Abah Mudlor : Tiga Peran dalam Satu Sosok Guru yang Mulia

4
64

Sebagai makhluk sosial, naluri manusia tentunya ingin menjadi pribadi yang berorientasi pada “pemenuhan pribadi”, sosial atau kombinasi orientasi lain seperti religious-sosialis. Seperti halnya Abah Mudlor yang merupakan pendiri Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, beliau merupakan sosok yang berorientasi pada religius-sosialis. Hal tersebut terlihat dari perjuangan beliau dalam menimba ilmu menjadikan tidak hanya satu posisi dan profesi yang harus dipegang. Abah Mudlor menjadi pribadi yang memiliki tiga peran sekaligus yaitu sebagai pengasuh pesantren, guru (dosen), dan juga menjabat sebagai rektor. Adanya tiga peran tersebut tidak membuat beliau lalai dan tentunya tetap menjalankan tugasnya dengan profesionalitas.

Namun jika ditanya manakah yang menjadi prioritas antara tiga peran tersebut. Abah Mudlor selalu menjawab bahwa ketiganya menempati prioritas pertama. Abah Mudlor mengawali dengan memancing penulis untuk cermat menyerap dari analog cerita pribadi yang dituturkan. Tiga momen penting dilubangnya masing masing terjadi pada saat bersamaan. Pertama waktu itu Abah Mudlor diundang menjadi wali di pernikahan familinya di Solo. Kedua, tugas beliau sebagai rektor menuntut beliau datang menghadiri rapat akreditasi beberapa fakultas dengan deadline mendesak dari pihak Badan Akreditasi Nasional. Ketiga, di pesantren yang beliau pimpin yaitu Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang sedang diadakan perayaan milad. Abah Mudlor dengan pertimbangan perjuangan sekaligus sebagai pihak tuan rumah, memilih milad Pesantren Luhur sebab efek perjuangan yang kental melekat padanya.

Kenapa prioritas perjuangan menjadi sedemikian penting? Abah Mudlor menyampaikan salah satu dalil Al-Qur’an yang tertuang dalam potongan ayat yang berbunyi :

Wa jaahidu fii sabilillahi biamwaalihim wa anfusihim fii sabiilillah

Dalil tersebut menjadi salah satu cambuk spirit beliau dalam berjuang yang tidak hanya berkontribusi melalui tenaga tapi juga dengan materi.

Dilihat dari kisah tersebut, Abah Mudlor merupakan sosok guru yang tegas dalam menentukan prioritas. Meskipun sudah menjadi orang yang terpandang, beliau tetap tidak lupa siapa sebenarnya diri beliau yang merupakan seorang guru. Beliau tidak lupa dari mana asal usul beliau, dimana asal beliau ditempa untuk berjuang, yaitu Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Kisah tersebut tentunya menjadi pelajaran bagi umum dan khususnya bagi santriwan dan santriwati pesantren Luhur, setinggi apapun jabatan, sesukses apapun impian jangan sampai lupa dari mana asal usul perjuangan dimulai.(Nly)