Potret Sang Cendekiawan Sekaligus Aktivis Gerakan Kepanduan

8
99

Dikenal sebagai sosok yang religius intelektualis, siapa sangka sosok Kyai yang satu ini dulunya adalah anggota kepanduan Indonesia, lho.  Beliau adalah guru kita Prof. Dr. KH. Ahmad Mudlor, pengasuh Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Tidak hanya berkecimpung pada bidang keilmuan saja, beliau juga aktif dalam bersosialisasi dan berorganisasi. Hal ini dibuktikan dengan keikutsertaan Abah Mudlor pada organisasi kepanduan.

Perjalanan beliau dalam mengikuti organisasi kepanduan dimulai dari ketika beliau masih duduk di bangku kelas empat Madrasah Ibtidaiyyah At Tahdzibiyah. Dari sinilah beliau bersaing dengan pandu-pandu lain, diantaranya Anshor milik NU, Hizbul Wathon milik Muhammadiyah, dan juga rakyat Indonesia. Kepanduan merupakan gerakan pembinaan pemuda yang memiliki pengaruh  di dunia. Gerakan ini terdiri dari berbagai organisasi kepemudaan yang ditujukkan kepada pria maupun wanita untuk melatih fisik, mental, dan juga spiritual bagi anggotanya yang diharapkan mampu memberi sumbangsih positif bagi masyarakat.

Dalam kepanduan, sering didengar istilah perkemahan Sabtu-Minggu (Persami). Ketika itu perkemahan digelar di bumi perkemahan Dander, Bojonegoro. Rasa antusias dan kecakapannya dalam bidang kepanduan, membuat Abah Mudlor dipercaya oleh teman satu regunya untuk menjadi ketua regu, Regu Betet namanya. Regu ini memiliki tujuh anggota yang kesemuanya memiliki strata kemampuan yang berbeda.

Selain kegiatan kepanduan, Abah Mudlor juga tertarik dengan kegiatan yang disebut Standen. Standen merupakan salah satu cabang kepanduan yang di dalamnya banyak kegiatan-kegiatan fisikal. Seperti hand-stand, push-up, sit-up, roliing dan sebagainya. Adanya kegiatan ini berdampak pada fisik Abah Mudlor yang cukup kuat dan tanggung untuk berjuang.

Kemahiran dan kecakapan Abah Mudlor dalam kepanduan dihadapkan pada ujian taraf internasional, yang bernama Boden Powell. Nama ini diambil dari nama Bapak Kepanduan Dunia yang merupakan Robert Boden Powell. Materi yang diujikan tidak jauh dari materi kepanduan seperti morse, tali temali, semaphore, berenang, mengukur tinggi pohon, mengukur lebar sungai, hingga memasak dengan peralatan seadanya.

Pada saat itu, Abah Mudlor mendapat tawaran dari kakak pembinanya untuk mengikuti ujian taraf internasional tersebut. Beliau pun bersedia dan tidak keberatan ketika mendapat tawaran ini. Salah satu pengalaman menarik yang beliau ceritakan adalah jenis ujian yang memasak nasi tanpa alat. Caranya beras yang telah dicuci bersih dibungkus daun pisang, lalu diletakkan di dalam galian lubang berisi pasir, kemudian di atasnya diletakkan anyaman bambu “sesek”, lalu ditutup lagi dengan pasir. Kurang dari setengah jam, nasi sudah matang. Siapa saja yang lulus dalam ujian Boden Powell tahun itu, mendapat kesempatan untuk bertemu pandu dari seluruh dunia tepatnya di negeri Jiran Malaysia. Dengan berbekal rasa suka dan serius dalam kepanduan, Abah Mudlor lulus dalam ujian itu. Pada saat itu beliau masih duduk di kelas VI MI At Tahdzibiyyah. Tentunya Abah Mudlor sangat bangga atas pencapaian itu. Di usianya yang masih belia, beliau telah mendapat kesempatan untuk berkunjung ke negeri tetangga.

De mens wikt, God besdhikt – manusia berusaha, Tuhan yang menentukan. Kabar gembira itu mendadak dibatalkan lantaran mendaratnya Belanda di pangkalan udara Maguwo tanggal 19 Desember 1948. Agresi militer Belanda kedua pun terjadi. Serangan Belanda tidak hanya di wilayah ibu kota, bahkan pelosok tanah air, tak terkecuali Jawa Timur termasuk daerah Gresik, Lamongan, Bojonegoro dan Tuban.  Insiden bengis terjadi di Kabupaten Lamongan tahun 1949. Dampak dari adanya agresi ini yaitu kerusakan infrastruktur, mundurnya perekonomian, serta kondisi sosial masyarakat yang kacau balau. Selain itu sekolah sekolah pun ditutup termasuk di dalamnya MI At-Tahdzibiyyah. Alhasil berita gembira seputar keberangkatan ke Negeri Jiran pun tidak terealisasi karena situasi yang tidak mendukung.

Namun, semangat kepanduan beliau tetap membara di jiwanya. Saat duduk di bangku SGAR (setaraf SMP), beliau kembali terjun dalam dunia kepanduan, tepatnya di Kwarcab Lamongan dan menjabat sebagai anggota. Oleh karena kemahirannya dalam bidang kepanduan, Abah Mudlor sering sekali diminta untuk melatih para pandu di tingkat kwarancab. Atas dasar kecintaannya. Abah Mudlor pun bersedia menjalankan tugas sebagai Pembina.

Istilah kepanduan dalam perkembangan selanjutnya berubah menjadi kepramukaan. Gerakan pramuka pada hakikatnya merupakan kelanjutan dan pembaharuan dari Gerakan Kepanduan. Dengan adanya kisah perjalanan Abah Mudlor dalam berorganisasi menjadikan kita untuk senantiasa bersemangat dalam berjuang. Tidak hanya dalam bidang ilmu pengetahuan tetapi juga cara bersosialisasi terhadap masyarakat. Karena mau tidak mau manusia sebagai makhluk sosial hidup berdampingan dengan orang lain.(Nly)

Sumber : Sholicha, Lia. 2011. Mujtahid, Mujaddid, Mujahid. Lamongan : UNISLA Press.

8 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here