Universitas Islam Lamongan, Sebuah Karya Sang Maestro Pendidikan Prof. Dr. Kyai H. Achmad Mudlor, S.H

0
1739

Universitas Islam Lamongan (UNISLA) adalah universitas pertama yang berada di Lamongan Kota. Awal didirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) ini pada tanggal 9 September 1991 (sebelum bernama UNISLA), lalu atas Surat Keputusan Mendiknas No.146/D/0/2000 berisi tentang peresmian Universitas Islam Lamongan. Dalam SK tersebut, digambarkan dengan jelas dinamika perkembangan UNISLA yang sudah kali ketiga berada di bawah tampuk kepemimpinan Prof. Dr. Kyai H. Ahmad Mudlor, SH. UNISLA mengalami perkembangan pesat di bawah kendali beliau. Perubahan progresif itu juga tak lepas dari peran aktif para penggagasnya. Berawal dari ide Drs. H. Malkan dan H. Muzayyin BA -keduanya adalah guru SMPP atau yang saat ini dikenal dengan SMA Negeri 2 Lamongan- yang antusias mendirikan Fakultas Tarbiyah. Gagasan tersebut muncul sebagai akibat menjamurnya MA dan MTs di Lamongan.

Ide tersebut kemudian diusulkan kepada tokoh Tanfidziyah Lamongan, H. Abdullah Iskandar. Oleh beliau dihubungkan kepada Kyai H. Ali yang juga pengurus Tanfidziyah, Kyai H. Sokran-ketua cabang P3, serta Almukarrom Kyai H. Mastur. Setelah mendapatkan persetujuan dari tokoh-tokoh NU di atas, Fakultas Tarbiyah Sunan Giri Lamongan memfusikan diri dengan UNSURI Surabaya dalam bentuk kelas jauh.

Setelah proses penggabungan diri selesai, H. Abdullah Iskandar sekaligus Kyai H. Sokran meyarankan Drs. Malkan dan juga Drs. Wahib untuk mendatangi Abah Mudlor. Tujuan kedatangannya adalah untuk memohon kesediaan beliau memimpin Fakultas Tarbiyah Universitas Sunan Giri (FAI UNSURI) Lamongan.

Nama Abah Mudlor muncul dengan banyak pertimbangan, antara lain beliau merupakan tokoh NU Lamongan praperpindahannya ke Malang, terbukti dengan berdirinya MA Pembangunan, MTs Negeri Babat, rumah yatim dan beberapa artefak perjuangan lain yang ditemui di kabupaten ini. Faktor lain, salah satu dari yang datang berkunjung, Drs. Malkan adalah murid Abah Mudlor di IAIN Sunan Ampel Malang. Drs. Malkan sering mendengar nama Abah Mudlor dielu-elukan sebagai tokoh NU di kota bunga itu. Tidak hanya mendengar, sebagai salah satu mahasiswa IAIN Sunan Ampel Malang, ia juga mengamati secara langsung sepak terjang perjuangan beliau yang dinilai memiliki pengalaman lebih terkait proses pendirian universitas. Pun, Abah Mudlor seringkali diminta menguji skripsi di IAIN Surabaya, tempat kuliah Drs. Wahib.

Fakultas Tarbiyah ini berubah menjadi STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah) Sunan Giri Lamongan dengan gelar strata 1 pendidikan agama Islam pada tahun 1989. Kemudian pada tahun 1999, para pengelola STIT menginisiasi terbentuknya Universitas Islam Lamongan di bawah yayasan LP Ma’arif NU. Keputusan tersebut berdasarkan musyawarah yang diikuti pengelola STIT Sunan Giri Lamongan di bawah pimpinan Abah Mudlor selaku dekannya.

Alasan implisit dibalik musyawarah itu adalah, Abah Mudlor selama menjabat sebagai pimpinan UNSURI Lamongan mengamati terjadinya stagnansi di tempat perkuliahan yang beliau pimpin. Terbukti dengan gagalnya dua kali instruksi perealisasian UNISLA yang ditujukan kepada staf-staf beliau. Instruksi ketiga ditujukan kepada Drs. Soejono dan Ibu Nuril Badriyah yang masing-masing saat ini menjabat sebagai PR II dan PR III. Instruksi kali ini membuahkan hasil terwujudnya UNISLA sampai sekarang. Dua tujuan utama berdirinya UNISLA adalah menghilangkan dahaga putra-putri daerah akan ilmu dan memfasilitasi mereka yang mengalami kesulitan finansial untuk tholabul ‘ilmi di daerah perkotaan. Abah Mudlor beserta para pengelola UNISLA memfasilitasi mereka agar bisa merasakan dunia perkuliahan tanpa harus hengkang dari daerah asalnya.


Universitas Islam Lamongan Tempo Dulu Tampak Depan

UNISLA berdiri pada hari Rabu tanggal 4 Juli 1999 dengan Prof. Dr. Kyai H. Ahmad Mudlor, SH sebagai Rektor, PR 1 dijabat oleh Bambang Eko M, SH, SpN, MMA, M.Hum, PR 2 oleh Drs. H. Soejono, M.Ag, PR 3 diduduki oleh wanita nomor satu di universitas itu, Ir. Hj. Nuril Badriyah, MM, dan PR 4 dijabat oleh Drs. H. Malkan. Keberadaan PR 4 yang hanya ditemui di UNISLA adalah hal yang perlu dicontoh oleh Perguruan Tinggi Islam lain. PR 4 khusus menangani permasalahan agama bersifat penting eksisnya, apalagi universitas-universitas islam.

Dalam SK yang diserahkan secara langsung pada tanggal 10 Agustus Tahun 2000 ini, disebutkan bahwa UNISLA adalah Universitas di bawah yayasan LP Ma’arif NU. Sudah empat kali yayasan ini mengalami pergantian pemimpin. Pada periode pertama dipimpin oleh Kyai Abdullah Iskandar -tokoh NU Lamongan, periode kedua oleh H. Ali Fauzi -pengurus tanfidziyah NU, periode ketiga oleh H. Malkan (menggantikan H. Ali Fauzi sebab di tengah-tengah kepemimpinannya, H. Fauzi wafat), dan saat ini dipimpin oleh Hasan Bisri.

Keberadaan Hasan Bisri tidak lain atas gagasan dari Abah Mudlor karena berbagai pertimbangan, beliau adalah dosen Universitas Brawijaya asal Lamongan yang sekaligus warga NU. Selain itu, kakak kandung Hj. Nurul Badriyah ini banyak memahami permasalahan umum yang bisa dipakai sebagai penyeimbang ilmu agama Abah Mudlor. Dualisme keilmuan yang komprehensif dicuatkan oleh kolaborasi kedua punggawa UNISLA. Dari sinilah manuver-manuver strategi yang diluncurkan demi perkembangan UNISLA secara holistis mencakup berbagai ranah keilmuan lebih mudah terealisasikan.

Dinamika UNISLA dari segi kronologi historis, segaris dengan perubahan fisiknya. Mulainya, Kyai Syukron -tokoh NU Lamongan meminta UNISLA menempati Madrasah Banat di Jalan Kyai Amin. Semasa yayasan dijabat Kyai H. Ali, UNISLA yang masih dalam format STIT mendirikan bangunan di Jalan Lamongrejo, tanah yang dipakai bukanlah tanah STIT melainkan tanah Aliyah. Mendirikan bangunan di atas yang bukan hak milik tentunya ada tanggungan untuk mengembalikannya. Setelah berkembang menjadi universitas, UNISLA hijrah ke SMP 45 di sebelah selatan Rutan Lamongan. Dari sini, UNISLA pindah lagi ke SMK NU Jalan Veteran tepat di sebelah selatan gedung UNISLA saat ini.

Gedung UNISLA awalnya adalah gedung SMA Kosgoro yang sengaja dibubarkan sebab tak banyak menarik animo masyarakat. Bangunan serta tanahnya dibeli Tionghoa tapi tidak difungsikan. Lama-lama Tionghoa berkeinginan menjualnya dan dibeli UNISLA dengan luas tanah sekitar 3000an meter. Abah Mudlor yang berprofesi sebagai rektor tidak lantas menjadi kitmanul ‘ilmi. Beliau mempererat kedekatan dengan mahasiswanya melalui kuliah umum yang diadakan sebulan sekali. Tepatnya di aula universitas, sang rektor secara istiqomah mengisi kuliah umum dengan tema yang beragam, mulai dari pendidikan, keagamaan dan juga tema-tema filosofis-sufistis.

Proses terpilihnya Abah Mudlor dari pertama hingga periode ketiga kepemimpinan adalah melalui aklamasi. Selain pertimbangan prestise dan kharismatik, beliau juga termasuk pribadi yang berlaku adil dengan prioritas utama berjuang demi kepentingan umat. Meski honor tidak sepadan dengan keringat serta pikiran yang beliau cucurkan demi menjauhkan UNISLA dari stagnansinya, hingga usia 73 tahun disetiap hari Sabtu Abah Mudlor naik bus dari Malang ke Lamongan untuk mengontrol semua kegiatan kampus.

Akan sangat sulit menjaga keistiqomahan dalam berjuang seperti yang dilakukan oleh Abah Mudlor. Mulai dari usianya yang cukup belia hingga tutup usia, beliau tak henti-hentinya berjuang demi kepentingan bersama, tentunya tanpa adanya tendensi finansial sebagai alasan perjuangan. Beliau merupakan sosok yang religius intelektual, beliau tidak hanya hafal dan memahami ilmu agama sebagai fundamental yang paling utama dalam melakukan sesuatu tetapi beliau mampu menginterpretasikan dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari tanpa mngurangi redaksi ayat atau hadist yang beliau tuturkan. Selain itu, Abah Mudlor merupakan filosofis sosialis, beliau tidak hanya ahli filsafat tetapi beliau mampu mengimplementasikan ide dan pikiran-pikirannya untuk menata, memperjuangkan ajaran-ajaran Agama Islam di masyarakat melalui faham Ahlus Sunnah WalJama’ah (Deek).

Sumber : S.S., Lia Sholicha. 2011. MUJTAHID, MUJADDID, MUJAHID. UNISLAPress : Lamongan.