Mengingat Sekelebat Bayang Abah

2
299

Ini adalah cerita sekilas dari seorang santri yang sangat cinta dengan Kyainya. Ini bukan sekedar bualan belaka ataupun cerita fiktif yang diragukan kebenarannya. Ini adalah satu dari ribuan cerita hebat dari seorang murobbi ruuhina Prof. Dr. Kyai H. Achmad Mudlor, S.H, sebuah sudut pandang dari ribuan sudut pandang manusia yang mengenal beliau. Baik sebagai keluarga, teman kelas, tetangga, hingga santri dan jajaran manusia intelektual dari berbagai bidang dan instansi. Seorang santri yang begitu cinta kepada kyainya  menceritakan sebuah kisah yang begitu berkesan bagi siapapun yang membaca dan mendengarnya.

Gus Bahrun Amiq adalah santri yang mondok di pesantren luhur pada Senin, 1 september 1997. Kini, beliau menjadi salah satu dewan Kyai Lembaga Tinggi Pesantren Luhur yang mengajar kitab Tafsir Jalalain secara virtual. Beliau mengatakan bahwa Abah Mudlor merupakan sosok yang Bloko Suto (apa adanya). Sebuah cerita menarik ketika gus Amiq dan orang tuanya sowan ke abah. Abah berkata pada orang tua gus Amiq bahwa ” Anak samean akan saya jadikan macan, yang berarti berani , tidak takut ketika sudah keluar, bukan ghonam (kambing)”.

Beliau berkata bahwa

العلم بالتعليم و البركة بالخدمة

Ilmu itu bisa didapat dengan  belajar sedangkan barokah itu bisa didapat dengan khidmah ( ngawulo = ngabdi )

Abah Mudlor tidak hanya mendidik intelektualitas santri, namun juga mengasah mentalitas hikmahnya. Hal ini terbukti ketika gus Amiq masih menjadi santri baru. Pada suatu hari, Abah mudlor memanggil beliau. Sebagaimana lazimnya santri baru, beliau merasa senang sekali ketika dipanggil oleh kyai. Sesampainya disana beliau malah disuruh untuk mengangkat sebuah lemari  yang sangat besar.  Beliau berkata bahwa saat itu ada putrinya beliau yang akan melahirkan anak pertamanya pada tahun 1997. Kemudian, diangkatlah lemari itu bersama dengan Abah . Pada waktu itulah gus Amiq dilatih mentalnya untuk menjadi pribadi yang kuat.

Ketika abah menerapkan barokatul ilmi wal hikmah beliau tidak pernah meninggalkan santrinya dan selalu mendampinginya.  Beliau adalah orang yang mengajarkan santrinya untuk selalu bertanggung jawab. Ketika tanggung jawab tidak selesai, maka beliau tidak segan-segan untuk memarahinya. Disamping itu, beliau juga merupakan sosok yang begitu mudah srawung dan cocok untuk  diajak bermusyawarah dan berargumentasi. Beliau juga seorang yang Istiqomah. Terbukti dengan wiridan yang kuat hingga bisa dijuluki dengan

كنز العلم ، كنز الاحزاب، كنز الدعاء  artinya “Gudangnya ilmu, hizib,dan doa”

Beliau menguasai berbagai macam ilmu serta memiliki hafalan yang kuat. Hal ini terbukti dari warisan beliau terhadap pesantren Luhur berupa halaqah ilmiah. Kemampuan keilmuan beliau tidaklah secara tiba-tiba, melainkan berasal dari ihtisab yang berarti membaca lalu diamalkan. Prinsipnya adalah “Membaca itu penting, tapi berpikir itu lebih penting.”. dari sini dapat diambil pelajaran bahwa manusia baik dari kalangan pelajar maupun bukan, memiliki kewajiban berpikir disamping belajar. Analogi sederhananya adalah bahwa apabila ada teman yang sakit, maka sebagai seorang teman dan sesama manusia tidak boleh mengetahui saja (dengan kata lain hanya membaca). Melainkan juga berpikir tentang bagaiman cara menolong dia dengan memberi obat. Inilah yang menjadi filosofis adanya Triple Co (Co Determination, Co Ownership, dan Co Responsibility). Berdasarkan ihtisab ini, maka munculah ide untuk mengijazahkan berbagai doa kepada santrinya.

وكن مستفيذا كل يوم زيادة # من العلم واشبح فى بحور الفوائذ

 “Jadilah kamu di setiap harinya menjadi orang yang pandai mengambil faedah “

Ini adalah satu dari ribuan cerita tentang abah yang perlu untuk dipahami serta diambil pelajaran. Bukan hanya sekedar cerita dalam buku ataupun folkore dari mulut ke mulut namun hanya jadi hiasan dalam kepala belaka. Penting untuk kita tahu dan memahami bahwa rasa cinta akan datang apabila kita mengenal, dan cinta pada abah akan semakin menguat dengan mengetahui pengorbanan beliau demi ilmu dan santri-santrinya. Mari sejenak luangkan waktu untuk menghadiahkan Al-Fatihah untuk beliau. Lahul Fatihah. (far)

2 KOMENTAR