, pihak AIMS menolak judul tersebut dengan alasan justifikatif. Menurut mereka, analisis transendental tidak memiliki metode penelitian. Padahal alasan yang paling fundamental adalah konflik aliran. Anggota AIMS yang didominasi faham hanafiah hampir semuanya mengetahui bahwa Abah Mudlor merupakan tokoh berpengaruh di IAIN pada masanya. Dengan menyetujui proposal itu, sama halnya dengan menopang popularitas Abah Mudlor sebagai tokoh NU. Abah Mudlor kembali ke Malang dengan rasa kecewa, begitu pula Prof. Dr. Moch. Koesnoe.

Akhirnya Prof. Koesnoe menghubungi salah satu temannya di Univeritas Leiden Belanda – Presiden Harvard International University, Harris Robert. Cabang universitas ini dibuka di Jakarta dan Singapura. Akhirnya Prof. Koesnoe meminta agar Universitas Hardvard bersedia menguji disertasi yang diajukan Abah Mudlor. Prof. Koesnoe menegaskan bahwa bukan esensi jin yang diteliti melainkan relasi keberadaan jin dan pengaruhnya terhadap sumberdaya manusia, akhirnya merekapun menyetujuinya. Pembahasan yang radikal, sistematis, dan logis dipaparkan Abah Mudlor dengan gaya tulisan yang gamblang. Didepan Punggawa Harvard International University, Abah Mudlor memaparkan disertasinya dengan gaya tutur yang confidence dan dinyatakan lulus dengan gelar Doktor pada 10 Desember 2000. Sertifikat kelulusan tercatat dilayangkan dari San Fransisco, California, United Stade of Amerika.

Orientasi Berpikir dalam Ilmu Pengetahuan – Think is the term to name the activities of creating of meaning, using of meaning and testing of meaning – Berpikir adalah istilah yang digunakan untuk menamai aktivitas penciptaan, penggunaan, dan pengevaluasian makna. Titik eminen yang selalu ditekankan abah Muhdlor adalah berfikir holistik, terutama dalam berfilsafat. Filsafat tidak terkait dengan hal-hal fisis saja melainkan menyentuh wilayah metafisis yang maha luas adanya. Isi pidato abah “Orientasi Berpikir dalam Ilmu pengetahuan” sebanyak 6 kuarto memberikan sumbangsih atas dikukuhkannya beliau sebagai guru besar (Professor) Filsafat di American Institut of Management Study, yang berpusat di Honolulu, Hawai pada 25 Juni 2000. Sebuah prestasi yang luar biasa.

Digulingkan gara-gara Ibn Taimiyah – Agaknya 28 Juni 1986 merupakan hari dimana Nur Kholish Majid (Cak Nur), punggawa HMI harus menelan pil pahit atas sanggahan abah Muhdlor tentang keyakinan cak Nur terhadap Ibn Taimiyah. Awalnya seminar berlangsung dengan semangat yang berkobar atas pembahasan dan jawaban cak Nur yang logis dan skematis. Audiens sangat antusias dalam mendengarkan paparan sang mujaddid abad 20 ini. Namun riuh rendah itu seketika terhenti ketika dosen filsafat umum dan Balaghah IAIN, Drs. H. Ahmad Muhdlor, SH. mulai mengutarakan sanggahannya.

Abah Muhdlor mengungkapkan secara gamblang ketidakkonsistenan Ibnu Taimiyah dalam setiap gagasannya. Nampak jelas bahwa pemikir syiria itu mematahkan gagasan politiknya dengan karyanya sendiri dalam buku A Soft Histoty Of Revival Movement is Islam. Kemudian pemikiran Ibnu Taimiyah “esse est percipi” juga bertolak belakang dengan rumusan definisinya sendiri “hakikat itu yang secara empirik terlihat dan bukan berada dalam jiwa”. Juga ada gagasan Ibnu Taimiyah yang mengesampingkan sifat wajib Allah Laisa Kamitslihi Syaiun. Atas sanggahan dari abah itu, akhirnya cak Nur pulang dengan berbagai pertanyaan terkait kajian kembali Ibnu Taimiyah.

Matang di Dunia Kehakiman – Experience in that all knowledge founded (John Lock), terjadi pada diri abah Muhdlor. Menjadi asisten dosen sekaligus mengemban amanah untuk mengelola STIH Malang membuat abah tak asing dengan atmosfer dunia kehakiman. Pesantren Dander, Sawahan, dan Langitan juga turut andil dalam pemahaman Syari’at abah yang mumpuni. Hingga kemudian Bustanul Arifin, SH, ketua pengadilan agama merekrut abah untuk menjadi hakim anggota pengadilan agama setempat resmi dalam SK Dirjen Bimas Jakarta No. 1727/D1/1975.

Salah satu dokumen Pesantren Luhur berupa Kartu Hakim Pengadilan Agama Malang milik Abah Mudlor
Salah satu dokumen Pesantren Luhur berupa Kartu Hakim Pengadilan Agama Malang milik Abah Mudlor

Aku dan Filsafat – Menjadi profesor in Philosophy of science oleh American institute ofmanagement study bukanlah hal yang dapat diraih dengan mudah. Memadatkan hari dengan wacana filsafat merupakan salah satu bentuk readiness untuk mencapai gelar professor. Keistiqomahan inilah yang membuat abah begitu produktif dalam menghasilkan karya tulis dalam berbagai genre filsafat dan agama. Contohnya adalah buku “Filsafat Ilmu Pengetahuan dan “Filsafat Tujuan Pendidikan Islam”. Begitulah kisah hidup abah yang tak pernah lepas dari jerat kuat ilmu. Dimanapun dan kapanpun ilmu selalu meliputi beliau. Kerennya, tak hanya ilmu umum, agama dan filsafat, ilmu tentang kepemimpinan dan juga kepanduan juga turut mengalir dalam diri beliau. Sungguh sosok yang menginspirasi jiwa muda yang haus akan pengalaman dan pengetahuan. Al-Fatihah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here