
Puasa, agar tidak hanya menahan lapar dan haus, maka seyogyanya setiap muslim mengetahui bagaimana cara memaknai puasa dengan benar. Terdapat perkara yang membatalkan puasa, terdapat juga perkara yang membatalkan pahala puasa tapi puasa tetap sah. Keduanya membatalkan puasa, namun yang kedua tidak perlu mengulang puasa (qodlo) tapi inilah yang justru merugikan. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa terdapat lima perkara yang membatalkan (pahala) puasa, diantaranya adalah menyebar hoax atau kabar bohong, ghibah, adu domba, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan sumpah dusta. Sabda Nabi Muhammad SAW
كم من صائم ليس له من صيامه الا الجوع والعطش
Artinya “Banyak orang puasa yang tidak dapat apa apa kecuali lapar dan dahaga.”
Umumnya, puasa adalah menahan haus dan lapar. Logika orang awam terkadang menyebutkan bahwasannya semakin haus dan lapar akan semakin besar pahala yang didapat. Dan semakin lama menahan lapar dan haus maka semakin utama nilai puasa tersebut. Tapi pemahaman yang sebenarnya bukanlah seperti itu, agama bukan menuruti logika awam. Agama adalah kepatuhan sepenuhnya kepada pembuat syariat dan pembawa syariat yakni Allah dan Rasulullaah. Tujuan sahur memanglah untuk mengisi amunisi tubuh selama berpuasa, namun ada yang lebih utama dari itu. Dalam hadist disebutkan:
تسحروا فان في السحور بركة
“Sahurlah kalian karena dalam sahur ada berkah”
Puasa di bulan Romadhon, merupakan sebuah kewajiban bagi umat Islam. Mengapa demikian? Mengapa Allah memerintahkan menahan lapar dan haus dengan diwajibkannya puasa Ramadhan? Hal ini disebabkan sumber segala kebahagian dan keberuntungan adalah takwa sedangkan sumber segala bencana, musibah, dan penderitaan di dunia dan akhirat adalah maksiat. Diantara sumber maksiat adalah syahwat dan setan. Syahwat bertempat di perut dan di bawah perut (farji/kelamin) sedangkan setan tempatnya di aliran darah. Oleh karena itu, untuk mengendalikan syahwat dan setan salah satunya dengan cara latihan lapar dan haus. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim dijelaskan:
ان الشيطان ليجري ﻣﻦ اﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﻣﺠﺮﻯ اﻟﺪﻡ ﻓﻀﻴﻘﻮا ﻣﺠﺎﺭﻳﻪ ﺑﺎﻟﺠﻮﻉ (متفق عليه)
“Setan itu menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah, maka sempitkanlah jalan setan dengan lapar.” (Muttafaqun alaih)
Bulan Ramadhan memang penuh rahmat dan ampunan dari Allah. Salah satu jalan mendapatkannya adalah dengan melaksanakan kewajiban di bulan ini, yakni puasa. Yang dimaksud bukan hanya sekedar tidak makan dan minum, namun lebih dari itu. Manusia harus mengetahui arti puasa yang sesungguhnya, agar tidak tergolong menjadi manusia yang merugi dan menyesal ketika sudah kembali ke Illahi Robbi. Imam Ibnu Jauzi berkata “Demi Allah, seandainya diperintahkan kepada orang yang sudah wafat untuk berandai-andai (seandainya mereka bisa hidup kembali ke dunia), mereka akan mengandai-andai satu hari di bulan Ramdhan.”
Ramadhan menjadi bulan untuk membiasakan diri melakukan kebaikan di seluruh hari, tujuannya adalah di bulan setelah Ramdhan kebaikan tersebut tetap dilakukan, tidak hanya terhenti ketika Ramdhan berakhir. Dan jangan sampai Ramadhan sengaja mempercepat diri untuk berakhir, karena risih melihat tingkah umat Islam yang tak tahu cara menyambutnya.
Penulis: Iva Himmatul Aliyah
Referensi
Nu Online. Motif Puasa Umat Yahudi, Kristen, dan Islam. https://www.nu.or.id/opini/motif-puasa-umat-yahudi-kristen-dan-islam-Qhc7q
