Pelatihan Citizen Journalism Bagi Mahasantri Pesantren Luhur Malang sebagai upaya Penguatan Nilai-Nilai Moderasi Beragama

0
14

[Malang, 6 Juli 2024] Departemen Penelitian dan Pengembangan Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang bekerjasama dengan LP2M UIN Maulana Malik Ibrahim mengadakan Pelatihan Pelatihan Citizen Journalism Bagi Mahasantri Pesantren Luhur Malang sebagai upaya Penguatan Nilai-Nilai Moderasi Beragama.

Mendengar moderasi beragama, sudah tidak asing bagi sebagian orang. Banyak khalayak umum yang telah membahas perihal tersebut. Moderasi beragama mengarahkan kita untuk mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Dalam setiap agama, terdapat moderasi beragama, sebab ajaran agama memberikan pencerahan, perdamaian, keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan. Mengapa moderasi beragama sangat penting dalam praktik jurnalistik?

Pada hari Sabtu, tanggal 6 Juli 2024 telah dilaksanakan kegiatan “Pelatihan Citizen Journalism Bagi Mahasantri Pesantren Luhur Malang Sebagai Upaya Penguatan Nilai-Nilai Moderasi Beragama” bertempat di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasantri Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, narasumber dari dosen dan jurnalis media Suara Jatim Post.

Acara dibuka pada pukul 09.20 WIB dengan sambutan dari Ibu Nur Cholifah, M.Pd selaku Ketua Tim Pengabdian Masyarakat. Beliau menekankan bahwa pelatihan kepenulisan ini sangat penting bagi mahasantri untuk diimplementasikan di lingkungan masyarakat, terutama dalam pelaksanaan moderasi beragama.

Materi pertama disampaikan oleh Ibu Aniek Handajani, S.Pd, M.Ed. selaku dosen Universitas Negeri Malang. Beliau menjelaskan mengenai pentingnya moderasi beragama. Berdasarkan pemaparan beliau, moderasi beragama merupakan suatu cara pandang, sikap, dan perilaku yang selalu mengambil posisi di tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama. Moderasi mengajarkan untuk berpikir dan bertindak bijaksana, tidak fanatik serta mempertimbangkan pandangan keagamaan orang lain. Nilai-nilai ini sangat relevan dalam mengelola informasi dan menghindari berita bohong (hoax) dalam jurnalistik.

“Kita diberikan kebebasan dalam menulis apa yang kita lihat, namun kita memiliki batasan tertentu untuk tidak menyerang suatu individu,” ujar Ibu Aniek Handajani. Hal ini menunjukkan bahwa dalam Citizen Journalism, kebebasan berekspresi harus diimbangi dengan tanggung jawab untuk menjaga etika dan menghindari serangan pribadi. Bu Anik juga menekankan peran penting jurnalistik dalam mewujudkan kehidupan damai dan harmonis, menjaga keutuhan NKRI, serta mengelola informasi dengan bijak untuk menghindari berita bohong (hoax).

Sesi kedua disampaikan oleh Bapak Donny Maulana. Beliau merupakan seorang jurnalis dari salah satu media nasional, yaitu Suara Jatim Post. Pada sesi ini, beliau menyampaikan terkait Citizen Journalism. Berdasarkan pemaparan beliau, Citizen Journalism bukan merupakan suatu bentuk dari persaingan media, melainkan hal yang semakin memperluas media.

Citizen Journalism memberi warna baru dalam dunia media. Siapapun bisa menjadi seorang Citizen Journalist, namun Pak Donny juga menjelaskan bahwa “CJ” ini memiliki konsekuensinya tersendiri. Konsekuensinya terletak pada kelemahannya, yaitu informasi yang diberikan seringkali hanya sebagian, masih diragukan kebenarannya dan ada kemungkinan berita yang disebarluaskan adalah berita bohong (hoax). Saat ada berita hoax, pahami porsi berita, lalu buatlah berita dengan data dan fakta yang telah diriset sebagai bentuk konfirmasi.

Citizen Journalism memiliki perbedaan mendasar dengan jurnalisme profesional. Hasil dari Citizen Journalism hanya bisa dikategorikan sebagai sebuah karya, bukan sebagai produk jurnalistik yang diakui secara formal. Pak Donny menjelaskan bahwa dalam Citizen Journalism, tidak perlu membuat berita yang panjang; yang terpenting adalah berita tersebut mudah dicerna oleh khalayak umum. Dengan demikian, meskipun Citizen Journalism memberikan kebebasan dalam menulis, tetap perlu ada penekanan pada kualitas dan keterbacaan informasi yang disajikan.

Kelebihan Citizen Journalism antara lain berita lebih beragam, informasi lebih cepat, tanpa sensor, dan stimulus informasi. Sedangkan kekurangannya adalah akurasi data dan potensi hoax yang sangat tinggi. Perbedaan antara jurnalis profesional dan Citizen Journalist terletak pada tempat kerja mereka; jurnalis profesional bekerja di perusahaan media, sedangkan Citizen Journalist tidak memiliki perusahaan.

Pak Donny juga memberikan masukan tentang pengelolaan berita di pesantren. Pemberitaan harus memiliki klasifikasi yang jelas dengan masing-masing bagian memiliki button sendiri. Sebagai contoh, bagian News dapat mencakup sejarah, event, dan prestasi santri. Perbaikan tampilan atau packaging juga penting, idealnya dengan adanya struktur yang jelas seperti pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, editor, dan seterusnya untuk membentuk ekosistem yang baik dalam pengelolaan website.

Menjadi pewarta warga sebenarnya memiliki tantangan tersendiri karena tidak dilindungi oleh undang-undang pers. Jika terjadi sengketa, tidak ada perlindungan hukum yang sama seperti jurnalis profesional, sehingga terkadang tidak berpihak pada yang membawa kebenaran.

Acara ditutup pada pukul 11.30 WIB dengan melakukan sesi dokumentasi bersama. Setelah melakukan pelatihan, peserta diberi tugas sebagai bentuk review dari pelatihan citizen journalism ini. Dalam penyelesaian tugas ini, peserta diberi waktu selama dua minggu dan akan dikoreksi oleh para dosen yang menyelenggarakan pelatihan ini.