Malang — Menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang (LTPLM) melalui Departemen Peribadatan menggelar kegiatan pembacaan Qasidah Burdah pada Selasa, 25 Agustus 2026, yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1448 H. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda tahunan yang rutin diselenggarakan pesantren sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Acara berlangsung ba’da Istighosah Shubuh hingga selesai, bertempat di Masjid, Serambi dan Auditorium Utama LTPLM. Seluruh santri hadir dan mengikuti rangkaian acara dari awal hingga akhir, mengingat pembacaan Qasidah Burdah bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan sarana untuk menghidupkan kembali semangat kecintaan kepada Rasulullah di tengah kesibukan santri menjalani aktivitas keseharian di pesantren.
Lebih dari Sekadar Tradisi Tahunan
Peringatan Maulid Nabi tidak boleh dipahami secara dangkal sebagai seremonial tahunan belaka. Sebaliknya, momentum ini ditempatkan sebagai ajang pembuktian sejauh mana kecintaan seorang hamba benar-benar berlabuh pada sosok Al-Amin, gelar mulia yang disandang Rasulullah SAW sejak sebelum diangkat menjadi nabi.
Pesan tersebut sejalan dengan kedudukan Qasidah Burdah itu sendiri dalam tradisi keilmuan pesantren. Sebagai karya sastra sufistik karangan Imam al-Bushiri, Burdah telah lama menjadi salah satu wasilah yang dibacakan umat Islam, khususnya di lingkungan pesantren, untuk mengungkapkan kerinduan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui bait-baitnya, para pembaca diajak merenungi akhlak, keteladanan, dan keagungan pribadi Rasulullah, sekaligus memohon syafaat di dunia dan akhirat.
Rangkaian Kegiatan dan Semangat Kebersamaan
Lantunan bait pujian untuk Nabi Muhammad SAW bergema syahdu memenuhi masjid, serambi. dan auditorium utama pesantren. Suasana terasa begitu khidmat saat seluruh santri bersama-sama melantunkan Qasidah Burdah, berpadu dengan suara merdu vokalis santriwan dan santriwati serta iringan tabuhan rebana dari tim hadroh santriwan. Bagi keluarga besar pesantren, momen tahunan ini bukan sekadar tradisi rutin, melainkan ruang untuk kembali menata hati dan meneladani akhlak agung sang Rasul dalam kehidupan sehari-hari.
Sambutan Pengasuh: Mengenang agar Tak Lupa
Acara dilanjutkan dengan sambutan dari pengasuh pesantren, Gus Moh. Danial Farafish, S.H., S.Hum., M.Ag. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirayakan setiap tahun merupakan momentum untuk mengingat, mengenang, dan meneladani perjuangan Rasulullah SAW, yang melalui ajaran beliaulah umat manusia dapat menjadi makhluk yang lebih mulia.

“Perlu kita ketahui bahwa setiap tahun kita merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam rangka mengingat, mengenang, dan meneladani perjuangan beliau, yang karena ajaran beliaulah kita menjadi manusia yang lebih utama. Kalau bukan karena Rasulullah, boleh jadi kita tidak akan menjadi seperti hari ini,” ujar Gus Danial Farafish.
Beliau turut mengingatkan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang mudah lupa, sehingga dibutuhkan majelis, tempat, dan waktu khusus semacam ini sebagai sarana untuk terus mengingat perjuangan dan kisah Nabi Muhammad SAW secara bersama-sama.
“Manusia itu penuh dengan lupa. Maka perlu kumpulan, perlu ingatan, perlu tempat dan waktu sebagai tanda untuk selalu mengingat bersama. Semoga di Maulid ini kita mendapatkan barakah dari kisah Nabi Muhammad SAW,” tambahnya.
Mauidhoh Hasanah: Tiga Tanda Cinta kepada Rasulullah
Rangkaian acara dilanjutkan dengan mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh Ustadz Busro Karim, S. Hum., M.Pd.I. Mengawali penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa momentum peringatan Maulid ini merupakan salah satu ikhtiar agar santri benar-benar layak disebut sebagai umat yang mencintai Nabi Muhammad SAW.
Dalam mauidhohnya, Ustadz Busro Karim mengutip kitab An-Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyidil Mursalin karya Hadratussyaikh Kyai H. Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim), yang membahas tanda-tanda kecintaan seseorang kepada Rasulullah SAW. Menurut kitab tersebut, jika dalam diri seseorang terdapat tanda-tanda ini, maka kecintaannya kepada Rasulullah dapat dikatakan sah dan tidak diragukan. Sebaliknya tanpa tanda-tanda tersebut, pengakuan cinta kepada Nabi hanya menjadi klaim semata.

Beliau menyampaikan tiga di antara tanda-tanda tersebut yakni, tanda pertama adalah kesungguhan meniru dan mencontoh apa yang pernah dilakukan dan diajarkan Rasulullah, mulai dari akhlak, adab, hingga hal-hal keseharian seperti adab makan dengan membaca bismillah dan menggunakan tangan kanan. Ustadz Busro mengibaratkannya seperti kecintaan seseorang kepada idolanya, yang kerap menirukan gaya hingga penampilannya, maka semestinya kecintaan kepada Rasulullah lebih mendorong santri untuk meneladani kepribadian beliau secara menyeluruh.
Tanda kedua adalah banyak menyebut nama Rasulullah SAW disertai rasa hormat dan haru, sebagaimana para sahabat yang hingga bergetar dan meneteskan air mata setiap kali nama beliau disebutkan, sebagai wujud penghormatan dan kerinduan yang mendalam.
Tanda ketiga adalah man ahabba man yuhibbu, yakni mencintai siapa pun yang mencintai Rasulullah dimulai dari para sahabat, keluarga, ulama, hingga para wali. Ustadz Busyro mengingatkan bahwa keliru apabila seseorang mengaku mencintai Rasulullah namun membenci para sahabat atau ulama yang dicintai umat. Beliau juga mengiaskan prinsip ini dalam konteks kehidupan santri, sebagaimana mencintai Rasulullah berarti mencintai orang-orang yang mencintainya, maka menjadi santri dari seorang kiai pun semestinya diwujudkan dengan mencintai apa dan siapa yang dicintai oleh kiai tersebut.
Di akhir mauidhohnya, Ustadz Busro Karim berharap kehadiran dan ikhtiar seluruh santri pada pagi hari itu dicatat oleh Allah SWT. “Semoga kehadiran kita, usaha kita, ikhtiar kita pada kesempatan pagi hari ini benar-benar dicatat oleh Allah SWT sebagai salah satu pemenuhan dari tanda-tanda hati kita yang berusaha untuk menyebut dan memanggil Rasulullah SAW,” pungkasnya.
Penutup
Begitu doa penutup usai dibacakan oleh Gus Danial Farafish, suasana khusyuk langsung berubah penuh kehangatan lewat tradisi makan bersama. Menariknya, hidangan lezat yang tersaji pagi ini merupakan buah karya tim memasak santriwati yang sudah bergotong royong meracik bumbu sejak malam hari sebelumnya. Duduk melingkar mengelilingi nampan-nampan besar, para santri menikmati masakan hangat tersebut bersama-sama, menutup kegiatan pagi ini dengan penuh keakraban khas kehidupan pesantren.
Penulis: Iezni_







