
Malang — Departemen Literasi dan Pengembangan Majelis Santri kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan semangat keilmuan santri melalui kegiatan Halaqah Spesial 2026 yang bertemakan “Membangun Peradaban dengan Pola Asuh dan Pola Hidup Sehat”. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk bedah buku bersama Ahlul Ma’had dan diselenggarakan pada Sabtu, 18 April, dengan suasana yang penuh antusias dan kehangatan.

Acara tersebut menghadirkan Mbak Mupi Anisah, alumni Ahlul Ma’had angkatan 2019, yang saat ini tengah menempuh pendidikan magister di Universitas Gadjah Mada sekaligus aktif sebagai penulis. Dalam kesempatan ini, Mbak Mupi membedah karyanya yang berjudul “Pengasuhan Integratif Berbasis Nilai Keislaman”.
Dalam pemaparannya, Mbak Mupi menjelaskan isi buku secara sistematis, mulai dari persiapan pranikah, pengenalan anak usia dini, perkembangan psikologi anak, hingga implementasi adab Islam dalam pengasuhan pada masa usia emas, yang dimana ini sangat cocok untuk kalangan gen z. Mbak Mupi menekankan bahwa pengasuhan anak tidak hanya berfokus pada aspek materi, tetapi juga mencakup dimensi mental dan spiritual.
Salah satu bagian yang menjadi sorotan utama adalah Chapter 5: Mindful Parenting. Pada bagian ini, dibahas pentingnya kesadaran orang tua dalam mengasuh anak, khususnya anak berkebutuhan khusus (ABK). Mbak Mupi menegaskan bahwa penerimaan penuh dari orang tua merupakan langkah awal yang sangat penting.
“Untuk anak berkebutuhan khusus, orang tua harus aware terlebih dahulu. Kita harus menerima sepenuhnya dan tidak boleh ada penyangkalan (denial),” ujarnya.
Ia juga mengaitkan konsep tersebut dengan nilai-nilai Islam, di mana sikap rida dan keikhlasan menjadi landasan utama dalam menghadapi amanah pengasuhan anak. Menurutnya, dengan hati yang lapang, berbagai solusi dan kemudahan akan terbuka dalam proses mendidik anak.
Kegiatan semakin interaktif saat sesi tanya jawab berlangsung. Para santri aktif mengajukan pertanyaan terkait implementasi pola pengasuhan, tantangan mendidik anak di era modern, hingga pengalaman Mbak Mupi dalam menulis dan menerbitkan buku.
Menanggapi hal tersebut, Mbak Mupi juga membagikan pengalamannya dalam mengelola waktu selama menjadi mahasantri. Mbak mupi juga menekankan bahwa kesibukan akademik tidak seharusnya menjadi penghalang untuk tetap produktif dan berkarya.
“Tetap menulis walau energi habis. Di situlah letak nikmatnya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Mbak Mupi juga memotivasi santri agar tidak takut menghadapi tugas akhir. Menurutnya, tugas akhir tidak selalu berbentuk skripsi, tetapi dapat berupa proyek, jurnal, maupun karya buku yang sesuai dengan minat dan bidang keilmuan masing-masing.
Kegiatan Halaqah Spesial 2026 ditutup dengan penyerahan penghargaan kepada narasumber serta sesi foto bersama. Melalui kegiatan ini, diharapkan santri tidak hanya memperoleh wawasan baru, tetapi juga termotivasi untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi umat. Pengalaman Mbak Mupi menjadi bukti nyata bahwa dari lingkungan pesantren, lahir karya-karya yang berdampak bagi masa depan.
Penulis: Mahil Salwa Nada
Editor: Medkominfo




