
Suasana khidmat dirasakan oleh segenap hadirin manakala Rois ‘Aam Nahdlatul Ulama kala itu Kyai H. Abdul Wahab Hasbullah membacakan Khutbatul-Iftittah sekaligus pidato sambutan pada sidang pembukaan Mu’tamar Nahdlatul ‘Ulama ke-22 tanggal 13 Desember 1959. Saat itu Mu’tamar dihadiri oleh banyak tokoh-tokoh besar kalangan NU, Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno, bahkan Duta Besar dari Amerika Serikat. Tokoh-Tokoh Nahdliyin yang hadir kala itu antara lain, Kyai H.Ma’sum Lasem, Kyai H. Asnawi Kudus, Kyai H. Idham Cholid, Kyai H. Bisri Syansuri, Kyai H. Masykur, H. Syaifudin Zuhri, segenap pengurus dan anggota Partai Nahdlatul ‘Ulama.
Kyai H. Wahab Hasbullah dalam pidatonya yang luar biasa memberikan pandangan tentang gambaran situasi yang sedang dialami oleh negara dan bagaimana NU seharusnya mengambil peran dan langkah berani. Kyai H. Abdul Wahab Hasbullah juga menyampaikan pokok-pokok pikiran penting mengenai demokrasi yang sejalan dengan paham islam dan cita-cita bangsa yang harus terus diperjuangkan dan berusaha diwujudkan. Beliau juga membangun semangat optimisme mu’tamirin dengan mengamanatkan hal yang sangat penting yaitu gambaran akan dua golongan manusia (kaum), yaitu golongan manusia yang putus harapan dan golongan manusia yang berharapan baik. Beliau berharap, meskipun dalam kondisi sesulit apapun, NU hendaknya tetap memandang hari kedepan dengan penuh kepercayaan dan ketenangan hati, serta terus hidup dalam sinar cahaya yang penuh harapan dan tidak pernah kehilangan pegangan, selalu berharapan baik dan tidak pernah putus asa dengan rahmat Allah. Di akhir pidato, beliau berharap kepada seluruh tokoh-tokoh ‘ulama NU agar tetap menjadi warasatul anbiya’, tetap menjadi lentera yang menerangi umat, tetap menjadi ‘gandolan’ umat.
Demikian sedikit intisari pidato amanat Kyai H. Abdul Wahab Hasbullah yang dapat penulis sampaikan pada pengantar tulisan ini, selebihnya penulis menyarankan untuk membaca salinan pidato Kyai H. Abdul Wahab Hasbullah yang telah disesuaikan dengan ejaan baru agar lebih memudahkan dalam menyelami amanat yang beliau sampaikan.
Berikut Salinan Pidato Pidato Amanat Yang Diucapkan Oleh Βαρακ Κ.Η. Abdul Wahab Hasbullah Pada Sidang Pembukaan Mu’tamar Nahdlatul ‘Ulama Ke-XXII di Jakarta :
PIDATO AMANAT YANG DIUCAPKAN OLEH ΒΑΡΑΚ Κ.Η. ABDUL WAHAB HASBULLAH PADA SIDANG PEMBUKAAN MU’TAMAR NAHDLATUL ‘ULAMA KE-XXII DI JAKARTA
Dengan nama Allah, Maha Pengasih dan Penyayang. Kami mempersembahkan puji dan syukur kepada Allah SWT dan kami memohon ampun dan mohon perlindungan kepada Nya atas segala keburukan diri kita dan kesalahan perbuatan kita. Orang yang mendapat petunjuk dari Allah, tak akan ia dapat disesatkan dan barang siapa sesat, tak seorangpun dapat memberikan petunjuk kepadanya. Kami percaya bahwa tiada ada Tuhan melainkan hanya Allah maha Esa dan tidak ada sesuatu yang membandingi-Nya, dan kami percaya bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya yang telah diutus untuk membawa rahmat kepada alam semesta, dan diutus pula dengan membawa petunjuk dan agama yang berdasarkan kebenaran agar dapat mengatasi segala kepercayaan, sekalipun orang-orang yang mempersekutukan Allah merasa tidak senang”. (9-As-Shaf). Mudah-mudahan segala rahmat dan salam dari Allah tetap kiranya dikurniakan kepada Nabi Muhammad, kepada keluarganya dan kepada para sahabatnya yang telah mengikuti perjalanan Nabi dan melaksanakan tuntunannya yang karenanya bangsa-bangsa lain mengikuti jejaknya dan kemudian mereka mempunyai sikap dan pendirian yang menentukan. Mudah-mudahan kitapun dapat mencontoh mereka dan meneladani usaha dan perbuatan mereka. Kiranya Allah mengabulkan cita-cita kita itu dengan keyakinan bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu.
Para Ulama yang mulia dan saudara-saudara sekalian yang terhormat. Saudara-saudara kaum Bapak dan kaum Ibu yang kami muliakan. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Pada saat ini kami merasa bahagia, bahwa saya berdiri dihadapan saudara, atas nama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama untuk menyatakan kesyukuran kami yang murni kepada Allah s.w.t. yang telah mengurniakan kesempatan yang berharga kepada kita untuk melangsungkan Mu’tamar kita yang ke-22 di Ibukota Republik Indonesia. Begitu pula kami menyatakan syukur dan hormat kami atas kedatangan saudara-saudara sekalian mengunjungi Mu’tamar kita ini yang kita harapkan kepada Allah, kiranya akan menjadi pendorong yang baik untuk mempererat hubungan persatuan dan persaudaraan kita umumnya dan mudah-mudahan Allah akan mengurniakan taufiq dan pertolongan Nya, Insya Allah. Sesungguhnya apabila saudara-saudara mendatangi undangan Mu’tamar adalah berarti bahwa saudara-saudara memenuhi panggilan iman yang berada di dalam hati sanubari Saudara, ya bahkan memenuhi panggilan agama suci yang telah kita sediakan bahwa hidup dan mati kita untuk membela ke- suciannya. Allah swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah telah menentukan agama ini untuk kamu, maka janganlah hendaknya kamu akan mati melainkan tetap kamu sebagai orang Islam” (152 Al-Baqoroh). Sesungguhnya sembahyang dan ibadat haji saya, hidup dan mati saya, saya persembahkan kepada Allah Penguasa alam semesta” (163 Al-An’am). “Tidak ada sekutu bagiNya, dan demikianlah saya diperintahkan, dan saya adalah termasuk golongan orang-orang yang beragama Islam. Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman, apabila mereka diajak kepada Allah dan utusan Nya untuk mendapatkan hukum-keten- tuan diantara mereka, mereka akan selalu berkata: kami patuh dan kami taat. Mereka itu adalah orang-orang yang berbahagia” (51 An-Nur).
Para Ulama yang mulia, saudara-saudara sekalian yang terhormat.
Dalam beberapa waktu antara kedua Mu’tamar kita ini, Mu’tamar yang kita langsungkan di Kota Medan dan Mu’tamar yang sekarang ini, telah terjadi bermacam-macam peristiwa yang penting dalam sejarah Negara kita. Waktu yang telah kita lalui itu adalah pendek, tetapi pe- nuh dengan berbagai percobaaan dan pancaroba. Telah nampak gejala-gejala yang akan membawa kekeruhan di dalam negeri, ketika mu’tamar di Kota Medan sedang berlangsung, sehingga kita terpaksa menyelesaikan mu’tamar sebelum waktu yang semestinya berakhir. Beberapa bulan kemudian berkobarlah pemberontakan baru yang menyala di Sumatera Barat dan Sulawesi Utara. Pemberontakan tsb. dipimpin oleh suatu Pemerintahan yang terang terangan mendapat bantuan Negara lain dengan senjata dan perlengkapan untuk memukul dan merobohkan Pemerintah Republik Indonesia. Memang ada juga terjadi beberapa kejadian pemberontakan yang serupa di Negeri lain, umpamanya pemberontakan di Mesir, pemberontakan di Lebanon dan pemberontakan di Iraq, semua itu melakukan perlawanan kepada pemerintahnya masing-masing. Tetapi pemerintah-pemerintah tsb, sebagaimana sau- dara-saudara mengetahui memang jelas dalam politiknya, tidak saja mengabaikan kepentingan-kepentingan rakyatnya, tetapi tunduk dan menuruti kehendak pemerintah asing yang berdiri dibelakang layar dan memberikan bantuan senjata dan perlengkapan. Selanjutnya saudara² mengetahui, dan hal ini bukan suatu keanehan, bahwa pemberontakan-pemberontakan di negeri lain telah berhasil mendapat kemenangan. tetapi pemberontakan di Indonesia ini telah menderita kekalahan, karena atas semua kejadian itu ada dasarnya yang sama dan mempunyai akibat yang sama pula, yaitu, tiap-tiap kekuatan bersenjata, pemberontak ataupun pemerintah, apabila ia mendapat bantuan dan tunduk kepada kemauan asing, maka akibatnya, ia pasti akan menderita kekalahan dan kehancuran.
Pemborantakan tsb. saudara sekalian disamping sekian banyak jiwa yang melayang dan disamping sekian juta harta benda yang menjadi abu, telah memaksakan keuangan Negara kita mengeluarkan pembiayaan beratus-ratus, malahan beribu-ribu juta rupiah untuk memadamkan api pemberontakan tersebut. Pengeluaran biaya yang beribu juta banyaknya itu menyebabkan terjadinya peredaran uang yang sangat besar dan mengakibatkan penderitaan rakyat yang sangat berat yang dirasakan dalam turunnya nilai uang kita dan membubungnya harga barang keperluan hidup kita, suatu akibat yang sangat buruk yang menimpa perekonomian kita pada umumnya.
Berkenaan dengan terjadinya pemberontakan bersenjata yang membawa korban tidak sedikit itu, kami Pengurus Besar Nahdlatul Ulama telah menyatakan pendirian dengan hati yang pilu dan dengan penuh penyesalan bahwa tidaklah akan membawa suatu kemaslahatan, di dunia maupun di akhirat, apabila seseorang membantu atau memihak kepada pemberontakan tersebut. Allah s.w.t. berfirman: “Apabila ada dua golongan dari pada orang-orang yang beriman saling bunuh membunuh, maka usahakanlah mendamaikan dua golongan tersebut, dan apabila yang satu tetap akan melakukan perlawanan kepada yang lain, maka tundukkanlah golongan yang melawan itu dengan kekerasan sampai mereka sadar kembali kepada perintah Allah apabila mereka itu bersedia, maka perlakuan mereka itu dengan adil dan berbuatlah bijaksana sesungguhnya Allah cinta kepada orang-orang yang berbuat adil” (9 Al-Hujurat)
Saudara-saudara mu’tamirin yang terhormat. Diantara peristiwa yang penting bagi hari depan Indonesia dipandang dari sudut ketatanegaraan, adalah pembubaran Dewan Konstituante yang disusul dengan Dekrit Presiden kembali kepada Undang-Undang Dasar 45. Kejadian tersebut adalah merupakan akibat dari pada adanya pertentangan antara dua golongan, golongan Islam diatas golongan yang bukan Islam, sehingga tidak dapat dihasilkan suatu putusan yang dapat diterima oleh kedua belah fihak. Dalam hal ini kami berpendapat bahwa tindakan pembubaran Dewan Konstituante itu adalah lebih baik dari pada berdiri terus dan menghasilkan undang-undang yang tidak sesuai dengan keinginan dan cita-cita Ummat Islam. Dan selanjutnya kita mengetahui pula bahwa Dekrit Presiden kembali kepada Undang-Undang Dasar 45 adalah dalam waktu yang terbatas sampai terbentuknya sesuatu Majelis Permusyawaratan Rakyat dalam waktu yang tidak lama lagi. Kepadanya akan diserahkan untuk membentuk dan menyusun suatu Undang-Undang Dasar. Kami harapkan U.U.D. itu nanti akan dapat menampung keinginan bahagian terbesar dari pada rakyat dan membawa kebaikan dan kemaslahatan bagi Agama Islam dan Umat Islam.
Mengenai dekrit Presiden kita kembali kepada U.U.D. 45, kami ingin memperingatkan kepada saudara-saudara tentang adanya tiga pokok pikiran yang penting, yaitu:
- Kita kembali kepada U.U.D. 45, adalah berarti kembali mendapatkan kepercayaan yang sepenuh-penuhnya dalam hati dan jiwa kita untuk mencapai cita-cita yang telah digariskan oleh perjuangan kita dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan yang menjadi landasan pembentukan dan penyusunan U.U.D. Begitu pula U.U.D. ’45 ini membaharui ingatan kita bagaimana persatuan dan kesatuan kita ketika itu, yang telah kita buktikan adanya kesatuan yang bulat unutk menghadapi segala kemungkinan, persasatuan yang didorong oleh jiwa yang menyala-nyala dengan semangat yang pantang menyerah meneruskan perjuangan untuk mencapai kemerdekaan yang bulat dan sempurna. Dalam hal ini saudara-sekalian jangan hendaknya kita lupakan bahwa semangat yang menyala-nyala dalam perjuangan kita itu adalah merupakan api semangat yang dinyalakan dan dikobarkan oleh ajaran dan jiwa-hidup yang dipancarkan oleh Agama Islam.
- Bersamaan dengan pengumuman kembali kepada U.U.D. ’45. oleh P.J.M.Presiden dinyatakan pula pelaksanaan dari pada Demokrasi Terpimpin. Pengertian kata demokrasi, dengan banyak dan luasnya pengertian tersebut, kita memandang bahwa tidaklah akan bertentangan dengan ajaran dan tuntunan agama, selama yang dimaksudkan dengan demokrasi itu adalah suatu cara yang berdasarkan atas kebijaksanaan bermusyawarah, musyawarah diantara orang-orang yang telah diangkat menjadi wakil-wakil rakyat, musyawarah antara para Ulama, para cerdik pandai dalam lapangan keahliannya masing-masing, musyawarah dalam lingkungan orang-orang yang diserahi untuk menentukan sikap dan keputusan, dan disamping itu adalah demokrasi membawa pengertian memelihara dan melindungi hak perseorangan sebagai anggota masyarakat dan mengutamakan kemaslahatan umum yang merata. Dalam pengertian demokrasi yang berdasarkan atas musyawarah itu, tidaklah yang kita harapkan hanya dalam bentuk susunan dan cara memerintah saja tetapi kita harapkan pelaksanaan demokrasi itu dalam arti dan maknanya yang luas, dalam lapangan kehidupan kita bermasyarakat, dalam ketiga bidangnya yang asasi, yaitu bidang politik, bidang sosial, dan bidang ekonomi. Allah berfirman dalam menerangkan sifat-sifat utama dari pada orang-orang yang beriman dan menyerah diri kepada Nya bahwa mereka itu adalah: “Orang-orang yang memenuhi panggilan Tuhannya dan mengerjakan sembahyang dan urusan mereka dilakukan dengan cara bermusyawarah diantara mereka, dan merekapun membelanjakan rizqi yang kami berikan kepada mereka” (38 As-Syuro).
- Adalah semangat bijaksana pendirian P.J.M. Presiden ketika mengundangkan dekrit kembali kepada U.U.D. ’45, juga dinyatakan dengan tegas suatu pengumuman bahwa Piagam Jakarta adalah menjiwai U.U.D. ’45 dan merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan daripada U.U.D. tersebut. Piagam Jakarta sebagaimana saudara-saudara telah mengetahui adalah suatu piagam yang telah ditanda-tangani oleh para pemimpin kita yang pilihan, 9 orang banyaknya, dan diantaranya adalah saudara kita yang kita muliakan dan telah mendahului kita ke alam baka, ialah Saudara Kyai Haji Abdul Wahid Hasyim. Mudah-mudahan Allah s.w.t. memberikan rahmat yang seluas-luasnya kepadanya. Piagam Jakarta yang mengandung di dalamnya suatu perumusan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Maka kita berhadapan dengan pengumuman tersebut, berkenaan dengan mu’tamar yang sedang kita langsungkan ini, adalah wajib bagi kita dengan sungguh-sungguh untuk menentukan cara, rencana dan usaha dalam melaksanakan perumusan yang terkandung dalam piagam tersebut. Allah s.w.t. berfirman: “Diantara orang-orang yang beriman terdapat beberapa orang yang sungguh-sungguh melaksanakan usaha yang dijanjikannya kepada Allah; diantara mereka ada orang yang telah meninggal dan diantaranya masih menunggu (masih hidup) dan merekapun sekali-kali tidak akan mengubah janji tersebut” (23 Al-Ahzaab).
saudara-saudara sekalian yang terhormat.
Pada saat-saat yang berat dewasa ini, negara dan tanah air dan kita adalah sebagai putera puterinya sedang menghadapi bermacam-macam kesulitan dan kesukaran. Dalam hal ini Pemerintah dengan sekuat tenaga tiada hentinya meneruskan usaha dan ikhtiarnya untuk mengatasi segala kesulitan dan kesukaran tersebut. Kita masih berhadapan dengan bermacam kekacauan yang mengganggu keamanan yang hingga sekarang belum dapat dipahamkan, kekacauan yang menyebabkan bertambah besarnya peredaran uang yang mengakibatkan kenaikan harga barang dalam segala lapangan kehidupan kita, atau dengan perkataan lain, telah menurunkan nilai uang kita dan merupakan suatu ancaman kearah inflasi yang sangat menakutkan, Pemerintah telah melakukan tindakan drastis pada tanggal 25 Agustus yang lalu, suatu tindakan yang menimbulkan kegoncangan dalam kalangan ekonomi dan keuangan, tetapi kalau tidak dilakukan tindakan tersebut, kita dapat membayangkan bahwa apa yang kita derita dalam lapangan keuangan tentunya akan lebih berat lagi dari pada yang kita alami sekarang ini. Demikianlah kekacauan-kekacauan yang kita hadapi dewasa ini adalah merupakan hambatan dan penghalang yang sangat besar dalam jalan kita menuju kearah kemajuan dan pembangunan dalam segala lapangan.
Saudara-saudara sekalian yang terhormat.
Adapun manusia -saudara-saudara sekalian- dalam menghadapi kesulitan dan kesukaran, dapat dibagi menjadi dua golongan, (a) golongan yang putus harapan, (b) golongan yang berharapan baik. Termasuk golongan yang pertama, ialah orang yang melihat kepada hari depan dengan dada yang sesak, ia diliputi oleh awan putus asa yang sangat gelap, ia menggambarkan keburukan yang berada dihadapannya, menghawatirkan datangnya bahaya yang mengancam dan karena itu ia selalu takut berbuat sesuatu, dalam pandangannya yang nampak hanya segala keburukan dan kejahatan yang dilakukan oleh manusia dalam masyarakat hidup ini, tiada habisnya ia berkeluh kesah dari pada keadaan dunia ini sekalipun ia tenggelam dalam keni’matan dunia, ia selalu memperingatkan dirinya atas segala keburukan yang telah lewat dan menakut-nakutkan orang akan jatuh dalam bahaya dan membayangkan bencana yang mengancam apabila orang salah perhitungan, ia telah senang dengan pandangan hidupnya dengan mempergunakan kacamata hitam sehingga ia hanya melihat warna yang hitam dalam segala sesuatu yang berada dihadapannya. Allah s.w.t. berfirman: “Mereka mendesak kepadamu untuk mempercepat datangnya keburukan sebelum datangnya kebaikan, padahal telah lampau sebelum mereka bermacam siksaan. Sesungguhnya Tuhanmu adalah pemberi ampun kepada manusia atas kedzaliman yang mereka perbuat dan sesungguhnya Tuhanmu memberikan siksa yang sangat berat”. (6 Ar-Ra’d).
Adapun golongan yang kedua, ialah orang berharapan baik, ia selalu memandang kepada hari depan dengan penuh kepercayaan dan ketenangan hati, ia hidup dalam sinar cahaya yang penuh harapan, ia menunggu datangnya sinar matahari dari belakang awan dan mendung. ia berjalan terus dalam karya hidupnya bersandarkan kepada ketabahan dan ketetapan hati, tidak pernah ia mengeluh dan menyatakan penyesalannya, ia menghias dirinya dengan kesederhanaan, tidak melupakan daratan karena mendapat keni’matan yang melimpah-limpah dan tidak kehilangan pegangan apabila kebahagiaannya menjadi lenyap, la menyerahkan diri kepada Allah s.w.t. tidak gelisah ketika menderita menyerahkan selalu bersyukur kepada Allah swt dalam setiap keni’matan yang dikaruniakan kepadanya. Ia didalam pergaulan hidup dapat memancarkan rasa damai dan kejernihan dimana ia berada. Ia berusaha memberikan hiburan kepada orang lain yang sedang sesak dadanya karena penderitaan hidup, ia selalu berpegangan kepada tali-harapan apabila la nampak memancang. Tiada putusnya ia mempersembahkan puji kepada Allah s.w.t. tentang segala keadaan dunia ini sekalipun ia berada dibawah tekanan hidup yang seberat-beratnya, ia bersedia menghadapi suatu pertanggungan jawab dengan air muka yang jernih sekalipun ia memikul beban yang sangat berat daripadanya.
Demikianlah sifat orang yang berharapan baik dan demikian pula sifat orang yang putus-harapan. Sungguh sangat jauh berbeda antara sifat kedua golongan tersebut. Dan bagi kita yang sedang menghadapi bermacam kesulitan dan kesukaran yang dialami oleh negara dan tanah. air kita dewasa ini, kami lebih mengutamakan supaya kita termasuk dalam golongan yang berharapan baik.
Selanjutnya patutlah bagi setiap orang daripada kita bermohon kepada Allah s.w.t. mengangkat kedua tangan kita dengan membacakan do’a yang telah diterangkan oleh Allah dalam kitab sucinya: “O, Tuhan- ku, berikanlah petunjuk kepadaku untuk menyatakan syukur atas ni’mat yang telah engkau anugerahkan kepada saya dan kepada kedua orangtua saya agar saya dapat menyalankan kebaikan yang sesuai dengan keridloanmu dan berikanlah kemaslahatan kepada saya dalam lingkungan keluarga dan keturunan saya, saya bertaubat kepadaMu, dan saya adalah termasuk golongan orang-orang yang beragama Islam.” (15 Al-Ahqaaf).
Kemudian para Ulama yang mulia dan saudara sekalian yang terhormat, sebagai penutup, kami sampaikan kata-pengunci yang kami harapkan dapat saudara-saudara terima dengan baik.
Adalah sudah semestinya bagi kita para Ulama-Ulama adalah waris, menerima peninggalan dari para Nabi hendaknya kita patut menjadi contoh teladan yang baik bagi umat dan bangsa, selanjutnya kita bersedia menjadi penunjuk jalan menuju kearah jalan yang lurus, jalan kebenaran. Harapan kami kepada Saudara para Ulama, hendaknya saudara dapat menempatkan diri menjadi orang-orang pilihan yang utama, yang sejak semula hidup dalam suasana taat kepada Allah s.w.t. dan berjuang menempuh jalan yang ditentukan oleh Allah s.w.t. bersedia meninggalkan keinginan yang buruk karena patuh kepada Allah, dan menyingkirkan segala syahwat untuk mendapatkan keridho’anNya, selalu bersedia datang mengunjungi masjid pada waktu orang sedang nyenyak tidur dirumah masing-masing, gelap-gulita pada waktu malampun tidak akan menjadi penghalang untuk mengerjakan sembahyang berjam’ah, sedangkan kesukaran dan penderitaan hidup pun tidak juga akan dapat merintangi usaha memberikan petunjuk kepada ummat. Mereka telah meninggalkan segala kesenangan, hiburan, keenakan dan kebahagiaan yang dapat menjadi penggoda, hanya karena Allah semata-mata.
Karena itulah Allah memberikan penggantinya, kesenangan dan keenaka dalam melakukan beribadat kepada Allah s.w.t. dan hiburan dan kebahagiaan dalam bermunajat kepadaNya. Dalam menempuh jalan yang telah ditentukan oleh Allah tidak ada musuh yang bagaimanapun juga dapat menghalang dan merintang, tidak ada halangan yang besar yang tidak dapat diatasi dan tidak pula ada bahaya yang tidak mungkin dilintasi. Allah s.w.t. berfirman: “dan pasti Allah akan memberikan bantuan kepada orang yang membela agama Nya, sesungguhnya Allah adalah Maha Kuasa dan Maha Menang. Mereka adalah orang-orang yang apabila kami berikan kepada mereka tempat menetap diatas bumi ini, me reka mengeryakan sembahyang, dan mereka mengeluarkan zakat, me reka memerintahkan berbuat kebaikan dan mencegah berbuat keburukan. dan kepada Allah kembalilah segala urusan”. (40-41 Al-Hajj).
Sebagai penutup marilah kita bersama-sama berdo’a kepada Allah s.w.t. “O, Tuhan kami, berikanlah kepada kami daripadaMu rahmat dan siapkanlah untuk kami daripada urusan kami jalan yang benar”. (10 Al-Kahf), „O, Tuhan kami, janganlah Engkau sesatkan hati kami sesudah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan berikan kepada kami dari padaMu rahmat; sesungguhnya Engkau adalah sangat banyak memberi”. (8 Ali Imron). “O, Tuhan kami, berikanlah ampun kepada kami dan kepada saudara-saudara kami yang telah mendahului dami dengan beriman dan yanganlah Engkau jadikan dalam hati ka- mi iri-hati (dengki) terhadap kepada orang yang beriman, ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau adalah Pengasih dan Penyayang“. (10 Al- Hasyr). “O, Tuhan kami, kepadaMu kami menyerahkan diri, kepada Mu kami kembali dan kepadaMu pula kami mendapatkan tempat kembali”. (4 Al-Mumtahanah).
Para Ulama yang kami mulyakan dan saudara-saudara sekalian yang terhormat.
Dengan kata pendahuluan ini kami nyatakan Mu’tamar Nahdlatul Ulama yang ke-22 kami buka!!
Sekian.
Wassalamu alaikum warohmatullohi wabarokaatuh.
Ahirnya karena waktu sudah habis, maka pembahasan tentang Tata Tertib Muktamar yang seharusnya dilakukan malam ini terpaksa ditangguhkan sampai besok hari. Dan tepat pukul 24.00 malam sidang ditutup dengan pembacaan do’a oleh Kyai H. Ridhwan dari Surabaya.
Referensi:
Penulis: M. Aufa H
