Site icon Pesantren Luhur

Haul ke-13 Prof. Dr. Kyai H. Ahmad Muchdlor, S.H. : Meneladani Sang Murabbi, Mewujudkan Jiwa Tangguh Berkarakter 3M

Keluarga besar Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang menggelar Puncak Acara Haul ke-13 Prof. Dr. Kyai H. Ahmad Muchdlor, S.H. dan para Muassis pesantren, pada Sabtu, 18 Juli 2026. Acara yang dipandu oleh Ahmad Ilham Prayogi ini dihadiri oleh Ibu Nyai Hj. Utin Nurul Hidayati dan Gus Muhammad Danial Farafis selaku Ketua Yayasan.

Serta dihadiri beberapa tamu undangan, Walikota Malang yang diwakili oleh Bapak Sholeh, AKP Lubis Ibroril Chosam (Wakasat Intelkam Polresta Malang Kota), KH. M. Syifa’ Malik M.Pd.I (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Maliki 2 di kompleks PP. Bahrul Ulum Tambakberas), Drg. Illy Koesnoe Yoediono (Putri Prof. Dr. Mr. Moh Koesnoe, S.H.), H. Bambang Eko Muljono, S.H., S.Pn., M.Hum., M.M. (Ketua Yayasan Unisla), dan Prof. Dr. H. A. Muhtadi Ridwan, M.Ag.

Rangkaian acara dibuka oleh pembawa acara pukul 18.00 WIB, didahului dengan pengondisian tamu dan pemutaran shalawat sebagai pengantar suasana. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan oleh Ustadz Zakariya, sebelum memasuki inti acara berupa pembacaan tahlil dan istighosah yang dipimpin oleh Ustadz Fakhrurrozi selaku imam tahlil.

Mengenang Jejak Sang Guru

Gambar 1. Sambutan oleh Gus Muhammad Danial Farafish, S.H., S.Hum., M.Ag selaku pengasuh LTPLM

Momen haul turut diisi dengan rangkaian sambutan dari beberapa pihak, sambutan pertama disampaikan oleh Gus Muhammad Danial Farafis selaku Ketua Yayasan. Dalam sambutannya, beliau menceritakan kembali jalur perjuangan dan sanad keilmuan yang membentuk sosok pendiri pesantren, mulai dari bimbingan Abah hingga jaringan ulama Jawa Timur yang mengantarkannya mendirikan sejumlah kampus di wilayah tersebut. Beliau menegaskan makna di balik peringatan haul ini, “Sudah menjadi sebuah sunnatullah, hukum alam, bahwa perwujudan kecintaan kepada manusia lain yaitu berjuang untuk manusia lain akan melahirkan kepribadian yang utama wujud dari pada kecintaan kepada Allah SWT. Oleh karena itu yang terjadi pada guru kami ini, kami merayakan Haul yang ke-13 hanya untuk mengenang beliau karena perjuangannya” ujar beliau.

Sambutan Pemerintah Kota Malang

Gambar 2. Sambutan oleh Bapak Sholeh yang Mewakili Wali Kota Malang

Mewakili Wali Kota Malang yang berhalangan hadir, Bapak Sholeh menyampaikan sambutan sekaligus doa bagi seluruh hadirin. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan makna haul dengan kalimat yang menyentuh. “Haul bukan sekadar hitungan waktu, melainkan jembatan cinta antara yang masih berjalan dan yang telah sampai tujuan… Hari ini kita tidak sekadar mengenang nama, tapi menyebutnya di dalam doa dan tahlil, tidak sekadar mengingat jasad, tetapi menghidupkan kembali akhlak dan keteladanannya.” Tegas beliau

Kesan Santri Angkatan Pertama

Gambar 3. Sambutan Kyai H. M. Syifa’ Malik M.Pd.I, Selaku Santri Pertama Abah

Kesan mendalam disampaikan oleh Kyai H. M. Syifa’ Malik M.Pd.I, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Maliki 2 di kompleks PP. Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, yang merupakan santri angkatan pertama Pesantren Luhur Malang. Beliau mengenang awal mula berdirinya pesantren pada tahun 1996 bersama sekitar 17 santri pertama, dan yang menjadi salah satu kenangan paling membekas bagi beliau adalah momen menjelang reformasi 1998, ketika Abah mengajak para santri menjalani riyadhoh dan puasa selama 40 hari. “Beliau itu mengajak kami para santri riyadhoh, besok puasa berapa hari? Empat puluh hari… Ternyata setelah empat puluh hari puasa, di akhir istighosahnya beliau menyampaikan bahwa beberapa hari lagi akan terjadi peristiwa besar. Kami baru tahu, ternyata itu adalah meletusnya reformasi.” Cerita beliau.

Testimoni: Sosok Ulama yang Multi-Talenta

Gambar 4. Testimoni oleh Prof. Dr. Kyai H. Muhtadi Ridwan, Dosen Senior UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Testimoni disampaikan oleh Prof. Dr. Kyai H. Muhtadi Ridwan, akademisi senior UIN Malang yang mengaku mengenal sosok yang dihaul sejak akhir tahun 1994. Dalam kesaksiannya, beliau mengenang keterlibatan Abah dalam merintis sejumlah lembaga pendidikan tinggi, termasuk Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang. “Saya sebetulnya kenal beliau sejak akhir tahun 1994… Beliau ini sangat luar biasa. Ulama beneran, ilmunya banyak, multi-talenta.” Ujar beliau. Beliau menutup testimoninya dengan mendoakan agar segala amal dan jariyah sang guru diterima di sisi Allah SWT. “Beliau ini adalah piantun yang baik, piantun yang taat beragama, taat ibadah, termasuk juga punya banyak atsar, banyak warisan.” Puji beliau.

Mauidhoh Hasanah: Pesan untuk Tetap Menjaga Pesantren

Gambar 5. Mauidhoh Hasanah oleh Dr. Kyai H. Suwandi, M.H. Ketua Dewan Kyai Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

Puncak acara ditutup dengan mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh Dr. Kyai H. Suwandi, M.H. Ketua Dewan Kyai Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Dalam mauidhohnya, beliau mengajak para santri untuk meyakini bahwa Al-Maghfurlah adalah sosok yang saleh, sekaligus mengingatkan pesan terakhir sang kiai kepada para pengajar pesantren, yakni, “Nanti kalau saya meninggal, jangan meninggalkan pesantren luhur nggeh, sampean yang meneruskan.” Beliau juga mengajak seluruh santri untuk terus mendoakan dan meneladani perjuangan sang guru. “Ketika kita sudah meyakini bahwa Abah Muchdlor itu orang yang sholeh cukup sekarang itu kita tinggal berusa keras mencari ilmu, ngaji, dan lain sebagainya, belajar tinggal mudah-mudahan berkah dari Abah Muchdlor disampaikan oleh Allah kepada kita sekalian. Aamin aamiin ya Robbal Alamin” Tutup beliau.

Penutup
Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin secara bergantian oleh Dr. Kyai H. Fakhrur Rozi, Prof. Dr. H. A. Muhtadi Ridwan, M.Ag., dan diakhiri oleh Dr. Kyai H. Suwandi, M.H. sebelum ditutup dengan sesi ramah tamah antara Dewan Kiai, tamu undangan, dan para Ahlul Ma’had dan alumni.

Peringatan Haul ke-13 ini menjadi momentum bagi keluarga besar Pesantren Luhur Malang untuk terus mengenang jasa dan keteladanan Prof. Dr. Kyai H. Ahmad Muchdlor, S.H., mempererat silaturahmi antar-alumni, sekaligus meneguhkan semangat “menjaga pesantren” sebagaimana pesan terakhir beliau.

Exit mobile version